Baru-baru ini, X atau Twitter diramaikan oleh sebuah diskusi yang cukup menarik. Semua bermula dari satu tweet tentang buku jelek dan alasan mengapa sebaiknya dihindari. Alasannya terdengar masuk akal, yaitu karena uang dan waktu adalah sesuatu yang terbatas. Jadi, mengapa harus dihabiskan untuk buku yang dianggap tidak berkualitas?
Lalu, muncul satu komentar singkat yang justru memantik percakapan lebih besar: “Minta contoh buku jelek.”
Sejak itu, timeline berubah ramai. Warganet mulai berbondong-bondong menyebutkan judul buku dan novel yang menurut mereka tidak layak dibaca. Ada yang menyertakan alasan detail. Ada yang sekadar menyebut judul tanpa penjelasan panjang. Namun, di sisi lain, muncul pula respons bernada sedih. Beberapa orang merasa kecewa karena buku yang mereka sukai justru masuk dalam daftar tersebut.
Dari situ muncul pertanyaan: sebenarnya, apa kriteria buku jelek? Dan siapa yang berhak melabelinya?
Buku dan Penilaian yang Subjektif
Saya percaya bahwa penilaian terhadap buku pada dasarnya bersifat subjektif. Apa yang dianggap bagus oleh seseorang belum tentu dinilai sama oleh orang lain. Begitu pula sebaliknya.
Mereka yang menyebut suatu buku jelek tentu memiliki alasan. Ada yang menyoroti masalah pada penulisnya. Ada yang merasa tema yang diangkat mengganggu. Ada pula yang mengkritik jalan cerita yang lemah atau alur yang terasa terputus. Dalam konteks ini, kritik bukan sekadar opini kosong karena didasarkan pada pertimbangan yang mereka sampaikan.
Sisi positifnya, diskusi seperti ini bisa membantu calon pembaca lain. Ulasan negatif dapat menjadi bahan pertimbangan sebelum membeli. Mengingat waktu dan uang terbatas, wajar jika seseorang ingin lebih selektif. Daripada menghabiskan sumber daya untuk buku yang diragukan kualitasnya, sebagian orang memilih mencari bacaan yang sudah banyak direkomendasikan.
Namun, tidak semua orang sepakat. Ada yang membela buku yang disebut jelek karena alasan personal. Bagi sebagian pembaca, novel tertentu mungkin adalah buku pertama yang membuatnya jatuh cinta pada dunia literasi. Buku itu yang memotivasi mereka untuk jadi lebih rajin membaca. Buku itu pula yang menemani di masa lelah atau penuh tekanan. Dalam konteks seperti ini, nilai sebuah buku tidak lagi sekadar soal teknik penulisan, melainkan juga pengalaman emosional bagi pembaca.
Bagaimana Menilai Buku yang Baik?
Diskusi ini mempertemukan dua kubu dengan pandangan yang berbeda. Meski begitu, tetap ada suara penengah. Beberapa orang menilai perdebatan ini justru menunjukkan bahwa minat baca dan literasi mulai tumbuh.
Ada warganet yang mengingatkan bahwa buku yang tidak sesuai selera bukan berarti otomatis jelek. Hal ini dikarenakan selera pribadi tidak selalu sama dengan ukuran kualitas sebuah buku. Di tengah diskusi itu, muncul pesan penting lainnya: hindari membaca buku bajakan, apa pun penilaiannya terhadap isi buku tersebut.
Lalu, bagaimana mengetahui buku itu bagus atau tidak? Merujuk pada beberapa panduan penerbit, buku yang baik umumnya memiliki tema yang menarik dan berbeda. Buku tersebut relevan dengan perkembangan informasi terkini. Isinya runtut, bahasanya terstruktur, dan pesannya tersampaikan dengan jelas.
Selain itu, buku yang sesuai dengan target pembaca cenderung lebih mudah diterima. Rekomendasi dari tokoh atau figur tertentu juga sering menjadi pertimbangan tambahan, meski tetap bukan satu-satunya alasan.
Perbedaan adalah Hal yang Wajar dalam Diskusi
Hal yang membuat diskusi ini terasa menarik bukan hanya soal kualitas buku. Dewasa ini, apa yang dibaca sering menjadi bagian dari citra diri. Tidak jarang seseorang membagikan kutipan buku di media sosial, lengkap dengan lagu yang dianggap sesuai dengan quotes tadi. Aktivitas inilah yang menunjukkan keterikatan personal dengan buku yang telah dibaca.
