Ramainya narasi small wins telah bertransformasi menjadi semacam mantra suci bagi generasi kita. Bisa bangun pagi tanpa menekan tombol snooze? Itu pencapaian. Tidak menangis di tengah jam kerja? Itu seperti kemenangan. Bertahan di kantor yang toxic tanpa mengirim surat resign mendadak? Itu dianggap sebagai bentuk ketangguhan yang luar biasa.
Di media sosial, kita sering dibombardir dengan validasi lembut: "Pelan-pelan saja," "Hidup bukan perlombaan," atau "Yang penting masih melangkah."
Jujur saja, menurut saya narasi ini terasa menenangkan, terasa seperti pelukan hangat di tengah badai kehidupan yang mencekik leher. Saat target kerja semakin tak masuk akal dan harga secangkir kopi mulai terasa setara dengan biaya hidup harian, merayakan hal-hal kecil adalah cara kita tetap waras. Ini adalah bentuk pemberontakan diam-diam terhadap budaya hustle yang memuja produktivitas sampai mati.
Namun, mari kita renungkan sekarang dan bertanya dengan jujur: Apakah small wins ini benar-benar menyembuhkan, atau jangan-jangan itu hanya berfungsi sebagai obat pereda nyeri (painkiller) yang paling murah?
Secara psikologis, merayakan kemajuan-kemajuan kecil memang memberikan suntikan dopamin. Masalahnya, dopamin ini sering kali hanya menutupi rasa sakit sesaat, tanpa pernah benar-benar menyentuh akar infeksinya. Burnout itu tetap ada. Ketidakpastian finansial tetap membayangi. Struktur sistem yang eksploitatif pun tetap kokoh berdiri. Kita hanya sedang diminta untuk merasa "cukup" dengan remah-remah kemajuan, agar kita berhenti mempertanyakan mengapa standar hidup layak terasa semakin sulit digapai.
Di titik inilah, small wins berisiko menjadi sebuah pelarian. Bahkan, tidak hanya pelarian individu, melainkan pelarian bagi sistem yang seharusnya bertanggung jawab.
Alih-alih mendiskusikan upah yang stagnan di tengah inflasi, kita diajak untuk lebih banyak bersyukur karena "setidaknya masih punya pekerjaan." Alih-alih mengkritik jenjang karier yang buntu, kita hanya puas dan bangga pada diri sendiri karena "setidaknya masih bertahan." Tanpa sadar, narasi ini berbahaya karena bisa menggeser beban dari sistem ke bahu individu: kalau kamu lelah, berarti kamu kurang merayakan prosesmu. Kalau kamu merasa jalan di tempat, berarti kamu kurang sabar.
Padahal, rasa lelah yang kita rasakan bukan selalu karena kurang bersyukur, melainkan karena kita sedang dipaksa berlari di atas treadmill yang kecepatannya diatur oleh pihak lain.
Tren ini juga menunjukkan betapa drastisnya penurunan ekspektasi generasi muda. Dulu, ambisi identik dengan kestabilan dan pencapaian besar. Sekarang, ambisi itu mengerdil bukan karena kita malas, tapi karena realitas terasa terlalu mahal untuk dibeli. Kemenangan kecil menjadi satu-satunya hal yang bisa kita kontrol saat masa depan terasa seperti kabut tebal.
Bahaya terbesarnya adalah ketika small wins tidak lagi menjadi fase pemulihan, melainkan menjadi status quo. Kita mulai menormalisasi stagnasi dan berhenti bertanya: Apakah hidup memang seharusnya sesempit ini? Apakah bertahan hidup (surviving) sudah cukup dianggap sebagai prestasi hidup?
Merayakan hal kecil sebenarnya dapat kita jadikan jembatan, tapi jangan jadikan ini sebagai tujuan terakhir kita. Karena merayakan small wins ini memang penting untuk menjaga kesehatan mental, tapi ia juga bisa jadi racun saat digunakan untuk membenarkan situasi yang sebenarnya bisa diperbaiki. Jadi, jangan jadi salah kaprah dalam memahami ini.
Kita memang tidak salah karena ingin hidup lebih tenang. Namun, kita juga tidak boleh lupa bahwa hidup bukan sekadar tentang bertahan dari satu hari ke hari berikutnya. Sebaliknya, kita berhak atas ruang untuk bertumbuh, bukan sekadar punya ruang untuk bernapas.
Jadikan small wins sebagai bensin untuk terus melangkah, asalkan jangan sampai itu bikin kita lupa kalau kita tetap punya hak untuk bermimpi besar. Karena jujur saja, stagnasi itu bukan takdir yang harus kita peluk dengan lapang dada. Stagnasi adalah alarm, sebuah sinyal kuat kalau ada sistem yang perlu kita pertanyakan, bukan cuma dirayakan kegagalannya sambil bilang 'ya sudah, begini adanya'.
Baca Juga
-
Salah Kaprah Feminisme di Media Sosial: Benarkah Masih tentang Kesetaraan?
-
Stop Jadi Polisi Bacaan: Buku Fiksi dan Non-Fiksi Sama-Sama Bikin Kamu Lebih Manusia
-
Di Balik War Takjil: Ada Mesin Ekonomi Rakyat yang Bergerak Tanpa Henti
-
Perang Gender di TikTok: Saat Algoritma Memperuncing Polarisasi Relasi Laki-laki dan Perempuan
-
Antara Ibu dan Istri: Mengurai Rivalitas Perempuan yang Tak Pernah Diakui
Artikel Terkait
Kolom
-
Side Hustle Bukan Gila Kerja, Tapi Perjuangkan Pekerja UMR untuk Bertahan
-
Gaji UMR Kediri, Selera Senopati: Ketika Gengsi Jadi Kendaraan Menuju Kebangkrutan
-
Di Balik Angka UMR: Ada Cerita Perjuangan di Tengah Kebutuhan yang Meningkat
-
Selamat Datang di Era Satu Pekerjaan Saja Tidak Cukup untuk Bertahan Hidup
-
Kalau Kamu Bukan HRD atau Calon Mertua, Tolong Jangan Tanya soal Gaji Saya
Terkini
-
Makeup Anti Ribet! 5 Serum Concealer Ini Siap Buat Wajahmu Cantik Seketika
-
Membaca Ulang Keberagaman di Indonesia dalam Buku Ahok Koboi Jakarta Baru
-
Kasukabe Dancers Super Hot! Film Shin-chan Ini Bakal Bikin Kamu Ngakak Seharian!
-
Novel Padang Bulan: Antara Cinta dan Mimpi yang Sama-sama Harus Dikejar
-
Lindungi Hak sebagai Artis, EXO-CBX Ajukan Pemutusan Kontrak dengan INB100