M. Reza Sulaiman | Vicka Rumanti
Ilustrasi bingung menahan lapar atau godaan media sosial (Freepik/freepik)
Vicka Rumanti

Pada tahun 2026, terdapat pemandangan menarik di kalender kita. Pertengahan bulan Februari ini, teman-teman Muslim sedang menjalankan ibadah Ramadan, sementara teman-teman Kristen juga menjalani masa Prapaskah. Keduanya memiliki benang merah yang sama, yakni menahan diri.

Namun, di tengah gempuran teknologi, muncul sebuah perdebatan baru di kalangan Gen Z. Kira-kira menurutmu manakah yang sebenarnya sulit dilakukan, spiritual fasting dengan menahan lapar dan dahaga, atau digital fasting dengan meninggalkan media sosial kita?

Spiritual Fasting vs. Digital Fasting

Menahan lapar dan haus dari subuh sebelum matahari terbit hingga magrib setelah matahari terbenam, serta berpantang makanan favorit selama empat puluh hari sangat membutuhkan niat dan tekad yang tinggi untuk menjalankannya. Bagi Gen Z yang aktif bekerja, apalagi di luar ruangan atau di lapangan, hal ini akan menjadi tantangan yang lumayan berat.

Namun, di sini puasa spiritual mempunyai "sistem pendukung" yang sangat kuat. Saat Ramadan, semua orang ikut merasakan lapar yang sama sehingga ada rasa solidaritas yang disertai doa dan niat. Tujuannya adalah untuk menahan diri dan mendekatkan diri pada Tuhan.

Di sisi lain, digital fasting akan terasa seperti melawan sebuah monster raksasa yang tidak terlihat. Bagi Gen Z yang tumbuh besar bersama canggihnya teknologi smartphone, melepaskan diri dari Instagram atau TikTok selama sehari saja bisa memicu Fear of Missing Out (FOMO) yang hebat.

Hal ini bisa jadi lebih sulit karena kita sudah terbawa arus dan memiliki kecanduan terhadap media sosial tersebut. Algoritma membawa kita untuk masuk lebih dalam dan terus menonton hal-hal yang muncul berdasarkan apa yang kita sukai. Lapar perut bisa diatasi dengan makan kemudian hilang, tetapi lapar dopamin bisa muncul tiap detik tanpa penghalang.

Saat diri kita sendiri melakukan digital detox, dunia terus berjalan, orang-orang mendapatkan informasi yang selalu berubah dan berganti sesuai tren perkembangan. Dari sini, kita kemudian merasa tertinggal dari orang-orang lain yang selalu update tentang info konser, tren meme terbaru, atau bahkan gosip selebritas yang tiba-tiba viral untuk menutupi permasalahan politik yang sering kali agak janggal.

Tanpa dukungan lingkungan yang seragam, puasa digital akan terasa seperti isolasi mandiri yang mengharuskan kita bergelut dalam diam.

Mana yang Lebih Sulit?

Mungkin bagi banyak Gen Z, menahan lapar lebih bisa diprediksi. Namun, menahan diri untuk tidak membuka media sosial adalah tantangan tersendiri yang sedikit sulit untuk dikompromikan.

Puasa spiritual bisa melatih kontrol diri atas keinginan mendasar dan puasa digital bisa membersihkan pikiran dari brain rot. Baik itu Ramadan maupun Prapaskah, puasa memiliki esensi untuk mengambil kendali atas diri sendiri. Jangan sampai kita sanggup menahan lapar seharian, tetapi justru kekenyangan memakan konten-konten negatif atau gibah netizen di kolom komentar.

Jadi, harus seimbang, ya. Jangan biarkan jiwa kita kering karena keseringan menatap layar karena sebenarnya puasa yang paling sulit adalah memuasa sesuatu hal yang memberi banyak distraksi pada diri. Jadi, yuk, bijak pada diri sendiri dan mendekatkan diri pada Tuhan di masa puasa ini!