Karena itu, ketika ada yang menyebut buku favoritnya jelek, responsnya bisa menjadi emosional. Tanpa disadari, banyak pembaca lebih nyaman berdiskusi dengan mereka yang memiliki selera serupa. Saat kesukaan mereka dikritik, muncul rasa tersinggung.
Intinya sederhana. Banyak orang belum sepenuhnya siap berdiskusi secara sehat. Padahal, dalam ruang diskusi, perbedaan pendapat adalah hal wajar. Setuju dan tidak setuju seharusnya bisa berjalan berdampingan. Tantangannya adalah menyampaikan opini tanpa menyakiti dan menerima perbedaan tanpa merasa diserang.
Belajar mendewasakan pikiran menjadi hal yang penting. Baik di media sosial maupun di ruang publik, diskusi membutuhkan ketenangan dan empati. Jadi, penilaian tentang buku jelek atau bagus tetap bersifat subjektif. Setiap orang memiliki latar belakang, pengalaman, dan kebutuhan yang berbeda. Buku yang menurut saya menarik belum tentu memberikan kesan yang sama bagi orang lain.
Yang terpenting adalah tidak memaksakan opini. Jika merasa ragu sebelum membeli buku, membaca ulasan dari berbagai sudut pandang bisa membantu. Perhatikan argumen yang disampaikan, bukan sekadar kesimpulannya. Dengan begitu, kamu bisa memutuskan dengan lebih bijak sebelum membeli buku.
Teruslah mengeksplorasi beragam bacaan. Dari situ, kita akan semakin mengenal selera sendiri dan memahami kualitas seperti apa yang kita cari. Karena pada akhirnya, diskusi tentang buku bukan tentang siapa yang paling benar, melainkan tentang bagaimana kita belajar menghargai perbedaan pendapat.
Baca Juga
-
Makna Lagu Multo dari Cup of Joe: Kisah Kenangan yang Menghantui
-
Antara Emosi dan Algoritma: Mengapa FYP Dipenuhi Lagu Galau?
-
Sisi Lain Hobi Membaca: Antara Kesehatan Mental dan Kelelahan Emosional
-
Kesetaraan Gender dan Kegagalan Kita Memahami Hal Paling Mendasar
-
Urgensi Pendidikan Mitigasi Bencana Sejak Bangku Sekolah
Artikel Terkait
-
Menggugat Eksploitasi Alam di Novel Jejak Balak Karya Ayu Welirang
-
Dua Nama, Dua Dunia: Menyelami Dinamika Remaja dalam Jingga dan Senja
-
Padang Bulan: Tentang Keteguhan Hati Enong di Tengah Runtuhnya Harapan
-
Review Kambing dan Hujan: Saat Perbedaan Rakaat Salat Menjadi Ujian Cinta
-
Review Novel Cerita Hati Maharani: Menelusuri Luka dan Kedewasaan
Kolom
-
Saat Kehilangan Tak Lagi Menakutkan: Kehadiran dalam Sebuah Kepergian
-
Ruang Publik yang Belum Ramah untuk Semua: Siapa yang Akhirnya Disingkirkan?
-
IPK Indonesia 2025 Menurun, Kepercayaan Anak Muda pada Pemerintah Menurun
-
Fenomena Cut Off Orang Tua: Self-Love atau Batasan yang Terlambat Dibuat?
-
Bukan karena Cegah Klitih, Warga Sleman Divonis karena Penganiayaan Bersama
Terkini
-
Film Mardaani 3: Pesan Keras Melawan Eksploitasi Anak yang Keji!
-
Timnas Indonesia, Asian Games 2026 dan Blunder Pemangku Kebijakan yang Terus Meminta Tumbal
-
Siapa Annisa Dalimunthe? Model Cilik Peraih Inspiring Catwalker Asia 2026
-
Sinopsis The Shawshank Redemption, Film IMDB Rating Tertinggi Sepanjang Masa
-
Lim Ji Yeon dan Heo Nam Jun Terjebak Romansa Gila di Drama Wicked World