suara hijau

Banjir yang Tak Pernah Usai: Kota, Beton, dan Kekalahan Berulang

Hayuning Ratri Hapsari | Irhaz Braga
Banjir yang Tak Pernah Usai: Kota, Beton, dan Kekalahan Berulang
Ilustrasi banjir (Pixabay/bohemianbikinia)

Setiap musim hujan tiba, sejumlah kota di Indonesia seperti mengulang adegan lama yang tak pernah tamat. Jalan berubah menjadi sungai, permukiman terendam, aktivitas lumpuh, dan warga kembali mengeluh sembari menunggu air surut. Banjir seolah bukan lagi bencana, melainkan rutinitas musiman yang diterima dengan pasrah. Di banyak kota besar, masyarakat urban tampak telah berdamai dengan genangan air. Mereka menyiapkan sepatu bot, mengangkat barang ke tempat lebih tinggi, dan menyesuaikan jam kerja. Pertanyaannya, mengapa kota tak pernah benar-benar selesai dengan banjir?

Masalah banjir di perkotaan kerap direduksi menjadi persoalan curah hujan ekstrem. Padahal hujan hanyalah pemicu, bukan penyebab utama. Akar persoalannya justru terletak pada cara kota dibangun, dikelola, dan diperlakukan. Kota tumbuh dengan logika beton, bukan dengan kesadaran ekologis. Ruang serap air dikorbankan demi bangunan, jalan, dan kawasan komersial. Air yang seharusnya meresap ke tanah akhirnya dipaksa mengalir di permukaan, mencari jalan sendiri, dan meluap ke mana-mana.

Ruang Serap yang Terus Menyusut

Salah satu penyebab paling krusial banjir perkotaan adalah menyusutnya ruang serap air. Lahan hijau, sawah, rawa, dan daerah resapan perlahan hilang digantikan oleh perumahan, pusat perbelanjaan, dan infrastruktur keras. Tanah yang dulu berfungsi sebagai spons alami kini tertutup aspal dan beton yang kedap air. Akibatnya, daya tampung tanah terhadap air hujan menurun drastis.

Di banyak kota, rencana tata ruang sering kalah oleh kepentingan ekonomi jangka pendek. Alih fungsi lahan dilakukan secara masif, bahkan kerap melanggar aturan zonasi. Ruang terbuka hijau yang secara ideal minimal 30 persen dari luas kota sering kali hanya menjadi angka di atas kertas. Drainase dibangun, tetapi tidak pernah cukup untuk menampung limpasan air yang volumenya terus meningkat akibat hilangnya daerah resapan.

Lebih dari itu, sungai dan saluran air dipersempit, diluruskan, bahkan ditutup. Sungai diperlakukan sebagai halaman belakang kota, tempat pembuangan sampah dan limbah. Ketika hujan deras datang, sungai yang dangkal dan menyempit tak mampu menampung debit air. Banjir pun tak terelakkan.

Faktor Sosial, Tata Kelola, dan Mentalitas

Selain persoalan fisik, banjir juga dipengaruhi oleh faktor sosial dan tata kelola. Sampah rumah tangga yang menyumbat saluran air masih menjadi masalah klasik. Kesadaran lingkungan tumbuh, tetapi belum berbanding lurus dengan perubahan perilaku. Di sisi lain, penegakan hukum terhadap pelanggaran lingkungan kerap setengah hati. Bangunan yang berdiri di bantaran sungai terus dibiarkan, seolah negara tak berdaya menghadapi pelanggaran yang berulang.

Banjir hari ini bukan sekadar soal alam, melainkan juga soal pilihan politik dan kebijakan. Anggaran penanggulangan banjir sering habis untuk proyek-proyek besar yang bersifat reaktif, seperti normalisasi sungai atau pembangunan tanggul, tanpa diimbangi dengan upaya pencegahan jangka panjang. Pendekatan ekologis, seperti pemulihan daerah resapan dan pengendalian pembangunan, sering kalah pamor karena hasilnya tidak instan.

Ironisnya, masyarakat urban perlahan menormalisasi banjir. Genangan dianggap risiko hidup di kota, bukan kegagalan sistem. Sikap berdamai ini membuat tekanan publik terhadap pemerintah melemah. Selama banjir masih bisa “diterima”, perubahan struktural tak pernah benar-benar dipaksakan.

Banjir Hari Ini, Cermin Masalah Lama

Banjir yang kembali melanda sejumlah kawasan perkotaan hari ini menjadi cermin betapa masalah lama tak pernah diselesaikan. Genangan di permukiman padat, pusat bisnis, hingga ruas jalan utama menunjukkan bahwa solusi tambal sulam tak lagi memadai. Setiap tahun, pola yang sama berulang, dengan narasi yang juga sama: hujan deras, drainase tersumbat, sungai meluap.

Jika kota ingin benar-benar selesai dengan banjir, perubahan mendasar harus dilakukan. Kota perlu dikembalikan sebagai ruang hidup yang selaras dengan alam, bukan sekadar mesin ekonomi. Ruang serap air harus dipulihkan, tata ruang ditegakkan, dan mentalitas berdamai dengan banjir harus diakhiri. Selama air terus diperlakukan sebagai musuh yang harus dibuang secepat mungkin, kota akan terus kalah setiap kali hujan turun.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak