Dalam kehidupan modern, pilihan hadir di hampir setiap aspek kehidupan. Mulai dari memilih makanan, tontonan, gaya hidup, hingga keputusan besar seperti pekerjaan dan arah masa depan. Sekilas, banyaknya pilihan terlihat memberikan kebebasan. Namun, bagi sebagian orang, kondisi ini justru menimbulkan kebingungan dan kelelahan mental.
Fenomena tersebut dikenal sebagai paradox of choice. Istilah ini diperkenalkan oleh psikolog Barry Schwartz, yang menjelaskan bahwa semakin banyak pilihan yang dimiliki seseorang, semakin besar pula potensi stres dan ketidakpuasan yang dirasakan. Mengutip gagasan Schwartz, pilihan yang berlebihan sering membuat seseorang sulit mengambil keputusan dan cenderung menyesali pilihan yang sudah dibuat.
Dalam keseharian, paradox of choice kerap muncul tanpa disadari. Contohnya saat memilih tontonan di platform streaming. Banyak orang menghabiskan waktu lama untuk memilih, membandingkan satu judul dengan yang lain, lalu akhirnya tidak menonton apa pun. Hal serupa juga terjadi dalam urusan karier, gaya hidup, bahkan hubungan. Pikiran dipenuhi pertanyaan, “Bagaimana jika memilih yang lain?”
Masalah utama dari terlalu banyak pilihan bukan sekadar bingung, melainkan ekspektasi yang ikut meningkat. Ketika opsi semakin banyak, standar kepuasan juga naik. Kita merasa harus memilih yang paling tepat dan paling sempurna. Akibatnya, keputusan yang sudah diambil terasa kurang memuaskan karena selalu ada alternatif lain yang terlihat lebih baik.
Media sosial memperkuat kondisi ini. Kita tidak hanya melihat pilihan sendiri, tetapi juga pilihan hidup orang lain; karier yang tampak lebih sukses, gaya hidup yang terlihat lebih santai, atau keputusan yang seolah-olah selalu benar. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan dan meragukan keputusan yang sudah diambil.
Beberapa artikel psikologi populer menyebutkan bahwa terlalu banyak pilihan dapat memicu overthinking dan kelelahan mental. Otak terus bekerja membandingkan dan mengevaluasi, bahkan setelah keputusan dibuat. Dalam jangka panjang, hal ini membuat seseorang sulit merasa puas dan menikmati apa yang dimiliki.
Dalam konteks gaya hidup, membatasi pilihan justru bisa menjadi bentuk perawatan diri. Menyederhanakan keputusan harian, menetapkan prioritas, dan berhenti mencari opsi yang sempurna dapat membantu mengurangi beban mental. Tidak semua pilihan harus menjadi yang terbaik, cukup yang paling sesuai dengan kebutuhan saat ini.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang memilih segalanya dengan sempurna. Terlalu banyak pilihan memang memberi kebebasan, tetapi kesederhanaan sering kali membawa ketenangan. Dengan membatasi pilihan, pikiran memiliki ruang untuk bernapas dan hidup terasa lebih ringan.
Artikel Terkait
-
Di Balik Senyum Media Sosial: Mengapa Hidup Terasa Berat Meski Tampak Baik-Baik Saja?
-
Psikologi di Balik Cara Negara Merespons Keluhan Rakyat
-
Anatomy of Curiosity: Saat Kemalangan Orang Lain Menjadi Kepuasan Otak Kita
-
Psikologi Perubahan Iklim: Mengapa Kita Sadar Lingkungan tapi Malas Bertindak?
-
Tinggalkan Sad Beige, Dopamine Decor Jadi Tren Interior Terbaru yang Bikin Bahagia
Kolom
-
Pengambil Kebijakan Duduk di Dua Kursi Sekaligus: Masih Adakah Netralitas?
-
Di Balik Senyum Media Sosial: Mengapa Hidup Terasa Berat Meski Tampak Baik-Baik Saja?
-
Beli Bahagia di Toko Buku: Kenapa Novel Romantis Jadi Senjata Hadapi Kiamat
-
Dilema Fatherless di Indonesia: Ayah Selalu Sibuk, Negara Selalu Kaget
-
Menakar Erosi Kepercayaan Umat Akibat Skandal Korupsi Haji Menteri Agama
Terkini
-
Menyelami Luka yang Masih Basah di Novel Breath of Scandal
-
5 Drama China Kostum yang Dikabarkan Tayang 2026, Mana yang Paling Dinanti?
-
Comeback Akting! Jisung NCT Dream Siap Bintangi Drama Investigasi 'Crash' Musim Kedua
-
4 Physical Sunscreen Ceramide, Ideal Perbaiki Skin Barrier Kulit Sensitif
-
Ratu Sofya Bicara soal Beban Hidup, Adik Beri Pembelaan untuk Orang Tua