Perbincangan tentang dunia kerja kini tidak lagi sebatas soal disiplin dan loyalitas. Hal-hal yang dulu dianggap wajar, kini mulai dipertanyakan.
Pernahkah kamu merasa beban kerja terus bertambah, sementara upah berjalan di tempat? Situasi seperti ini dulu sering dianggap wajar dan jarang dipersoalkan.
Upah yang tidak sebanding dengan beban kerja, relasi atasan yang tidak sehat, hingga tekanan terhadap kesehatan mental mulai dibicarakan secara terbuka. Isu-isu tersebut tidak lagi dipandang sebagai keluhan pribadi semata.
Sebagian pihak menilai sikap ini sebagai bentuk ketidakmampuan menghadapi kerasnya tuntutan kerja. Namun, bagi yang bersuara, hal itu justru dimaknai sebagai upaya menjaga batas yang manusiawi.
Perbedaan cara pandang inilah yang memunculkan gesekan di tengah perubahan pola kerja. Di antara kekuatan untuk bertahan dan keberanian untuk menolak, dunia kerja sedang berada pada persimpangan nilai.
Perbedaan sudut pandang ini kerap dibaca sebagai benturan antara generasi lama dan generasi baru di dunia kerja. Yang satu tumbuh dengan nilai bertahan dalam kondisi apa pun, sementara yang satunya lagi dibesarkan dengan kesadaran akan batas diri.
Bagi generasi lama, bekerja keras sering dimaknai sebagai kesediaan untuk menekan kepentingan pribadi. Sementara bagi generasi baru, bekerja keras tidak seharusnya mengorbankan kesehatan mental dan martabat sebagai manusia.
Cara pandang yang berbeda ini membuat respons terhadap masalah di tempat kerja juga berbeda. Ketika generasi baru memilih bersuara, generasi lama kerap melihatnya sebagai bentuk ketidaksiapan menghadapi tekanan.
Label “lemah” pun sering kali muncul sebagai penanda perbedaan nilai di antara dua generasi tersebut. Padahal, yang dipersoalkan adalah batas-batas yang dianggap wajar dan manusiawi, sebuah pergeseran dari sekadar mengukur daya tahan.
Di titik ini, dunia kerja menghadapi perubahan pola bekerja sekaligus perubahan cara memaknai ketahanan itu sendiri. Benturan generasi pun menjadi cermin dari perubahan nilai yang sedang berlangsung.
Perubahan cara pandang ini kerap dianggap sebagai ancaman bagi stabilitas dunia kerja. Di sisi lain, perubahan ini juga bisa dibaca sebagai upaya menyesuaikan diri dengan kebutuhan manusia yang terus berkembang.
Tuntutan produktivitas di dunia kerja semestinya berjalan beriringan dengan penciptaan ruang yang aman dan adil bagi penghuninya. Keduanya dapat saling mendukung.
Di tengah perbedaan nilai yang masih terus bernegosiasi, dialog menjadi kunci agar perubahan tidak berubah menjadi konflik berkepanjangan. Dunia kerja sedang bergerak, dan pergeseran ini tinggal menunggu apakah akan diterima sebagai ancaman atau sebagai bagian dari proses perbaikan.
Baca Juga
-
Tanam Mangrove dan Berkarya, Kolaborasi Seniman dan Penulis di Pantai Baros
-
4 Rekomendasi Social Space di Jogja untuk Nongkrong dan Diskusi Santai
-
Lagu Digunakan Tanpa Izin, Band Wijaya 80 Laporkan Pelanggaran Hak Cipta
-
Menunggu Hari Perempuan Bisa Benar-Benar Aman dan Nyaman di Konser Musik
-
Diduga Selingkuh Lagi, Jennifer Coppen Singgung Sosok Jule di Live
Artikel Terkait
-
UMP 2026 Terancam Turun? KSPSI Mendesak Pemerintah Buka Formula dan Pastikan Kenaikan Upah
-
Di Balik Gap Usia: Saat Roasting Antar Generasi Dinormalisasi
-
Bullying: Beda Sikap Guru Antar Generasi vs Pendekatan Pendidikan Modern
-
9 Manfaat Jalan-Jalan di Alam Terbuka untuk Kesehatan Mental dan Kualitas Tidur
-
Viral BSU Cair Rp 600.000 Dibayar Sekaligus Tahun 2025, Cek Faktanya
Kolom
-
Kesepian Kolektif di Era Konektivitas: Banyak Teman, Minim Kelekatan
-
HP Bukan Sekadar Alat Komunikasi: Peran Smartphone dalam Gaya Hidup Modern
-
Hidup dalam Mode Bertahan: Realita Banyak Orang Dewasa Hari Ini
-
Negara Bisa Sat-Set: Menggugat Kecepatan Selektif Antara Gizi dan Guru
-
Pola Cinta NPD di Broken Strings: Love Bombing hingga Jeratan Trauma Bonding
Terkini
-
Membaca Adalah Olahraga Otak: Cara Alami Tingkatkan Daya Ingat dan Fokus
-
Maskeran Pakai Bubble Mask? Ini 5 Pilihan Biar Wajah Auto Glowing
-
Sinopsis Museum of Innocence, Kisah Obsesi dan Cinta yang Tayang Februari 2026
-
Usai Diterpa Rentetan Kontroversi, Jule Ungkap Ingin Jadi Diri Sendiri?
-
Mengenal Non-Apology Apology: Analisis Permintaan Maaf Azkiave yang Tuai Kritik.