Setiap hari, kita disuguhkan dengan berita-berita terbaru yang seolah tidak pernah berhenti. Bahkan, dalam hitungan jam saja, selalu ada kabar baru yang muncul dan segera memenuhi linimasa. Dari sini, kita bisa melihat betapa mudahnya memperoleh informasi hingga hampir semua peristiwa di negeri ini terasa begitu dekat dan cepat kita ketahui.
Namun, sayangnya, paparan berita tidak selalu membawa dampak baik. Pernahkah kamu merasa cemas, pikiran terusik, atau perasaan menjadi tidak nyaman hanya karena memikirkan satu berita tertentu? Jika iya, bisa jadi tanpa disadari kamu sedang mengalami overexposed pada berita.
Berhenti Sejenak dari Media Sosial Bukan Berarti Tidak Peduli
Berita di media sosial kerap diibaratkan seperti air: jumlahnya melimpah dan, jika ditampung tanpa batas, bisa membuat siapa pun kewalahan. Salah satu contoh yang cukup terasa dampaknya adalah maraknya pemberitaan tentang kasus child grooming di media sosial. Lewat memoar Broken Strings, pembaca diajak secara tidak langsung merasakan apa yang dialami Aurelie hingga empati pun terbangun dengan kuat. Dampaknya tentu positif karena membuat banyak orang semakin sadar akan bahaya child grooming.
Namun, bagi sebagian orang, paparan cerita dan berita semacam ini justru memicu perasaan tidak nyaman. Belum lagi peran algoritma media sosial yang bekerja tanpa jeda: sekali kamu memberi like pada satu unggahan, konten serupa akan terus bermunculan. Akibatnya, otak bisa kewalahan menerima terlalu banyak informasi dalam waktu bersamaan, dan perlahan mental pun ikut lelah.
Saat tanda-tanda ini mulai muncul, membatasi penggunaan media sosial bisa menjadi pilihan yang bijak. Berhenti sejenak bukan berarti tidak peduli dengan masalah di luar sana. Kita tetap bisa bersimpati dan peduli, hanya saja kali ini memberi ruang agar tubuh dan pikiran diizinkan untuk beristirahat.
Overload Informasi dan Dampaknya bagi Kesehatan Mental
Kebiasaan membaca berita tanpa henti atau yang sering disebut sebagai doomscrolling ternyata bukan sekadar rutinitas iseng di waktu luang. Dampaknya nyata dan cukup serius bagi kesehatan mental.
Saat seseorang terus-menerus terekspos berita negatif, otak akan merespons dengan melepaskan hormon stres seperti kortisol. Hormon ini membuat tubuh berada dalam kondisi siaga dan tegang, meskipun tidak sedang menghadapi ancaman secara langsung. Jika kondisi tersebut dibiarkan terlalu lama, rasa cemas bisa muncul dan tingkat stres pun meningkat. Bahkan, dalam beberapa kasus, hal ini dapat memicu gejala depresi atau gangguan mental lainnya.
Paparan informasi negatif yang berulang juga berisiko mengganggu kualitas tidur dan menurunkan kemampuan fokus. Perlahan, kondisi ini dapat membentuk persepsi seolah-olah dunia adalah tempat yang menakutkan dan penuh bahaya. Oleh karena itu, perasaan seperti ini tidak seharusnya dianggap remeh dan perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh.
Memberi Jeda: Bentuk Kepedulian pada Diri Sendiri
Jika perasaan mulai terasa lelah, gelisah, atau bahkan sulit tidur, itu bisa menjadi tanda bahwa pikiranmu sedang meminta untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk berita terkini. Memberi jeda bukan berarti kamu berhenti peduli, apalagi kehilangan empati terhadap apa yang terjadi di luar sana. Justru sebaliknya, ini adalah bentuk kepedulian pada dirimu sendiri.
Doomscrolling memang bisa membuatmu merasa lebih update dengan berbagai kabar yang beredar, tetapi konsumsi informasi tanpa batas sering kali membuat pikiran semakin terpapar hal-hal negatif dan perlahan memperburuk kondisi mental.
Mengakui bahwa diri sedang lelah, menetapkan waktu tertentu untuk mengecek berita, atau bahkan mematikan notifikasi sejenak bisa menjadi langkah kecil yang membantu menjaga keseimbangan antara kepedulian pada dunia luar dan perhatian pada diri sendiri.
Oleh karena itu, berhenti sejenak dari derasnya berita bukan tanda abai, melainkan tanda kita sayang pada diri sendiri. Istirahat sejenak justru membuat kita lebih tenang sehingga saat kembali nanti, kita bisa peduli dan bijak dalam merespons apa yang terjadi pada dunia.
Baca Juga
-
Katanya Slow Living Harus di Desa, Padahal di Kota Juga Bisa
-
Membaca Ulang Sejarah R.A. Kartini di Tengah Tren 'Unpopular Opinion'
-
Dilema Cancel Culture: Kenapa Sulit Membenci Publik Figur yang Bersalah?
-
Hari Pertama Haid dan Tuntutan Perempuan untuk Tetap Kuat
-
Misteri Ikan Sapu-Sapu yang Tak Pernah Habis Dibasmi, Ternyata Biang Keroknya Kita Sendiri?
Artikel Terkait
-
Bukan Dipendam, Begini Cara Memproses Emosi Negatif Agar Pikiran Kembali Tenang
-
Mengenal Paradox of Choice: Mengapa Terlalu Banyak Pilihan Malah Bikin Stres?
-
Di Balik Senyum Media Sosial: Mengapa Hidup Terasa Berat Meski Tampak Baik-Baik Saja?
-
Sering Cemas Hari Senin? Inilah Mengapa Gen Z Rentan Kena Monday Blues
-
Lebih dari Sekadar Ambisi, Ini 5 Kunci Energi Batin untuk Sukses di 2026
News
-
Penyuluh Agama Islam Perkuat Kolaborasi, Tebar Toleransi dari Karanganyar
-
Mimpi yang Terparkir: Saat Ekonomi Menjadi Rem Bagi Ambisi Generasi Muda
-
Ichigo Ichie: Seni Menikmati Hidup di Era Distraksi Digital
-
Gebrak Jalur AKAP: Rahasia Viral Bus Listrik PO Sumber Alam di Tahun 2026
-
Tak Banyak yang Tahu, Surat Kartini Justru Pertama Kali Berbahasa Belanda
Terkini
-
Katanya Slow Living Harus di Desa, Padahal di Kota Juga Bisa
-
Akhirnya! Glasses with a Chance of Delinquent Dapat Adaptasi Anime
-
Jejak Liar Chairil Anwar dalam Buku Puisi Aku Ini Binatang Jalang
-
Laki-Laki dan Beban Maskulinitas: Mengapa Angka Bunuh Diri Laki-Laki Begitu Tinggi?
-
5 Lipstick Red Brown dengan Hasil Matte hingga Glossy: Mana Favoritmu?