M. Reza Sulaiman | Zahrin Nur Azizah
Ilustrasi diskusi terbuka (pexels/Henri Mathieu-Saint-Laurent)
Zahrin Nur Azizah

Di era media sosial saat ini, rasanya hampir mustahil lepas dari yang namanya video pendek atau short video. Setiap hari, lini masa kita dipenuhi berbagai konten: ada yang lucu dan receh, tip make-up, edukasi singkat, hingga kritik sosial dan politik. Reaksi penontonnya pun beragam. Ada yang tertawa, ada yang merasa tersentuh, ada juga yang justru terdiam dan merenung setelah menontonnya.

Namun, di balik segala kepraktisannya, video pendek memiliki satu kekurangan mendasar: durasinya yang sangat singkat. Konten semacam ini memang dirancang untuk dilihat sekilas, cepat, dan langsung memancing respons. Masalah mulai muncul ketika video yang seharusnya berdurasi panjang—berisi diskusi dan argumen—dipotong pada detik atau menit tertentu, lalu disebarkan sebagai potongan singkat.

Bagi mereka yang menonton versi lengkap, konteksnya mungkin masih bisa dipahami. Namun, bagaimana dengan mereka yang hanya melihat potongan itu saja? Di sinilah kesalahpahaman sering kali lahir.

Diskusi yang awalnya utuh dan berbobot bisa berubah kacau ketika potongan video tersebut dianggap menyerang atau merugikan pihak tertentu. Dari sini muncul pertanyaan yang cukup menggelitik: Mengapa kritik begitu sering disalahartikan sebagai penghinaan? Mengapa banyak orang tampak alergi terhadap kritik?

Kritik Akademik: Logika Ilmiah dalam Kritik Sastra

Kritik akademik sering kali terdengar “berat” dan terkesan hanya milik kalangan tertentu. Padahal, secara sederhana, kritik akademik adalah kritik yang lahir dari analisis, menggunakan teori serta metode, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kritik ini tidak berdiri di atas asumsi kosong, melainkan disusun dengan kerangka berpikir yang jelas.

Hal yang sering disalahpahami adalah kritik akademik bukan hak eksklusif akademisi. Siapa pun sebenarnya bisa menyampaikan kritik akademik selama memenuhi kaidah ilmiah dan bertujuan untuk pendidikan. Intinya, kritik jenis ini tidak bertujuan untuk menjatuhkan, melainkan membuka ruang belajar dan pemahaman yang lebih luas.

Kritik Politik: Menekan ke Atas, Bukan Menyerang Identitas

Berbeda dengan kritik akademik, kritik politik secara langsung ditujukan kepada pemegang kekuasaan. Tujuannya sederhana: menyadarkan, mengoreksi, dan mendorong perbaikan kebijakan. Kritik ini biasanya muncul ketika kebijakan pemerintah dianggap bertentangan dengan kepentingan publik.

Cara penyampaiannya pun beragam. Ada yang lugas dan langsung, ada pula yang menggunakan sindiran halus, satir, atau bahkan sarkasme. Dalam konteks ini, kritik politik adalah bagian dari kontrol sosial. Ia hadir bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk memastikan kekuasaan tetap berpihak pada rakyat.

Mengapa Banyak Orang Salah Paham?

Salah satu penyebab utamanya adalah belum dipahaminya esensi kritik itu sendiri. Tidak semua kritik adalah kebencian, dan tidak semua kritik berarti perlawanan. Sayangnya, di ruang publik kita, kritik masih sering dianggap sebagai ancaman, bukan sebagai bagian dari proses demokrasi.

Kesalahpahaman juga muncul karena objek kritik tidak dipahami dengan baik. Kritik akademik dan kritik politik sama-sama lahir dari analisis dan argumen, tetapi memiliki sasaran yang berbeda. Kritik akademik lebih menyoroti gagasan, wacana, atau pemikiran tertentu, sementara kritik politik secara jelas diarahkan pada kebijakan, sistem, dan pemegang kekuasaan.

Masalah muncul ketika kritik terhadap kebijakan publik justru dianggap sebagai serangan terhadap kelompok atau identitas tertentu. Padahal, yang dikritik adalah tindakan dan keputusan, bukan kepercayaan atau keyakinan. Di sisi lain, emosi sering kali mendahului pemahaman. Rasa tersinggung muncul lebih dulu sebelum orang benar-benar mencoba memahami isi kritik. Akibatnya, kritik yang seharusnya menjadi ruang diskusi justru berubah menjadi ajang saling menuduh dan menghujat.

Menyampaikan Kritik dengan Sopan

Masih banyak pihak yang belum memahami esensi kritik. Oleh karena itu, sebelum kritik justru memperkeruh suasana, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  1. Pilih waktu dan tempat yang tepat. Konteks sangat memengaruhi bagaimana kritik diterima.
  2. Sampaikan dengan nada yang santun. Nada suara, pilihan kata, dan bahasa tubuh memiliki peran besar dalam menyampaikan pesan.
  3. Jika memungkinkan, tawarkan solusi atau alternatif. Kritik tanpa solusi sering kali terasa menggantung.
  4. Hindari generalisasi karena hal ini mudah memicu kesalahpahaman.
  5. Jaga hubungan baik. Tujuan kritik bukan untuk merusak, melainkan membangun.

Pada akhirnya, kita memang perlu belajar memahami apa itu kritik. Sejatinya, kritik hadir untuk memperbaiki, bukan menghancurkan. Di tengah banyaknya potongan video pendek, kita juga perlu lebih bijak: jangan mudah percaya sebelum memahami keseluruhan isi. Tulisan ini bukan untuk menghasut siapa pun, melainkan sebagai bentuk edukasi agar kita bisa berdiskusi dengan lebih sehat, sambil tetap menjaga persatuan dan toleransi.