Berita tentang krisis iklim sering kali terasa horor, menakutkan, membuat dada sesak, dan berujung pada keinginan untuk segera menutupnya. Fenomena ini biasa disebut dengan climate fatigue atau kelelahan akibat terpapar informasi negatif mengenai krisis iklim secara terus-menerus. Namun, penelitian terbaru dari Dr. Ángela Alonso-Jurnet dari Universitas Basque Country (EHU) ternyata membawa angin segar.
Dr. Alonso mengidentifikasi sepuluh peluang emas di media digital untuk mengubah narasi krisis iklim menjadi gerakan transformatif. Tentunya, di dunia yang saling terhubung saat ini, komunikasi menjadi inti dari respons terhadap perubahan iklim. Oleh karena itu, platform digital bisa digunakan untuk menyebarkan pengetahuan ilmiah, pembangunan komunitas, dan pembentukan narasi kolektif yang melampaui batas negara.
Namun, pada era yang serba cepat ini, tidak menutup kemungkinan terjadinya disinformasi, polarisasi, dan kelelahan informasi yang justru mengaburkan pesan-pesan penting sehingga memicu ketidakpedulian.
Fokus pada Solusi, Bukan Sekadar Polusi
Dr. Alonso menyatakan kunci utamanya adalah berhenti menghujani audiens dengan dampak-dampak bencana. Ia mengungkapkan bahwa sejatinya lebih penting untuk membahas solusi, bukan hanya konsekuensi. Hal ini akan lebih ampuh dijalankan di platform TikTok dan Instagram.
Menariknya, konten-konten gaya hidup seperti Do It Yourself (DIY) dan tip-tip daur ulang yang sering kali dianggap sepele, justru menjadi pintu masuk yang efektif. Dari sini, audiens terpacu untuk melakukan diskusi mendalam di kolom komentar sehingga terjadi pertukaran saran dan mereka merasa memiliki kendali atas situasi yang terjadi.
Membangun Komunitas, Bukan Penonton
Konten-konten digital begitu kuat karena memiliki aspek emosi dan empati. Dalam penelitiannya, Alonso menekankan koneksi emosional dengan menggunakan format visual dan cerita yang dapat menyentuh perasaan audiens agar mereka merasa terlibat secara personal.
Selain itu, pemberdayaan (empowerment) juga penting dilakukan dengan memberikan alat dan ide nyata kepada audiens untuk bisa mereka praktikkan. Ketika orang merasa berdaya, rasa pasrah yang ada di dalam diri mereka akan hilang.
Terakhir adalah menciptakan ruang dialog dua arah. Dalam hal ini, media sosial bukan panggung satu arah, sehingga komunikasi harus dilakukan langsung melalui interaksi dari komunitas dengan publik untuk membangun narasi kolektif.
Harapan di Tengah Krisis
Meskipun data ilmiah sebenarnya menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan, penelitian Dr. Alonso ini menemukan bahwa komunitas ilmuwan di ruang digital justru sangat optimistis. Bukan lagi tentang angka, mereka mulai bertransformasi menggunakan video pendek dan konten transmedia untuk membangun makna agar audiens lebih tertarik dan tidak ketakutan saat terpapar informasi.
Jadi, komunikasi iklim di era digital dapat dilakukan dengan menjaga keseimbangan antara ketelitian data dan kekuatan emosi. Bukan lagi sekadar untuk berbagi foto atau gosip, media sosial kini bisa menjadi sekutu yang kuat untuk menggerakkan transisi ekosistem yang lebih adil dan berkelanjutan.
Baca Juga
-
Metode Baca Bareng di Taman: Cara Ibu-Ibu Jagakarsa Mengajarkan Anak Mencintai Buku Tanpa Paksaan
-
Satu Tante yang Teredukasi Bisa Berdayakan Satu Keluarga, Gimana Caranya?
-
Lari dari Adiksi Gawai dan Stres Domestik: Para Ibu di Klabu Temukan Kewarasan Lewat Literasi
-
Dear Tante: Saat Sosok "Aunty" Hadir Menjadi Support System Hangat bagi Ibu Baru
-
Fenomena 'Digital to Reality': Mengapa Interaksi Online Jadi Kunci Konser Artis Mancanegara?
Artikel Terkait
-
PT Agincourt Resources Digugat Rp 200 Miliar oleh KLH
-
Operasional RDF Rorotan Dilakukan Bertahap, Warga Diminta Tak Khawatir Bau
-
Sampah Penuhi Taman Wisata Laut Teluk Kupang
-
DPR Minta Perbaikan Infrastruktur Pascabencana Jangan Sampai Sia-sia Akibat Lingkungan Tak Terurus
-
28 Perusahaan di Aceh, Sumut, dan Sumbar Dicabut Izin Usahanya oleh Satgas PKH, Apa Alasannya?
News
-
Desa Les Buleleng: Saat Tradisi Garam Kuno Berpadu dengan Inovasi Modern
-
Merawat Syiar Islam Berkemajuan: Peringatan 666 Tahun Islam Masuk Papua di Fakfak
-
Ancaman El Nino 2026: Luas Area Terindikasi Terbakar Capai Tiga Kali Lipat Daratan Jakarta
-
Pariwisata Maju, Lalu Lintas Mundur: Sisi Gelap di Balik Viralnya Situ Kamojing Cikampek
-
Garam Palungan Desa Les: Menjaga Warisan Leluhur di Bawah Matahari Bali Utara
Terkini
-
Saat Jas Putih Diuji: Selelah-lelahnya Tenaga Kesehatan, Tetap Lebih Melelahkan Jadi Pasien
-
Harga Alat Medis Empat Kali Lipat, Bisakah Layanan Kesehatan Tetap Murah?
-
Bencana dari Hal Sepele: Bahaya Buang Puntung Rokok Sembarangan di Musim Kemarau
-
"The Rock from the Sky" dan Pelajaran tentang Berani Menghadapi Perubahan
-
Fenomena AI Slop: Mengapa Poster UMKM Makin Seragam dan Bikin Kita Bosan?