Media sosial kembali diramaikan oleh sebuah potongan video lawas yang memperlihatkan Presiden Soeharto menyampaikan pidato pada peringatan Hari Guru Nasional tahun 1996. Video itu kembali viral karena cuplikan pesannya dianggap masih relate.
Dalam video tersebut, Presiden Soeharto yang baru akan membuka pidatonya meminta hadirin untuk berdiri. Dengan gaya soft spoken, presiden kedua RI yang akrab disapa Pak Harto tersebut meminta tamu yang hadir untuk menjaga keheningan.
Bahkan beliau berkelakar kalau boleh saya berbicara, tapi mulutnya tidak boleh dibuka. Sontak gaya komunikasi yang sarat guyonan santai ini membuat semua orang tertawa. Namun, anehnya, semua langsung tertib menjaga keheningan selama Pak Harto berpidato.
Pesan Moral yang Relate Hingga Sekarang
Di tengah banyaknya acara seremonial saat ini, baik upacara, apel, kegiatan sekolah, hingga event pemerintahan, kondisi “ramai sendiri”, tidak fokus, atau tidak menghormati jalannya acara sudah sering menjadi perhatian publik.
Maka, tidak heran jika video lawas tersebut, yang kembali diunggah di momen serupa pada peringatan Haru Guru Nasional, menuai sorotan netizen karena mengandung pesan moral yang relate hingga sekarang.
Dalam video yang sedang beredar, Presiden Soeharto menekankan satu hal mendasar di mana suasana hening adalah syarat utama agar sebuah peringatan dapat berlangsung dengan baik dan penuh makna.
Lewat guyon pembuka pidato, Pak Harto seolah ingin menegaskan kalau suasana khidmat baru bisa tercipta jika peserta acara menjaga ketertiban. Suasana hening adalah bentuk penghormatan dan ketenangan menunjukkan sikap siap menerima pesan yang disampaikan.
Walaupun pesan itu disampaikan hampir tiga dekade lalu, netizen menilai bahwa maknanya justru semakin relevan. Banyak netizen menyoroti bahwa saat ini terlalu banyak acara yang terganggu oleh suara bising, peserta yang tidak memperhatikan, atau perilaku yang kurang menghormati jalannya peringatan resmi.
Pesan Lawas Kembali Dianggap Penting, Mengapa?
Pesan lawas kembali dianggap penting dan bahkan masih relevan di era modern ini menjadi ruang introspeksi diri untuk generasi muda. Terlebih pada generasi yang dekat dengan digitalisasi, gawai yang bak “pacar kedua” sering kali bikin fokus terpecah di momen seremonial.
Pada masa kini, hampir semua peserta acara membawa ponsel. Kondisi ini sering menimbulkan suara notifikasi, peserta sibuk merekam, atau bahkan mengobrol sendiri. Akhirnya suasana formal mudah berubah menjadi gaduh.
Perilaku menjaga keheningan demi acara tetap khidmat sebenarnya juga jadi bentuk penghormatan, terlebih jika momen seremonial ini ditujukan untuk even penting seperti peringatan Hari Guru Nasional.
Bukan hanya seremoni lalu pulang, jalannya acara juga wajib dihormati. Pesan ini melekat kuat dari potongan video pidato Pak Harto yang menjadi bukti penerapan sikap disiplin yang diajarkan guru di sekolah.
Esensi Keheningan dalam Acara Resmi
Hening bukan sekadar “tidak berbicara”, tapi juga menjadi tanda penghormatan, kesiapan menerima pesan, dan kesadaran bahwa ada momen penting yang harus dihargai bersama.
Dalam konteks Hari Guru, suasana hening dan tertib berarti kita menghargai perjuangan guru yang sering mengorbankan waktu, energi, serta kesabaran untuk mendidik generasi berikutnya.
Jadi, rasanya tidak berlebihan kalau banyak netizen berkomentar video jadul pidato Pak Harto tadi memiliki pesan yang masih sangat modern. Mengapa? Budaya dan kondisi sosial saat ini jadi alasan besarnya.
Di era digital, kecenderungan konsentrasi pendek di sebuah acara membuat perhatian tidak penuh hingga suasana “guyon”, berbicara sendiri, atau tidak fokus menjadi hal biasa. Video ini memberi tamparan bahwa kedisiplinan kecil seperti hening saat pidato sudah menjadi barang langka.
Netizen juga menilai bahwa pesan Pak Harti terasa tegas namun tetap halus. Tidak menggurui, tapi jelas maksudnya. Hal inilah yang membuat video tersebut terasa “menyentil”, mengingatkan tanpa harus marah-marah.
Di tengah budaya digital yang serba cepat dan penuh distraksi, pesan itu terasa seperti pengingat keras bahwa menghargai itu sederhana, cukup diam sejenak dan fokus.
Baca Juga
-
Bukan Touchscreen atau Chromebook, Guru Cuma Butuh 3 Hal Ini untuk Mendidik
-
Serba-serbi Momen Hari Guru: Disentil Netizen sebagai Hari Wali Kelas
-
Nasib Apri/Fadia dan Lanny/Tiwi Dipertimbangkan Pelatih, Potensi Dirombak?
-
Syed Modi India Internasional 2025: PBSI Ungkap Alasan Mundur Prifad dan Bagas
-
Hari Guru Nasional 2025: Hukuman Fisik di Sekolah Disorot, Publik Sentil Pendidikan Etika
Artikel Terkait
-
Serba-serbi Momen Hari Guru: Disentil Netizen sebagai Hari Wali Kelas
-
Siapa Kinara Arnhantyo? Konten Kreator Cilik yang Berani Komentari Bahasa Inggris Gibran
-
Hari Guru Nasional 2025: Hukuman Fisik di Sekolah Disorot, Publik Sentil Pendidikan Etika
-
Refleksi Hari Guru: Euforia Perayaan, Beban Tugas, hingga Polemik Hukuman
-
25 November Punya Dua Penanda, Guru dan Keberanian Perempuan
Kolom
-
Bukan Touchscreen atau Chromebook, Guru Cuma Butuh 3 Hal Ini untuk Mendidik
-
Di Balik Penyesalan Menkes, Ada PR Besar Layanan Kesehatan Papua
-
Viral Kasus Tumbler Tuku: Benarkah Ini Gara-Gara Tren Hydration Culture?
-
Ricuh Suporter Bola hingga War Kpopers, Saat Hobi Tak Lagi Terasa Nyaman
-
Budaya Titip Absen: PR Besar Guru Bagi Pendidikan Bangsa
Terkini
-
5 Tanda Teman Kamu Quiet Quitting dan Cara Menyikapinya
-
5 K-Drama Romcom Perkantoran yang Kocak dan Bikin Baper, Ada Dynamite Kiss!
-
Klarifikasi Gelang Couple, Insanul Fahmi Beberkan Awal Kenal Inara Rusli
-
Ulasan Novel Pusaka Candra: Kisah Politik, Mitos, dan Cinta Keraton Abad 17
-
4 Sunscreen Vitamin C Non-Comedogenic untuk Kulit Cerah Tanpa Clogged Pores