M. Reza Sulaiman | Zahrin Nur Azizah
Ilustrasi guru yang mendampingi muridnya belajar (Pexels/Ahmet Kurt)
Zahrin Nur Azizah

Hari itu terasa lebih panjang dari biasanya. Bukan karena jam dinding di kelas berjalan lebih lambat, melainkan karena aku harus menghadapinya sendirian di kelas yang, kata banyak orang, sulit diatur. Pikiranku pun kembali pada percakapan dengan teman-temanku kemarin.

“Aku tidak mau mengajar kelas itu,” ucap salah satu dari mereka. Nadanya terdengar ketus, seolah-olah kelas tersebut adalah sesuatu yang sebaiknya dihindari.

Kami berenam memang mendapat tugas mengajar di sebuah sekolah dasar. Ini adalah bagian dari tugas perkuliahan. Guru pamong memberikan kebebasan memilih kelas, dengan catatan pembagiannya tetap merata.

Namun kenyataannya, teman-temanku lebih dulu memilih kelas yang menurut mereka anak-anaknya lebih tertib dan mudah diatur. Aku tidak keberatan ditempatkan di kelas mana pun. Hanya saja, cara mereka memilih tanpa bertanya atau berdiskusi membuatku merasa seolah-olah keputusan itu sudah ditetapkan tanpa suaraku didengarkan.

Aku menghela napas panjang. Tidak ada gunanya memperpanjang perasaan tersinggung. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa aku bisa mengajar di kelas mana pun, bagaimanapun kondisinya.

Lamunanku buyar ketika suara tawa dan teriakan anak-anak memenuhi ruangan. Di hadapanku, beberapa anak berlarian ke sana kemari. Ada yang menyeret kursi hingga menimbulkan suara derit panjang. Ada pula yang menaiki bangku lalu melompat turun dengan suara gedebuk yang menggema di lantai. Meja-meja bergeser tak beraturan, membuat suasana semakin bising. Keringat mulai mengalir di pelipisku, entah karena panas atau karena kesabaran yang mulai diuji.

Aku mencoba menegur mereka, namun suaraku tenggelam oleh riuhnya kelas. Dadaku terasa sesak. Ada dorongan dalam hatiku untuk meninggikan suara, bahkan untuk marah. Tapi aku menahannya. Aku menarik napas dalam-dalam dan memilih cara lain.

Aku memilih untuk diam.

Aku berdiri di depan kelas, menatap satu per satu wajah anak-anak itu. Keringat menetes perlahan, senyum tipis terpasang meski terasa kaku. Beberapa detik berlalu. Keributan mulai berkurang. Hingga akhirnya, seorang anak berteriak lantang pada teman-temannya.

“Hei! Semuanya diam!”

Kelas mendadak sunyi. Aku menahan senyum yang hampir lolos, lalu merapikan jas almamaterku sebelum mulai berbicara.

“Anak-anak, hari ini kita belajar Matematika,” ucapku dengan suara lantang.

Keluhan langsung bersahutan. Ada yang menghela napas panjang, ada yang bersungut-sungut, bahkan ada yang menawar pelajaran lain asalkan bukan Matematika. Menyaksikan hal itu membuat sudut bibirku terangkat tipis. Kini aku mulai memahami mengapa kelas ini mendapat label sebagai kelas yang sulit diatur.

“Tenang,” kataku mencoba meyakinkan mereka. “Materinya tidak sesulit yang kalian bayangkan. Kita akan belajar cara memakai penggaris busur.”

Akhirnya, pelan dan bertahap, kelas mulai lebih terkendali. Suara kursi masih sesekali bergeser, tetapi tidak lagi disertai teriakan. Aku berjalan berkeliling, memperhatikan pekerjaan anak-anak.

Hingga pandanganku tertuju pada seorang anak laki-laki yang duduk diam di sudut kelas. Di tangan kecilnya, penggaris busur tergenggam tanpa digunakan. Alisnya berkerut, pandangannya kosong dan bingung. Aku menghampirinya dan berjongkok di samping bangkunya.

“Masih bingung?” tanyaku pelan, berusaha agar tidak terdengar menghakimi.

Ia menoleh, tersenyum kikuk, lalu mengangguk kecil. Tangannya bergerak ragu, seolah-olah takut salah. Aku mengambil selembar kertas dan menunjukkan cara meletakkan busur dengan benar serta menarik garis sudut secara perlahan.

“Pelan-pelan saja,” kataku dengan suara lembut. “Tidak apa-apa kalau belum bisa. Kalau masih bingung, tanya lagi.”

Ia mencoba mengikuti. Garis yang ia buat belum lurus, sudutnya belum tepat. Tapi setelah beberapa kali mencoba, tangannya mulai lebih yakin. Ada tatapan bangga di matanya ketika ia mulai berhasil mencoba sendiri. Aku tersenyum. Ada perasaan lega yang sulit dijelaskan dalam benakku.

Keesokan harinya, aku tidak memiliki jadwal mengajar di kelas itu. Namun entah mengapa, kakiku berhenti di depan pintu kelas tersebut. Dari luar, aku mendengar keramaian yang sama. Suara tawa, gesekan kursi, dan teriakan kecil yang kini terdengar akrab. Aku duduk di bangku belakang, hanya memperhatikan. Beberapa anak menyapaku dan mungkin saja mereka sudah mulai terbiasa denganku.

Seorang anak mendekatiku dan aku langsung mengenalinya. Dia adalah anak laki-laki yang kemarin belajar menggunakan penggaris busur denganku. Ia duduk di sebelahku, menunduk, jarinya saling memainkan ujung seragam.

“Terima kasih, Bu,” ucapnya pelan.

Aku terdiam sejenak lalu menoleh padanya. “Terima kasih untuk apa?”

“Terima kasih sudah mengajarkan saya pakai penggaris busur kemarin.”

Ucapan terima kasih itu memang hanyalah kalimat sederhana. Singkat dan diucapkan dengan suara pelan serta malu-malu. Namun entah mengapa, dadaku terasa penuh dan hangat. Bahkan ucapan sederhana itu telah berhasil membuatku terdiam dan merenung sejenak.

Bagiku, apa yang kulakukan hari itu hanyalah bagian dari tugasku: menjelaskan, mendampingi, lalu mengulang pelajaran sampai dipahami. Tidak lebih dari itu. Namun aku lupa bahwa bagi orang lain, hal yang sama bisa bermakna jauh lebih besar.

Sejak hari itu, caraku memandang kelas berubah. Aku tidak lagi sekadar berdiri di depan, menyampaikan materi, lalu pergi. Aku mulai belajar lebih memperhatikan siapa yang tertinggal, siapa yang diam, dan siapa yang sebenarnya hanya membutuhkan sedikit waktu dan perhatian.

Karena kini aku mengerti, perhatian kecil yang kita anggap sepele, bagi seseorang bisa menjadi sesuatu yang sangat berharga.