Kita hidup di era yang disebut modern, di mana perempuan bisa menempuh pendidikan setinggi langit, berkarier di ruang-ruang strategis, bahkan memimpin perusahaan atau lembaga negara.
Tapi ironisnya, semakin tinggi pendidikan perempuan, semakin besar pula tantangan sosial yang harus mereka hadapi. Kecerdasan perempuan, yang seharusnya menjadi kebanggaan, justru sering dianggap sebagai ancaman.
Perempuan yang berpendidikan tinggi kerap dilihat “berlebihan”. Mereka dicap terlalu mandiri, terlalu keras kepala, atau bahkan terlalu ambisius.
Di ruang publik, mereka dikagumi karena prestasinya, tapi di ruang privat, mereka dihakimi karena dianggap tak sesuai dengan “kodrat”. Masyarakat memuji perempuan yang cerdas, tapi dalam napas yang sama juga berbisik: “Siapa yang mau menikahi perempuan seperti itu?”
Paradoks ini menunjukkan bahwa kita belum benar-benar menerima kesetaraan gender. Kita mendorong perempuan untuk belajar, tapi menuntut mereka tetap “tahu tempatnya”.
Mereka boleh jadi sarjana, doktor, atau profesor, asal tetap ingat dapur dan ranjang. Begitu perempuan melangkah terlalu jauh dari peran tradisional, ia dianggap melanggar garis yang tak kasat mata: batas antara perempuan yang “ideal” dan perempuan yang “melawan”.
Padahal, pendidikan sejatinya bukan sekadar soal gelar atau karier. Pendidikan adalah proses membangun pola pikir, melatih kemandirian, dan membuka ruang bagi seseorang untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.
Ketika perempuan mendapat pendidikan yang baik, mereka tidak hanya memperkaya diri, tapi juga memperkuat tatanan sosial dan keluarga. Perempuan terdidik akan melahirkan generasi yang lebih kritis, rasional, dan toleran.
Namun, di masyarakat kita, perempuan yang berani berpikir dan bersuara sering kali dianggap melanggar norma. Ketika seorang perempuan berbicara lantang dalam rapat, ia disebut “galak”.
Ketika ia menolak pernikahan dini, ia dibilang “terlalu pemilih”. Ketika ia memutuskan untuk fokus pada karier, ia dicap “egois”. Dan yang paling ironis, ketika ia sukses di bidang akademik atau profesional, justru muncul komentar sinis bahwa ia “terlalu pintar untuk dinikahi”.
Stigma semacam ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih memandang kecerdasan perempuan dengan kacamata patriarkis. Kecerdasan dianggap mengganggu tatanan lama yang menempatkan perempuan di posisi subordinat.
Maka, untuk “aman”, banyak perempuan memilih menahan diri: tidak terlalu menonjol, tidak terlalu vokal, dan tidak terlalu ambisius. Mereka belajar untuk berprestasi tanpa terlihat menantang.
Tetapi sampai kapan perempuan harus mengecilkan diri hanya agar diterima? Apakah perempuan harus berpura-pura tidak sepintar itu demi kenyamanan sosial? Pertanyaan-pertanyaan ini penting, karena pendidikan yang sejati seharusnya membebaskan, bukan membelenggu.
Sudah saatnya kita mengubah cara pandang. Perempuan terpelajar bukan ancaman bagi laki-laki, melainkan mitra dalam membangun kehidupan yang lebih seimbang dan beradab.
Dunia yang adil tidak dibangun oleh satu gender saja. Masyarakat yang sehat justru membutuhkan perempuan yang berpikir kritis, berani berpendapat, dan mampu mengambil keputusan penting.
Kita juga perlu memahami bahwa pendidikan perempuan bukan hanya investasi individu, tapi juga investasi bangsa. Negara yang meminggirkan perempuan terdidik sama saja menghambat kemajuan dirinya sendiri. Karena di tangan perempuanlah nilai-nilai kemanusiaan, empati, dan keadilan ditanamkan sejak dini.
Sudah cukup lama perempuan disuruh memilih antara karier dan keluarga, antara mimpi dan norma, antara otak dan hati. Padahal, pilihan itu tidak pernah diberikan pada laki-laki. Pendidikan seharusnya membuka ruang untuk memilih dengan sadar, tanpa rasa bersalah.
Perempuan cerdas tidak butuh izin untuk menjadi dirinya sendiri. Mereka bukan masalah yang harus “dijinakkan”, melainkan kekuatan yang perlu diakui. Dunia tidak akan runtuh karena perempuan berpikir, tapi justru akan tumbuh lebih baik karena mereka ikut berpikir.
Jadi, mungkin sudah waktunya kita berhenti takut pada kecerdasan perempuan, dan mulai takut pada ketidaksiapan kita menghargainya.
Baca Juga
-
Pendidikan Tanpa Ketegasan: Dilema Jadi Guru di Zaman Mudah Tersinggung
-
Judi Online: Hiburan Murah yang Membuat Hidup Jadi Mahal
-
Bekerja Tanpa Karier: Ketika Naik Jabatan Tak Lagi Menggoda
-
Healing ke Mana-mana, Pulang-pulang Tetap Ingin Resign
-
Kerja Sosial: Saat Negara Mulai Kapok Memenjarakan Semua Orang
Artikel Terkait
-
30 Ucapan Hari Ayah dari Anak Perempuan dalam Bahasa Inggris, Cocok untuk Caption Instagram
-
Kesehatan Perempuan dan Bayi jadi Kunci Masa Depan yang Lebih Terjamin
-
Saat Ibu Rumah Tangga Bertani: Cerita Keteguhan Perempuan KWT Sumber Rejeki
-
Komnas Perempuan Usulkan Empat Tokoh Wanita Jadi Pahlawan Nasional
-
Hanya 8 Persen Perempuan Jadi Pahlawan Nasional, Komnas Perempuan Kritik Pemerintah Bias Sejarah
Kolom
-
Relawan Pesta Adat: Jerih Lelah yang Tidak Dibayar Demi Martabat Keluarga
-
Gentengisasi: Solusi Hunian Rakyat atau Sekadar Wacana?
-
Mengapa Peringkat IQ Bukan Tolok Ukur Utama Kesuksesan Bangsa?
-
Viral Diskusi Buku Jelek di X: Bisakah Selera Diadili?
-
Saat Kehilangan Tak Lagi Menakutkan: Kehadiran dalam Sebuah Kepergian
Terkini
-
4 Mix & Match OOTD Minimalis ala Chanyeol EXO, Buat Daily Look Lebih Keren!
-
Ditinggal 4 Member, ZEROBASEONE Lanjutkan Aktivitas dengan 5 Orang Anggota
-
Bisikan di Balik Pusara
-
FIFA Series 2026 Berlangsung di SUGBK, Timnas Indonesia Banjir Dukungan?
-
Duet Maut Member IVE: Gaeul dan Rei Terpilih Jadi MC M Countdown