Hayuning Ratri Hapsari | Zahrin Nur Azizah
Ilustrasi stres di tempat kerja (Pexels/ANTONI SHKRABA production)
Zahrin Nur Azizah

Saat kecil, banyak dari kita ingin cepat dewasa, sambil membayangkan kebebasan dan kemandirian saat sudah mencapainya nanti. Ada gambaran-gambaran sederhana yang dulu terasa begitu keren: berpakaian rapi, berjas, berdasi, menenteng tas, lalu berangkat ke kantor seperti orang-orang yang terlihat “berhasil.”

Jika diingat kembali sekarang, imajinasi masa kanak-kanak itu terasa lucu sekaligus polos. Tapi ada satu hal yang dulu nyaris tak pernah terpikirkan. Hidup yang dibayangkan megah itu ternyata tidak semenyenangkan yang ada di kepala. Terutama ketika harus berhadapan dengan kenyataan hari ini yang jauh dari kata indah.

Tapi ketika hidup benar-benar dijalani, kenyataannya tidak seindah yang dulu dibayangkan saat masih kecil. Hari-hari berjalan dengan pola yang sama: bangun pagi, bersiap, kerja, pulang, lalu tidur lagi. Keesokan harinya terulang begitu saja, seperti tidak memberi ruang untuk berhenti sejenak. Di sela lelah itu, kadang muncul suara kecil dalam hati: sebenarnya apa yang sedang dikejar sampai sebegininya?

Namun pertanyaan itu jarang benar-benar mendapat jawaban. Justru sering kalah oleh tuntutan untuk tetap kuat dan terus berjalan, meski kondisi ekonomi terasa semakin menekan. Kita belajar menahan lelah, menyimpan keluh di dalam kepala, lalu melanjutkan hari seolah tidak terjadi apa-apa. Kepada dunia, dan sering kali juga kepada diri sendiri, kita memilih mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja, meski kenyataannya tidak selalu demikian.

Saat Hidup Berjalan dalam Mode Bertahan

Mode bertahan, atau survival mode, penjelasan mudahnya adalah kondisi ketika tubuh dan pikiran kita seperti hidup dalam kondisi stres. Seolah tubuh siap menghadapi bahaya setiap saat meski tidak ada ancaman nyata di depan mata.

Dalam situasi ini, sistem saraf kita berada pada “modus siaga”. Ditandai dengan tubuh tetap waspada, pikiran sering merasa tegang, dan sulit untuk bersantai. Respons ini sebenarnya berguna saat menghadapi ancaman sesaat. Tetapi ketika hidup terus-menerus tertekan seperti ini, akhirnya lama kelamaan akan membuat lelah secara fisik dan mental.

Hidup dalam mode bertahan di kondisi ekonomi sekarang memang berat. Tandanya jelas sekali terlihat: kita sulit rileks, mudah merasa tersinggung saat diberi masukan, dan pikiran sering buyar karena terlalu sibuk memikirkan cara "bertahan hidup".

Hal ini bukan cuma soal lelah setelah kerja seharian, tapi tentang mental yang terkuras habis demi mengejar stabilitas finansial. Sampai-sampai, kita merasa bersalah untuk sekadar berhenti sejenak, padahal kita juga butuh napas dan istirahat dari hiruk-pikuk tuntutan dunia.

Berhenti Sejenak Bukan Tanda Menyerah

Tekanan hidup di tengah kondisi ekonomi saat ini sering kali membuat kita menjalani hari dengan satu fokus utama: bertahan. Ada banyak hal di kepala yang terasa selalu menuntut untuk segera dipenuhi. Bagaimana caranya mendapatkan uang lebih banyak, bagaimana agar tabungan tetap aman, dan bagaimana tetap bisa memberi sesuatu untuk orang tua. Belum lagi keinginan sederhana seperti menyisihkan uang saku untuk adik.

Hingga akhirnya pada titik tertentu, memanjakan diri dengan membeli sesuatu yang diinginkan pun harus dipikirkan berkali-kali. Seolah kebahagiaan sudah masuk ke dalam daftar prioritas yang bisa ditunda. Jika kamu sedang berada di posisi seperti itu, mungkin tidak ada salahnya berhenti sejenak dan menarik napas.

Berhenti sebentar bukanlah sebuah dosa, dan jelas bukan tanda menyerah. Ini bukan tentang melarikan diri dari semua permasalahan, melainkan memberi kesempatan pada tubuh dan pikiran untuk beristirahat dari stres yang terus menumpuk. Saat tubuh mulai rileks, pikiran perlahan menjadi lebih jernih. Dari sana, sering kali solusi datang dengan sendirinya dan itu terjadi ketika kita kembali mampu melihatnya dengan kepala yang lebih tenang.

Istirahat yang dibutuhkan pun tidak harus muluk-muluk. Tidak selalu berarti liburan jauh atau menghabiskan banyak uang. Kadang, waktu sendiri atau me time yang sederhana, sudah cukup untuk membantu tubuh keluar dari mode bertahan. Sekadar memberi jeda, agar kita ingat bahwa di balik semua tuntutan hidup, kita tetap manusia yang berhak lelah dan berhak beristirahat.

Sebagai penutup, saya hanya ingin mengingatkan bahwa bisa bertahan sejauh ini di tengah dunia yang makin menuntut sudah merupakan sebuah pencapaian besar. Kamu tidak perlu selalu terlihat tangguh, tidak harus terus berlari tanpa henti, apalagi memaksakan diri untuk bilang "aku baik-baik saja" saat pundakmu mulai terasa berat.

Memberi diri sendiri ruang untuk beristirahat bukanlah sesuatu yang baru boleh dilakukan saat semua urusan selesai, melainkan hak yang memang sudah seharusnya kamu dapatkan. Karena pada akhirnya, kita hanyalah manusia yang berarti boleh merasa lelah, boleh mengambil jeda, dan sangat boleh memulihkan diri tanpa perlu merasa bersalah kepada siapa pun.