Sekar Anindyah Lamase | Davina Aulia
Ilustrasi anak yang sedang makan (Unsplash/Raymond Petrik)
Davina Aulia

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu kebijakan sosial yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak, khususnya siswa sekolah, melalui penyediaan makanan secara langsung oleh negara.

Kebijakan ini didasarkan pada asumsi bahwa pemenuhan nutrisi yang memadai merupakan fondasi penting bagi perkembangan fisik, kognitif, dan akademik anak.

Sampai saat ini, MBG diposisikan sebagai intervensi strategis untuk mengurangi risiko malnutrisi dan memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang setara untuk tumbuh dan belajar secara optimal.

Namun, seperti kebijakan sosial lainnya, MBG tidak hanya berdampak pada aspek kesehatan fisik, tetapi juga membawa implikasi psikologis dan sosial yang lebih kompleks.

Ketika negara mengambil peran langsung dalam pemenuhan kebutuhan dasar anak, terjadi perubahan dalam dinamika tanggung jawab antara keluarga dan institusi.

Di satu sisi, kebijakan ini dapat mengurangi beban ekonomi keluarga. Di sisi lain, kebijakan ini juga berpotensi memengaruhi cara orang tua memandang peran mereka sebagai penyedia utama kebutuhan anak.

Pergeseran ini tidak selalu terlihat secara kasat mata, tetapi dapat memengaruhi rasa tanggung jawab, keberdayaan, dan identitas psikologis orang tua dalam jangka panjang.

Peran Orang Tua sebagai Sumber Keberdayaan Psikologis

Secara psikologis, kemampuan orang tua untuk memenuhi kebutuhan anak merupakan sumber penting dari rasa keberdayaan atau self-efficacy.

Ketika orang tua mampu menyediakan makanan, mereka tidak hanya memenuhi kebutuhan biologis anak, tetapi juga memperkuat keyakinan bahwa mereka kompeten dan mampu menjalankan peran sebagai caregiver.

Perasaan mampu ini berkontribusi pada kesehatan mental orang tua, meningkatkan rasa percaya diri, dan memperkuat identitas mereka sebagai individu yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan keluarga.

Ketika pemenuhan kebutuhan tersebut sebagian dialihkan kepada negara melalui MBG, terdapat kemungkinan terjadinya pergeseran dalam persepsi keberdayaan tersebut.

Orang tua mungkin tetap menjalankan peran lainnya, tetapi pengalaman langsung dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak menjadi berkurang.

Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi memengaruhi cara orang tua memaknai kontribusi mereka terhadap kesejahteraan anak. Bukan berarti kebijakan ini secara otomatis melemahkan orang tua, tetapi penting untuk mempertimbangkan bagaimana intervensi eksternal dapat memengaruhi rasa kompetensi psikologis individu dalam menjalankan peran keluarga.

Pergeseran Identitas dan Makna Menjadi Caregiver

Menjadi orang tua bukan hanya peran biologis, tetapi juga merupakan bagian dari identitas psikologis. Aktivitas sehari-hari seperti menyiapkan makanan, memastikan anak makan dengan cukup, dan merawat kebutuhan fisik merupakan bentuk nyata dari peran pengasuhan.

Aktivitas ini memberikan makna emosional, memperkuat hubungan antara orang tua dan anak, serta membentuk rasa tanggung jawab yang mendalam. Melalui tindakan-tindakan ini, orang tua tidak hanya merawat anak secara fisik, tetapi juga membangun identitas diri sebagai sosok yang mampu melindungi dan memenuhi kebutuhan keluarga.

Ketika sebagian fungsi tersebut diambil alih oleh institusi eksternal, terdapat potensi perubahan dalam cara orang tua memaknai peran mereka.

Pemenuhan kebutuhan anak tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kapasitas keluarga, tetapi juga pada sistem yang lebih luas. Hal ini dapat menciptakan ambiguitas psikologis, di mana orang tua tetap memiliki tanggung jawab emosional, tetapi tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pemenuhan kebutuhan dasar anak.

Pergeseran ini dapat memengaruhi bagaimana orang tua memandang posisi mereka dalam struktur pengasuhan, terutama dalam konteks keluarga yang sebelumnya menjadikan kemampuan memenuhi kebutuhan sebagai sumber kebanggaan dan martabat.

Risiko Ketergantungan dan Agency Orang Tua

Salah satu konsep penting dalam psikologi adalah agency, yaitu perasaan bahwa individu memiliki kendali atas kehidupan dan lingkungannya. Agency memungkinkan seseorang merasa bahwa tindakan mereka memiliki dampak nyata terhadap hasil yang mereka alami.

Dalam pengasuhan, agency tercermin dalam kemampuan orang tua untuk membuat keputusan dan memenuhi kebutuhan anak secara mandiri. Pengalaman ini memperkuat rasa tanggung jawab dan keterlibatan psikologis dalam kehidupan keluarga.

Ketika intervensi eksternal menjadi semakin dominan, terdapat risiko bahwa sebagian orang tua dapat mengalami penurunan rasa agency tersebut. Jika kebutuhan dasar anak secara konsisten dipenuhi oleh pihak lain, orang tua mungkin secara tidak langsung menjadi kurang terlibat dalam aspek tertentu dari pengasuhan.

Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menciptakan ketergantungan struktural, di mana individu menjadi lebih pasif terhadap sistem eksternal. Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa kebijakan sosial tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga tetap mendorong keterlibatan aktif dan keberdayaan keluarga sebagai unit utama pengasuhan.

Program Makan Bergizi Gratis merupakan kebijakan yang memiliki tujuan mulia dalam meningkatkan kesejahteraan anak dan mengurangi ketimpangan nutrisi. Namun, di balik manfaat tersebut, terdapat dimensi psikologis yang perlu dipertimbangkan secara lebih mendalam.

Pergeseran peran dalam pemenuhan kebutuhan dasar anak tidak hanya berdampak pada aspek praktis, tetapi juga pada rasa keberdayaan, identitas, dan agency orang tua. Kebijakan yang efektif tidak hanya mengatasi kebutuhan fisik, tetapi juga memperkuat kapasitas psikologis individu dan keluarga.

Oleh karena itu, MBG sebaiknya tidak hanya diposisikan sebagai program bantuan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk memberdayakan orang tua, sehingga mereka tetap menjadi aktor utama dalam memastikan kesejahteraan anak, baik secara fisik maupun psikologis.

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS