Ada yang menarik atau mungkin ironis dari berita minggu lalu, Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, meresmikan lapangan padel di halaman kantor DPP Golkar, Jakarta. Catnya kuning cerah, namanya keren, Yellow Racquet Club. Dan konon, menurut Bahlil, lapangan itu “dibuka untuk umum dengan harga diskon.”
Lalu ia menambahkan dengan kelakar yang jadi sorotan, “Syaratnya satu: masuk Golkar.”
Tentu saja, semua orang tertawa. Tapi sobat Yoursay, di negeri yang sudah terlalu sering disuguhi humor politik semacam ini, rasanya kita sudah tahu kalau yang paling lucu dari semua lelucon politik adalah betapa seriusnya dampak di baliknya.
Kalimat “dibuka untuk umum” terdengar manis di telinga. Tapi “umum” yang mana, sebenarnya? Apakah rakyat biasa yang tiap hari berdesakan di KRL dan memutar otak buat bayar kontrakan? Atau “umum” versi Golkar, yang artinya orang-orang yang cukup mampu menyewa lapangan padel dan punya waktu luang untuk bersosialisasi di halaman partai politik?
Padel, sobat Yoursay, bukan olahraga murah. Sekali main bisa ratusan ribu. Bolanya bukan dari warung sebelah, raketnya bukan dari toko olahraga biasa.
Lalu, apa maknanya ketika partai politik tertua di negeri ini membangun lapangan padel di kantornya? Apakah ini simbol modernisasi partai, atau sekadar cara lama untuk memoles citra dengan gaya baru?
Nama Bahlil Lahadalia bukan nama asing dalam percaturan kekuasaan. Ia adalah politisi, birokrat yang gesit, pengusaha yang lihai, dan kini ketua partai yang ingin tampak dekat dengan anak muda.
Tapi, ironisnya, publik sudah cukup lama mengenal Bahlil bukan karena kedekatannya dengan rakyat, melainkan karena kebijakan-kebijakan yang lebih sering memihak pemodal besar ketimbang masyarakat kecil.
Ingat ketika ia masih menjabat Menteri Investasi? Ia dengan lantang membela investasi tambang, proyek IKN, dan kebijakan yang disebutnya sebagai jalan cepat menuju kemajuan.
Tapi nyatanya, banyak warga yang justru tergusur dari tanahnya, banyak hutan yang hilang atas nama pembangunan, dan banyak masyarakat adat yang suaranya ditenggelamkan di balik jargon investasi untuk rakyat.
Bahlil bahkan pernah menyindir aktivis dan akademisi yang menolak proyek IKN, dengan kalimat yang terdengar angkuh, “Kalau cuma pintar ngomong tapi tak bisa kasih solusi, lebih baik diam.”
Dan kini, orang yang dulu dikenal dengan gaya bicara keras dan kebijakan pro-pengusaha itu, mendirikan lapangan olahraga di kantor partai dan menyebutnya untuk umum. Bukankah ini semacam ironi yang sempurna?
Sobat Yoursay, politik di Indonesia sepertinya sedang berada di fase branding baru.
Jika dulu politisi mencoba tampil religius, kini mereka beralih jadi influencer. Ada yang menari di TikTok, ada yang ikut balapan motor, dan kini… ada yang main padel. Mereka seolah ingin bilang, “Kami juga keren kok, kami juga muda, kami juga tahu tren.”
Tapi tren tidak sama dengan kepekaan sosial. Karena di saat para elit berpose di lapangan padel, jutaan rakyat di luar pagar kantor itu sedang berjuang menahan napas menghadapi harga beras dan BBM yang tak kunjung stabil.
Apakah Golkar, partai yang pernah menjadi simbol kekuasaan Orde Baru, kini mencoba rebranding jadi partai anak muda? Mungkin iya.
Tapi apakah cara ini efektif? Sulit rasanya percaya bahwa membangun lapangan olahraga elit bisa memperbaiki citra partai yang sejarahnya penuh dengan noda kekuasaan.
Yang menarik, langkah ini diinisiasi oleh Dito Ariotedjo, mantan Menpora yang dikenal dekat dengan kalangan selebriti dan influencer. Dito mungkin ingin membawa sentuhan gaya hidup ke politik, mulai dari olahraga, networking, hingga konten Instagrammable.
Dan tentu, tidak salah. Politik butuh sentuhan segar. Tapi apa makna segarnya kalau masih dibungkus dengan cara berpikir lama, eksklusif, simbolik, dan jauh dari realitas rakyat?
Politik seharusnya bukan tentang siapa yang punya lapangan paling bagus, tapi siapa yang benar-benar mau turun ke lapangan kehidupan rakyat yang becek, sempit, dan tanpa sorotan kamera.
Bahlil mungkin bangga dengan proyek padelnya. Tapi bagi sebagian besar publik, ini justru menegaskan bahwa para elit makin sibuk menciptakan ruang nyaman untuk diri mereka sendiri, sementara rakyat makin sulit sekadar punya ruang hidup yang layak.
Baca Juga
-
Dilema Proyek Pelat Merah: Rezeki Nomplok atau Jebakan Batman bagi Kreator?
-
Menghindari 'Lautan Manusia': Strategi Liburan Lebaran Tanpa Emosi
-
Drama Sekolah Daring April 2026: Kebijakan Bijak atau Sekadar Tes Ombak?
-
Jebakan 'Aji Mumpung' Lebaran: Saat Harga Ikan Bakar Setara Fine Dining
-
Rutan Kosong, Rumah Penuh: Akankah Status Tahanan Rumah Jadi Tren Pejabat?
Artikel Terkait
-
Bukan Main! Raffi Ahmad Boyong 3 Legenda Sepak Bola Dunia Adu Padel di Jakarta
-
Ariel NOAH: Mau Sama Siapa Aja Pasangannya, Gak Masalah
-
Pendapatan Negara Seret, Bahlil Pertimbangkan Segera Buka Lagi Freeport
-
Bahlil Tunjuk Tim Baru BPH Migas untuk Pelototi Penyaluran BBM Subsidi
-
Kulit Sehat Bukan Cuma dari Skincare, tapi Juga Gaya Hidup Aktif
Kolom
-
Kota Pelajar dengan Gaji Satu Jutaan: Potret Pekerja di Kota Malang
-
Gen Z Tidak Kurang Dukungan Hanya Kecanduan Pengakuan, Benarkah?
-
Work From Home, Krisis Energi, dan Mimpi Besar Swasembada yang Belum Tuntas
-
Ibadah Haji 2026: Antara Panggilan Ilahi dan Bayang-Bayang Konflik Geopolitik
-
Ide Dihargai Nol Rupiah: Ironi Kreativitas dalam Kasus Amsal Sitepu
Terkini
-
5 Rekomendasi Drama Korea tentang Realitas di Balik Industri Hiburan
-
Sinopsis Northern Wei Dynasty, Drama China Terbaru Yang Mi dan Liu Xue Yi
-
3 Rekomendasi HP Lipat dengan Harga Lebih Bersahabat di Pasar Indonesia
-
Novel Titipan Kilat Penyihir: Kisah Penyihir Muda yang Mencari Jati Diri
-
Rupiah Tembus Rp17.000 per Dolar AS: Apakah Ini Saatnya Panik atau Investasi?