Sobat Yoursay, di sebuah pondok bambu di Kabupaten Ngada, NTT, seorang bocah berusia sepuluh tahun bernama YBR baru saja menuliskan surat perpisahan terakhir untuk ibunya. Bukan karena dia membenci dunianya, tapi karena dia merasa dunia telah menutup pintu baginya hanya karena ia tidak memiliki buku dan pena untuk sekolah. Tragis? Lebih dari itu. Ini adalah horor nyata yang terjadi di negeri yang katanya sedang bersiap menuju "Indonesia Emas 2045".
Kejadian ini adalah tamparan keras bagi nurani kita semua, terutama bagi mereka yang duduk manis di kursi empuk kekuasaan di Senayan. Bagaimana mungkin, di tengah riuhnya pembicaraan tentang program raksasa bernilai ratusan triliun rupiah bernama Makan Bergizi Gratis (MBG), ada seorang anak manusia yang harus membayar nyawanya hanya karena sebatang pena yang harganya tak sampai selembar uang lima ribuan?
Sobat Yoursay, mari kita bedah narasi ini dengan kepala dingin. Kita semua tahu gizi itu penting dan nutrisi adalah hak setiap anak agar mereka bisa tumbuh cerdas. Tapi, ada satu hal yang mengganjal dalam kebijakan pemerintah saat ini, yaitu di mana posisi martabat seorang siswa jika perutnya kenyang, namun ia harus kehilangan nyawa hanya karena tak mampu membeli sebuah pena? Ini adalah pertanyaan tentang skala prioritas yang harus dijawab oleh pemerintahan Presiden Prabowo.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) saat ini dianggap "anak emas" dalam kebijakan negara—sebuah proyek mercusuar yang digadang-gadang akan menyelesaikan masalah stunting dan kemiskinan dalam satu suapan. Anggarannya fantastis, mencapai angka ratusan triliun rupiah.
Bayangkan, Sobat Yoursay, negara begitu bersemangat menggelar karpet merah untuk katering massal, membangun dapur umum, hingga merancang birokrasi baru untuk memastikan setiap anak mendapat susu dan makan siang. Tapi, di tengah kemegahan angka-angka triliunan itu, mengapa sebatang pena seharga dua ribu perak justru luput dari radar perlindungan negara?
Tragedi di NTT ini menunjukkan sebuah realitas yang menyakitkan tentang kebijakan negara. Gizi memang penting, tapi ia tak sanggup menyembuhkan luka mental seorang anak yang dihancurkan oleh kemiskinan.
Apa gunanya program makan gratis jika anak-anak tetap merasa kerdil karena tidak mampu membeli buku dan pena? Jangan sampai kita hanya sibuk menciptakan generasi yang sehat secara fisik, namun di saat yang sama mereka menderita "busung lapar" pada aspek martabat dan kepercayaan diri.
Sobat Yoursay, mari kita lihat betapa timpangnya prioritas kita. Negara sanggup sibuk mengurus pengiriman bahan pangan secara massal ke pelosok negeri, tapi entah mengapa, mereka gagal menjangkau kebutuhan seorang bocah di NTT yang hanya butuh alat tulis sederhana. Sungguh aneh ketika negara mampu menggerakkan ribuan orang untuk urusan logistik dapur, namun abai memberikan perlengkapan paling mendasar bagi seorang siswa untuk berjuang di ruang kelas.
Bagi YBR, sekolah, yang seharusnya menjadi rumah kedua dan tempat mimpinya dirawat, justru berubah menjadi ruang penghakiman bagi kemiskinannya. Ketika negara gagal hadir untuk sekadar memastikan tas sekolah seorang anak tidak kosong, maka sebenarnya negara sedang membiarkan anak itu memikul beban ekonomi yang bahkan orang dewasa pun sering tak sanggup menanggungnya sendirian.
Sobat Yoursay, bukankah tragis jika di masa depan kita hanya punya generasi yang kuat secara fisik, tapi mereka kehilangan kemampuan untuk menuliskan sejarah mereka sendiri karena sistem pendidikan kita masih menganggap buku dan pena sebagai "biaya tambahan" yang ditanggung sendiri oleh si miskin?
Bagaimana menurut Sobat Yoursay? Apakah negara terlalu silau dengan program-program besar hingga lupa bahwa nyawa anak bangsa seringkali bergantung pada hal-hal kecil yang luput dari perhatian?
