Di bawah rangka atap baja yang memantulkan panas siang, seorang pekerja menghentikan langkahnya sejenak. Tangannya mengangkat gelas kecil berisi kopi, diteguknya perlahan dengan napas yang masih tertahan lelah. Wajahnya basah oleh peluh, garis kelelahan jelas tergambar, namun sorot matanya tetap menyimpan keteguhan.
Hari itu bukan hari yang ringan. Peluh yang mengalir di wajah dan lehernya menjadi saksi betapa tenaga telah terkuras. Pakaian kerja yang melekat di tubuhnya memperlihatkan rutinitas panjang yang dijalani tanpa banyak keluhan. Di balik gerak yang terus diulang, ada satu tujuan sederhana namun penting: mencari upah demi menyambung hidup.
Saat kopi menyentuh bibirnya, raut wajah itu perlahan berubah. Ada jeda yang terasa menenangkan. Pahit dan hangatnya kopi seolah memutus sejenak rasa lelah yang menumpuk sejak pagi. Bagi sebagian orang, kopi hanyalah minuman biasa. Namun, bagi pekerja seperti ini, kopi adalah penguat sekaligus penanda bahwa tubuh dan pikiran masih harus diajak bekerja.
Cara ia menikmati kopi memancarkan kesan eksotis yang sederhana. Tidak berlebihan, tidak dibuat-buat. Hanya seorang pekerja yang mengambil haknya untuk beristirahat sejenak sebelum kembali menghadapi panas, beban kerja, dan waktu yang terus berjalan. Dalam seteguk itu, tersimpan rasa nikmat yang tidak bisa dibeli oleh kemewahan.
Melihat momen ini, saya kembali diingatkan bahwa kerja keras sering kali berlangsung dalam diam. Tidak semua perjuangan mendapat sorotan. Tidak semua peluh disambut tepuk tangan. Namun, justru di sanalah nilai kerja itu berada: pada keteguhan yang terus dijaga, meski tubuh meminta berhenti.
Potret sederhana ini mengajarkan bahwa roda kehidupan bergerak berkat mereka yang membanting tulang setiap hari. Di balik bangunan yang berdiri dan aktivitas yang berjalan, ada pekerja-pekerja yang mengandalkan disiplin, ketekunan, dan jeda kecil seperti seteguk kopi untuk terus melangkah.
Mungkin kita sering melewati momen seperti ini tanpa menoleh. Padahal, di setiap tetes keringat yang jatuh, ada perjuangan yang layak dihargai. Dan di balik segelas kopi sederhana, ada tenaga yang kembali dikumpulkan untuk bertahan.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Hujan, Kopi, dan Alasan untuk Tidak Segera Pergi
-
5 Rekomendasi Sepatu Safety Krisbow Terbaik untuk Kerja, Aman dan Nyaman
-
Di Balik Operasi Lutut: Pakai Robot Hingga Kopi Bikin Osteoporosis?
-
Pasar Kerja Timpang, Belasan Juta Pekerja Dipaksa Terima Upah Murah
-
4 Blender Portable Mini untuk Bikin Jus Buah bagi Pekerja Kantoran, Praktis dan Cepat
Kolom
-
Analisis Film Dirty Vote II O3: Antara Pasal KUHP dan Krisis Demokrasi
-
Diplomasi vs Realitas: Menakar Nyali Indonesia Pimpin Dewan HAM PBB
-
Wacana Pilkada oleh DPRD, Kedaulatan Rakyat di Persimpangan Pilihan?
-
Tragedi Tiga Menteri: Menggugat Cacat Struktural Tata Kelola Haji Kita
-
Romantisasi UMKM: Negara yang Absen, Warga yang Dipaksa Adaptif