Setiap musim hujan tiba, sejumlah kota di Indonesia seperti mengulang adegan lama yang tak pernah tamat. Jalan berubah menjadi sungai, permukiman terendam, aktivitas lumpuh, dan warga kembali mengeluh sembari menunggu air surut. Banjir seolah bukan lagi bencana, melainkan rutinitas musiman yang diterima dengan pasrah. Di banyak kota besar, masyarakat urban tampak telah berdamai dengan genangan air. Mereka menyiapkan sepatu bot, mengangkat barang ke tempat lebih tinggi, dan menyesuaikan jam kerja. Pertanyaannya, mengapa kota tak pernah benar-benar selesai dengan banjir?
Masalah banjir di perkotaan kerap direduksi menjadi persoalan curah hujan ekstrem. Padahal hujan hanyalah pemicu, bukan penyebab utama. Akar persoalannya justru terletak pada cara kota dibangun, dikelola, dan diperlakukan. Kota tumbuh dengan logika beton, bukan dengan kesadaran ekologis. Ruang serap air dikorbankan demi bangunan, jalan, dan kawasan komersial. Air yang seharusnya meresap ke tanah akhirnya dipaksa mengalir di permukaan, mencari jalan sendiri, dan meluap ke mana-mana.
Ruang Serap yang Terus Menyusut
Salah satu penyebab paling krusial banjir perkotaan adalah menyusutnya ruang serap air. Lahan hijau, sawah, rawa, dan daerah resapan perlahan hilang digantikan oleh perumahan, pusat perbelanjaan, dan infrastruktur keras. Tanah yang dulu berfungsi sebagai spons alami kini tertutup aspal dan beton yang kedap air. Akibatnya, daya tampung tanah terhadap air hujan menurun drastis.
Di banyak kota, rencana tata ruang sering kalah oleh kepentingan ekonomi jangka pendek. Alih fungsi lahan dilakukan secara masif, bahkan kerap melanggar aturan zonasi. Ruang terbuka hijau yang secara ideal minimal 30 persen dari luas kota sering kali hanya menjadi angka di atas kertas. Drainase dibangun, tetapi tidak pernah cukup untuk menampung limpasan air yang volumenya terus meningkat akibat hilangnya daerah resapan.
Lebih dari itu, sungai dan saluran air dipersempit, diluruskan, bahkan ditutup. Sungai diperlakukan sebagai halaman belakang kota, tempat pembuangan sampah dan limbah. Ketika hujan deras datang, sungai yang dangkal dan menyempit tak mampu menampung debit air. Banjir pun tak terelakkan.
Faktor Sosial, Tata Kelola, dan Mentalitas
Selain persoalan fisik, banjir juga dipengaruhi oleh faktor sosial dan tata kelola. Sampah rumah tangga yang menyumbat saluran air masih menjadi masalah klasik. Kesadaran lingkungan tumbuh, tetapi belum berbanding lurus dengan perubahan perilaku. Di sisi lain, penegakan hukum terhadap pelanggaran lingkungan kerap setengah hati. Bangunan yang berdiri di bantaran sungai terus dibiarkan, seolah negara tak berdaya menghadapi pelanggaran yang berulang.
Banjir hari ini bukan sekadar soal alam, melainkan juga soal pilihan politik dan kebijakan. Anggaran penanggulangan banjir sering habis untuk proyek-proyek besar yang bersifat reaktif, seperti normalisasi sungai atau pembangunan tanggul, tanpa diimbangi dengan upaya pencegahan jangka panjang. Pendekatan ekologis, seperti pemulihan daerah resapan dan pengendalian pembangunan, sering kalah pamor karena hasilnya tidak instan.
Ironisnya, masyarakat urban perlahan menormalisasi banjir. Genangan dianggap risiko hidup di kota, bukan kegagalan sistem. Sikap berdamai ini membuat tekanan publik terhadap pemerintah melemah. Selama banjir masih bisa “diterima”, perubahan struktural tak pernah benar-benar dipaksakan.
Banjir Hari Ini, Cermin Masalah Lama
Banjir yang kembali melanda sejumlah kawasan perkotaan hari ini menjadi cermin betapa masalah lama tak pernah diselesaikan. Genangan di permukiman padat, pusat bisnis, hingga ruas jalan utama menunjukkan bahwa solusi tambal sulam tak lagi memadai. Setiap tahun, pola yang sama berulang, dengan narasi yang juga sama: hujan deras, drainase tersumbat, sungai meluap.
Jika kota ingin benar-benar selesai dengan banjir, perubahan mendasar harus dilakukan. Kota perlu dikembalikan sebagai ruang hidup yang selaras dengan alam, bukan sekadar mesin ekonomi. Ruang serap air harus dipulihkan, tata ruang ditegakkan, dan mentalitas berdamai dengan banjir harus diakhiri. Selama air terus diperlakukan sebagai musuh yang harus dibuang secepat mungkin, kota akan terus kalah setiap kali hujan turun.
Baca Juga
-
Tawuran Pelajar dan Kegagalan Kota Membaca Generasi Muda: Bagaimana Memutus Akarnya?
-
Alienasi di Balik Pintu Kos: Kesepian Kolektif di Sudut Ruang Kota
-
Fenomena Soft Life di Antara Ambisi dan Kelelahan: Apakah Kita Berhak untuk Melambat?
-
Estetika Media Sosial: Kala Hidup Lebih Penting Terlihat daripada Dijalani
-
Jika Kota Tidak Ramah Pejalan Kaki, Gaya Hidup Sehat Sulit Diwujudkan?
Artikel Terkait
-
Banjir Ganggu Transjakarta Pagi Ini, 3 Rute Dialihkan dan Sejumlah Halte Tak Terlayani
-
Air Mulai Surut, Tapi Jakarta Belum Sepenuhnya Aman: 30 RT Masih Dikepung Banjir
-
KPK Sita Dokumen Proyek Hingga Barang Bukti Elektronik dari Kantor Wali Kota Madiun
-
Lisa BLACKPINK Syuting Film Extraction: Tygo di Tangerang, Pintu Air 10 Bakal Mendunia
-
Syuting Film 'Tygo' Lisa Blackpink di Pintu Air 10 Tangerang Dimulai Besok, Mobil Properti Siaga
Kolom
-
Pemulihan Aceh Pascabencana: Ini Suara untuk Negara yang Lambat Bertindak!
-
Di Balik Persaingan Ketat dan Banyaknya Jalur Masuk ke Perguruan Tinggi
-
Ketika Berita Ramai Dibaca tapi Kehilangan Makna
-
Pidato Progresif, Anggaran Pasif: Ironi Pendidikan di Tangan Prabowo
-
Nasihat Berujung Polisi: Kronologi Kasus Bu Budi dan Masa Depan Guru
Terkini
-
Polemik Transfer Maarten Paes: Dianggap Mahal untuk Seorang Kiper Pelapis!
-
4 Film Korea Tayang Februari 2026, Comeback Choi Woo Shik hingga Zo Insung
-
Sparks of Tomorrow Siap Tayang Juli, Pencarian Buku Katalog Listrik Dimulai
-
3 Drama Korea Bertema Hukum yang Tayang di Awal Tahun 2026, Terbaru Honour
-
Sinopsis Mercy, Film Thriller yang Mengungkap AI Jadi Hakim Keadilan