Kita butuh lebih dari sekadar permintaan maaf dari Gubernur atau Kepala Dinas. Kita butuh kebijakan yang berpihak pada mereka yang paling rentan. Jika pemerintah pusat mampu menyiapkan anggaran fantastis untuk makan gratis, maka seharusnya tidak ada alasan lagi untuk tidak menyediakan kebutuhan dasar bagi setiap anak dari keluarga prasejahtera.
Pendidikan gratis haruslah tuntas. Jangan biarkan anak-anak kita merasa minder dan tersisih hanya karena tidak punya perlengkapan sekolah. Skala prioritas harus digeser. Sebelum negara bicara tentang makan siang gratis, pastikan dulu setiap tangan anak Indonesia memegang pena. Karena dengan pena itulah mereka akan melawan kemiskinan, dan dengan buku itulah mereka akan mengubah nasib keluarga mereka.
Kematian bocah 10 tahun ini adalah bukti bahwa pembangunan kita masih timpang. Kita terlalu sibuk membangun mercusuar di pusat, sampai lupa bahwa di pelosok sana, lentera-lentera kecil sedang padam karena kehabisan minyak.
Sobat Yoursay, menurut kamu, apakah adil jika anggaran triliunan untuk program baru tetap dipaksakan, sementara kebutuhan dasar seperti buku dan pena bagi warga miskin masih luput dari perhatian? Sampai kapan nurani kita akan terus diajak bernegosiasi dengan angka-angka statistik, sementara di lapangan, masa depan bangsa sedang terkubur bersama surat perpisahan seorang anak SD?
Mari kita terus bersuara. Karena jika kita diam, pena-pena lain mungkin akan kembali patah, dan buku-buku lain mungkin akan tertutup selamanya sebelum sempat dituliskan satu kata pun tentang harapan.
Baca Juga
-
Guru di Ujung Laporan: Mengapa Mediasi Kini Kalah oleh Jalur Hukum?
-
Pidato Progresif, Anggaran Pasif: Ironi Pendidikan di Tangan Prabowo
-
Nasihat Berujung Polisi: Kronologi Kasus Bu Budi dan Masa Depan Guru
-
Motor dan Modal Usaha: Empati yang Menenangkan, tapi Apakah Menyelesaikan?
-
Vonis Tanpa Bukti Lab: Saat Laporan Warga Jadi Senjata Intimidasi Aparat
Artikel Terkait
-
Bocah 10 Tahun di Ngada Bunuh Diri, Menteri PPPA Sentil Kerapuhan Sistem Perlindungan Anak Daerah
-
Istana Buka Suara soal Siswa SD Akhiri Hidup di NTT
-
Buntut Siswa SD di NTT Bunuh Diri, Komisi X DPR Bakal Panggil Mendikdasmen Pekan Depan
-
Kapolres Ngada Ungkap Kematian Bocah 10 Tahun di NTT Bukan Akibat Ingin Dibelikan Buku dan Pena
-
Geger Tragedi Siswa SD di NTT, Amnesty International: Ironi Kebijakan Anggaran Negara
Kolom
-
Mengakarnya Budaya Patriarki dan Absennya Peran Ayah di Rumah Tangga
-
Real or AI: Krisis Nalar Kritis Kala Konten AI di Media Sosial Kian Nyata
-
Belajar Berjalan Lebih Pelan: Menemukan Ketenangan di Tengah Dunia yang Berisik
-
Merokok, Pola Asuh Ayah, dan Persepsi Kesehatan Anak Lintas Generasi
-
Digitalisasi Industri dan Ancaman Pengangguran Struktural
Terkini
-
Niat Cari Jajanan Kaki Lima, Turis di Tailan Malah Disuguhi Makanan di Acara Duka
-
Harga Terjun Bebas! 5 Flagship Ini Makin Masuk Akal Dibeli
-
4 Serum Anti-Aging Tanpa Pewangi dan Alkohol yang Gentle untuk Kulit Sensitif
-
Mengenal Legenda Putri Mandalika di Balik Tradisi Bau Nyale 2026 di Lombok Tengah
-
Membaca Lebih Putih Dariku: Perjuangan Identitas di Tengah Rasisme