Akhir-akhir ini, saya menemukan cukup banyak konten di media sosial yang membahas game TheoTown. Padahal, game ini bukanlah rilisan baru.
TheoTown sudah ada sejak 2015, namun entah mengapa justru mendadak ramai dimainkan dan diperbincangkan pada awal Januari 2026.
Game dengan konsep simulasi bergaya grafis pixel, TheoTown memungkinkan pemain membangun kota impian dari nol. Mulai dari menata jalan, kawasan pemukiman, hingga berkembang menjadi kota metropolitan.
Bagi penikmat game simulasi, permainan seperti ini tentu terasa menarik untuk dicoba. Namun, di balik keseruannya, muncul satu pertanyaan yang cukup menggelitik bagi saya: mengapa TheoTown bisa tiba-tiba terkenal di Indonesia dan mendorong begitu banyak orang untuk ikut mencobanya?
Mengapa TheoTown Mendadak Ramai di Indonesia?
Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, TheoTown mendadak viral berkat banyaknya pemain dari Indonesia. Bahkan, pihak pengembang sempat menyampaikan bahwa server mereka sampai penuh, karena sebenarnya game ini tidak didesain untuk dimainkan oleh begitu banyak orang dalam waktu bersamaan. Dari sini saya jadi berpikir, kalau sesuatu bisa viral di Indonesia, pasti ada alasannya.
1. Ruang untuk Mewujudkan Fantasi Menjadi Pemimpin
Alasan pertama, game ini memberi ruang bagi pemain untuk mewujudkan impian menjadi seorang pemimpin. Di TheoTown, pemain membangun kota benar-benar dari nol.
Kita bebas berkreasi menata ruang kota. Mulai dari jalan raya, gedung perkantoran, pabrik, mal, hingga rumah-rumah warga. Bahkan, pemain juga bisa mengatur kebijakan perekonomian.
Namun, membangun kota di sini tidak berhenti pada tahap selesai pembangunan saja. Ada NPC yang berperan sebagai warga, dan di titik inilah peran seorang pemimpin atau wali kota benar-benar terasa.
Wali kota dituntut untuk membuat warganya sejahtera. Jika tidak, mereka akan protes. Belum lagi jika kota dilanda bencana seperti banjir atau kebakaran. Terlihat memusingkan, memang. Tapi justru di situlah letak daya tariknya, dan mungkin alasan mengapa banyak pemain akhirnya tertarik mencoba game ini.
2. Kreativitas Tanpa Batas lewat Plugin dari Komunitas
Alasan berikutnya karena adanya fitur plugin dari komunitas. Fitur ini memungkinkan pemain menambahkan berbagai bangunan buatan kreator, termasuk kreator dari Indonesia.
Bangunan yang tersedia pun beragam, mulai dari Monumen Nasional, SPBU Pertamina, gedung-gedung pemerintah, hingga panggung hiburan.
Menariknya, bangunan-bangunan ini tidak bisa asal diletakkan. Pemain tetap harus menata kota dengan baik agar NPC mau datang dan beraktivitas di sana. Di sinilah kreativitas pemain benar-benar diuji.
3. Bebas Menciptakan Skenario dan Roleplay
Alasan ketiga, dan mungkin yang paling menghibur, adalah kebebasan pemain membuat skenario atau roleplay. Karena pemain berperan sebagai wali kota, mereka bisa menciptakan berbagai skenario kreatif. Bahkan yang menurut saya cukup lucu, ada yang sengaja menaikkan pajak lalu merekam bagaimana NPC berbondong-bondong protes.
Ada juga yang mencoba plugin kebun sawit, tapi justru berakhir dengan banjir di mana-mana. Belum lagi pemain yang membangun PLTN di tengah permukiman, lalu kebingungan menghadapi kemarahan warga. Jujur saja, ada banyak skenario yang membuat saya tertawa sambil geleng-geleng kepala.
Meski begitu, tidak semua pemain asal-asalan. Masih banyak yang justru membangun kota dengan serius dan penuh perhitungan. Mereka memikirkan keseimbangan kota dari berbagai aspek, mulai dari menyediakan pabrik agar NPC punya pekerjaan, membangun jalan tol untuk melancarkan lalu lintas, hingga membuat kebijakan yang tidak merugikan warganya sendiri.
Dari sini, saya jadi sadar, pemain Indonesia ternyata memang kreatif, hanya saja kreativitas itu kadang muncul dengan cara yang tidak terduga.
Itulah beberapa alasan mengapa TheoTown begitu diminati oleh pemain Indonesia. Setiap orang tentu punya tujuan yang berbeda saat memainkannya.
Ada yang sekadar ingin melepas lelah dan ada pula yang benar-benar menikmati proses belajar mengatur kota. Namun, meskipun TheoTown hanyalah sebuah game simulasi, saya rasa kita tetap perlu bersikap bijak, terutama ketika permainan ini dibuat konten di media sosial. Bercanda dan bereksperimen sah-sah saja, tetapi ada batas yang sebaiknya tetap dijaga agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Beli Barang Masa Kecil Bukan Boros, Tapi Cara Sederhana Bahagiakan Inner Child
-
Katanya Slow Living Harus di Desa, Padahal di Kota Juga Bisa
-
Membaca Ulang Sejarah R.A. Kartini di Tengah Tren 'Unpopular Opinion'
-
Dilema Cancel Culture: Kenapa Sulit Membenci Publik Figur yang Bersalah?
-
Hari Pertama Haid dan Tuntutan Perempuan untuk Tetap Kuat
Artikel Terkait
-
58 Kode Redeem FF Terbaru 17 Januari: Ada Diamond, Hadiah Gojo, dan Fushiguro Bundle
-
Tak Berumur Panjang, Amazon Matikan Game MMO New World Aeternum pada Awal 2027
-
Quarantine Zone Masuk Daftar Terlaris di Steam, Game Zombie Viral Bermisi Menarik
-
55 Kode Redeem FF Terbaru 16 Januari 2026: Raih Gojo Arrival dan Tsukamoto Backpack
-
Rumor Nintendo Switch 2 Pro OLED, Kode Misterius Muncul di Situs Resmi
Kolom
-
"Uangmu Uangku, Uangku Milikku": Masih Relevankah Prinsip Ini di Era Modern?
-
Bukan Sekadar Salah Kelola: Ada Pola 'Titip Proyek' di Balik MBG?
-
Promo Belanja Tanggal Kembar:Tradisi Baru Kaum Rebahan Buru Diskon Midnight
-
Punya Kemasan Bekas Paket? Ini Cara Sederhana Memulai Gaya Hidup Less Waste
-
Beras Mahal Menjerit, Beli Rokok Sanggup: Ironi Prioritas Keluarga Indonesia
Terkini
-
Tikus Menari di Atas Meja Makan
-
Membedah Fenomena Bedtime Procrastination: Ketika 'Lima Menit Lagi' Merampas Waktu Tidur
-
Preppy hingga Feminine Style, Intip 4 OOTD Versatile ala Shin Ye Eun Ini!
-
Membaca Matilda di Era Modern: Masihkah Kita Mendengarkan Anak?
-
Ducati Peringati 100 Tahun dengan Mesin Kopi Terbatas, Hanya 1.926 Unit