M. Reza Sulaiman | Richo Gemilang Pratama
Berbagai macam warna (pexels)
Richo Gemilang Pratama

Dalam kehidupan modern, pilihan hadir di hampir setiap aspek kehidupan. Mulai dari memilih makanan, tontonan, gaya hidup, hingga keputusan besar seperti pekerjaan dan arah masa depan. Sekilas, banyaknya pilihan terlihat memberikan kebebasan. Namun, bagi sebagian orang, kondisi ini justru menimbulkan kebingungan dan kelelahan mental.

Fenomena tersebut dikenal sebagai paradox of choice. Istilah ini diperkenalkan oleh psikolog Barry Schwartz, yang menjelaskan bahwa semakin banyak pilihan yang dimiliki seseorang, semakin besar pula potensi stres dan ketidakpuasan yang dirasakan. Mengutip gagasan Schwartz, pilihan yang berlebihan sering membuat seseorang sulit mengambil keputusan dan cenderung menyesali pilihan yang sudah dibuat.

Dalam keseharian, paradox of choice kerap muncul tanpa disadari. Contohnya saat memilih tontonan di platform streaming. Banyak orang menghabiskan waktu lama untuk memilih, membandingkan satu judul dengan yang lain, lalu akhirnya tidak menonton apa pun. Hal serupa juga terjadi dalam urusan karier, gaya hidup, bahkan hubungan. Pikiran dipenuhi pertanyaan, “Bagaimana jika memilih yang lain?”

Masalah utama dari terlalu banyak pilihan bukan sekadar bingung, melainkan ekspektasi yang ikut meningkat. Ketika opsi semakin banyak, standar kepuasan juga naik. Kita merasa harus memilih yang paling tepat dan paling sempurna. Akibatnya, keputusan yang sudah diambil terasa kurang memuaskan karena selalu ada alternatif lain yang terlihat lebih baik.

Media sosial memperkuat kondisi ini. Kita tidak hanya melihat pilihan sendiri, tetapi juga pilihan hidup orang lain; karier yang tampak lebih sukses, gaya hidup yang terlihat lebih santai, atau keputusan yang seolah-olah selalu benar. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan dan meragukan keputusan yang sudah diambil.

Beberapa artikel psikologi populer menyebutkan bahwa terlalu banyak pilihan dapat memicu overthinking dan kelelahan mental. Otak terus bekerja membandingkan dan mengevaluasi, bahkan setelah keputusan dibuat. Dalam jangka panjang, hal ini membuat seseorang sulit merasa puas dan menikmati apa yang dimiliki.

Dalam konteks gaya hidup, membatasi pilihan justru bisa menjadi bentuk perawatan diri. Menyederhanakan keputusan harian, menetapkan prioritas, dan berhenti mencari opsi yang sempurna dapat membantu mengurangi beban mental. Tidak semua pilihan harus menjadi yang terbaik, cukup yang paling sesuai dengan kebutuhan saat ini.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang memilih segalanya dengan sempurna. Terlalu banyak pilihan memang memberi kebebasan, tetapi kesederhanaan sering kali membawa ketenangan. Dengan membatasi pilihan, pikiran memiliki ruang untuk bernapas dan hidup terasa lebih ringan.