Di media sosial, hidup sering terlihat berjalan mulus. Foto senyum, unggahan pencapaian kecil, dan rutinitas harian yang tampak rapi. Dari luar, semuanya seperti baik-baik saja. Namun, di balik itu, tak sedikit orang yang menyimpan perasaan lelah, hampa, bahkan bingung dengan apa yang sebenarnya mereka rasakan.
Perasaan “baik-baik saja tetapi berat” bukanlah hal aneh. Banyak orang menjalani hari dengan fungsi yang normal: bekerja, berinteraksi, dan menyelesaikan tanggung jawab. Namun, di dalam kepala, ada beban yang sulit dijelaskan. Hal ini muncul bukan karena satu masalah besar, melainkan akumulasi dari hal-hal kecil yang terus menumpuk tanpa sempat diurai.
Salah satu penyebabnya adalah tekanan untuk selalu tampak kuat. Lingkungan sosial sering kali tidak memberi ruang untuk lelah. Kita terbiasa mendengar kalimat seperti, “Nikmati saja,” “Orang lain lebih susah,” atau “Kamu masih mending.” Tanpa disadari, hal ini membuat seseorang menekan emosinya sendiri dan memilih diam. Akibatnya, emosi yang seharusnya diproses justru mengendap dan berubah menjadi rasa berat yang berk berkepanjangan.
Selain itu, gaya hidup modern juga berperan besar. Tuntutan produktivitas yang tinggi membuat banyak orang merasa bersalah ketika berhenti sejenak. Istirahat dianggap malas, sementara sibuk terus-menerus dipuji. Padahal, tubuh dan pikiran memiliki batas. Ketika batas itu dilanggar secara konsisten, sinyal kelelahan muncul dalam bentuk sulit berfokus, mudah lelah secara emosional, dan perasaan kosong meski hari terasa penuh.
Perbandingan sosial juga memperparah kondisi ini. Melihat pencapaian orang lain yang tampak lebih cepat atau lebih “jadi” sering menimbulkan perasaan tertinggal. Padahal, yang terlihat hanyalah potongan kecil dari hidup seseorang. Namun, otak tetap bekerja membandingkan, lalu mempertanyakan diri sendiri: “Kenapa hidup saya begini-begini saja?” Dari sini, rasa berat semakin sulit dihindari.
Mengutip dari berbagai kajian psikologi, perasaan terbebani tanpa alasan yang jelas bisa menjadi tanda kelelahan mental (emotional exhaustion). Ini bukan berarti seseorang lemah, melainkan tanda bahwa ada kebutuhan emosional yang belum terpenuhi. Bisa jadi kebutuhan untuk dimengerti, didengar, atau sekadar diberi waktu bernapas tanpa tuntutan.
Menyadari bahwa perasaan ini valid adalah langkah awal yang penting. Tidak semua masalah harus langsung diselesaikan. Kadang-kadang, mengakui bahwa kita sedang lelah sudah cukup membantu meringankan beban. Memberi jeda, membatasi ekspektasi, dan jujur pada diri sendiri adalah bagian dari merawat kesehatan mental di tengah hidup yang serba cepat.
Hidup yang terlihat baik-baik saja tidak selalu berarti mudah dijalani. Di balik rutinitas yang berjalan normal, setiap orang membawa beban versinya masing-masing. Dan itu tidak apa-apa. Rasa berat bukan untuk dipamerkan, tetapi juga tidak harus disembunyikan sendirian.
Artikel Terkait
-
Mencari Jati Diri di Era Digital: Mengapa Gen Z Terjebak dalam Cermin Palsu Media Sosial?
-
50 Medsos Lokal Ramaikan ISMN Yogyakarta Meetup 2026, Bahas Kolaborasi di Era Digital
-
Menguliti Narasi 'Kuliah Itu Scam': Apa Gelar Masih Menjadi Senjata Utama?
-
Konten Berbasis AI Bakal Makin Dominan di Medsos Tahun 2026
-
Jurnalisme di Era Sosial Media Apakah Masih Relevan?
Kolom
-
Seni Curhat ke Orang Tua: Baru Ngomong "A", Eh Nasihatnya Sudah Sampai "Z"
-
Dopamin Jam 3 Pagi: Ketika Setan Dibelenggu, Tapi Doomscrolling Terus Melaju
-
Membunuh Literasi, Membunuh Demokrasi: Saat Akses Bacaan Dicekik Negara
-
Misi Glow Up Lebaran: Antara Kejar Tayang Kulit Bening dan Dompet yang Kering
-
MBG dan Pergeseran Peran Psikologis Orang Tua
Terkini
-
Review Novel Satine: Realitas Pahit Menjadi Budak Korporat di Jakarta
-
Jangan Baca Pesan Terakhirku
-
Review Film Marty Supreme: Perjalanan Gelap Seorang Underdog yang Ambisius!
-
Tuhan Nggak Butuh Pengacara: Belajar Beragama "Santuy" tapi Berisi Bareng Mbah Nun
-
Tips PDKT Lewat Gelas: Anime Botan Kamiina Siap Bikin Kamu "Mabuk" Cinta di April 2026!