Sekar Anindyah Lamase | Yayang Nanda Budiman
Ilustrasi sosial media (Pixabay)
Yayang Nanda Budiman

Ramadhan selalu dipahami sebagai bulan pengendalian diri. Umat Islam berlatih menahan lapar, dahaga, dan amarah sejak fajar hingga senja. Namun di era konektivitas tanpa henti, ada bentuk kelelahan baru yang sering luput dari perhatian, yakni burnout digital.

Ia tidak terlihat, tetapi terasa dalam bentuk jenuh, cemas, sulit fokus, dan rasa tertekan akibat paparan layar yang berlebihan.

Setiap hari kita dibanjiri notifikasi, pesan instan, linimasa media sosial, dan arus informasi yang seolah tidak pernah berhenti.

Batas antara waktu kerja dan waktu pribadi semakin kabur. Bahkan saat beristirahat, tangan masih refleks membuka aplikasi.

Dalam kondisi seperti ini, puasa menawarkan peluang unik untuk melakukan detoks media sosial, sebuah jeda sadar dari kebiasaan digital yang melelahkan.

Pertanyaannya, mampukah Ramadhan menjadi momentum untuk memulihkan relasi kita dengan teknologi?

Burnout Digital dan Kehilangan Hening

Burnout digital bukan sekadar bosan bermain gawai. Ia adalah akumulasi kelelahan mental akibat paparan informasi yang terus-menerus. Rapat daring yang beruntun, tuntutan respons cepat di grup percakapan, serta tekanan untuk selalu hadir di media sosial menciptakan beban psikologis yang nyata.

Di Indonesia, dengan penetrasi internet yang tinggi dan penggunaan media sosial yang intens, fenomena ini semakin relevan.

Banyak pekerja dan mahasiswa merasa sulit benar-benar beristirahat karena selalu terhubung. Bahkan momen ibadah pun kerap diselingi dorongan untuk mendokumentasikan dan membagikannya.

Akibatnya, ruang hening semakin sempit. Padahal keheningan adalah fondasi refleksi. Tanpa hening, sulit bagi seseorang untuk mengenali kelelahan batin yang dialaminya.

Puasa sejatinya mengembalikan manusia pada kesadaran dasar tentang tubuh dan jiwa. Ketika lapar terasa, kita belajar hadir sepenuhnya pada diri sendiri. Namun jika perhatian terus tersedot layar, proses itu menjadi setengah hati.

Burnout digital sering ditandai dengan sulit fokus membaca panjang, mudah tersinggung, dan merasa tertinggal jika tidak membuka media sosial. Ini adalah gejala ketergantungan atensi. Dalam konteks tersebut, detoks media sosial bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan kebutuhan kesehatan mental.

Puasa sebagai Latihan Batas

Ramadhan menghadirkan struktur waktu yang jelas. Ada sahur, ada imsak, ada waktu berbuka, ada tarawih. Ritme ini dapat dimanfaatkan untuk menata ulang kebiasaan digital. Jika kita mampu membatasi makan dan minum dalam rentang tertentu, semestinya kita juga mampu membatasi akses media sosial.

Detoks media sosial selama puasa tidak harus berarti menghilang total dari dunia maya. Yang lebih penting adalah menetapkan batas sadar.

Misalnya, tidak membuka media sosial pada jam kerja kecuali untuk kebutuhan penting, atau tidak menggulir linimasa setelah tarawih. Waktu yang biasanya habis untuk scroll dapat dialihkan untuk membaca, berdialog langsung dengan keluarga, atau sekadar berdiam diri.

Bulan puasa juga mengajarkan niat sebagai fondasi tindakan. Ketika niat diperbarui setiap hari sebelum berpuasa, itu menjadi pengingat bahwa disiplin lahir dari kesadaran, bukan paksaan. Demikian pula dengan detoks digital. Ia akan efektif jika dilandasi keinginan untuk memulihkan diri, bukan sekadar ikut ikutan.

Lebih jauh, detoks media sosial dapat membantu kita mengurangi budaya perbandingan sosial yang kerap memicu stres. Di bulan Ramadhan, linimasa sering dipenuhi unggahan ibadah, pencapaian pribadi, atau gaya hidup tertentu. Tanpa disadari, kita membandingkan diri dan merasa kurang. Dengan mengurangi paparan tersebut, kita memberi ruang bagi ibadah yang lebih personal dan autentik.

Menata Relasi Baru dengan Teknologi

Teknologi bukan musuh. Ia memudahkan komunikasi, memperluas akses ilmu, dan mempererat jaringan sosial. Banyak kajian dan ceramah Ramadhan yang kini dapat diakses secara daring, menjangkau mereka yang tidak bisa hadir secara fisik. Masalahnya bukan pada alat, melainkan pada cara kita menggunakannya.

Momentum Ramadhan dapat menjadi titik balik untuk menata relasi yang lebih sehat dengan teknologi. Setelah sebulan berlatih membatasi diri, kebiasaan baru dapat dipertahankan. Misalnya, menetapkan hari tanpa media sosial setiap pekan, atau mematikan notifikasi yang tidak mendesak.

Selain itu, institusi dan tempat kerja juga dapat mengambil peran. Budaya respons instan perlu ditinjau ulang. Tidak semua pesan harus dibalas dalam hitungan menit. Menghormati waktu istirahat karyawan adalah bagian dari menjaga kesehatan mental kolektif.

Pada level individu, detoks media sosial selama puasa dapat menjadi pengalaman reflektif. Banyak orang yang mencoba mengurangi penggunaan gawai melaporkan tidur lebih nyenyak, fokus lebih baik, dan emosi lebih stabil. Ini menunjukkan bahwa jeda digital berdampak nyata.

Puasa mengajarkan bahwa manusia memiliki kapasitas untuk menunda kepuasan. Dalam konteks digital, menunda membuka notifikasi adalah bentuk latihan yang sejalan dengan nilai tersebut. Ketika kita mampu berkata cukup pada arus informasi, kita sedang memulihkan kendali atas diri sendiri.

Ramadhan tidak hanya soal menahan lapar, tetapi juga tentang menemukan kembali keseimbangan. Di tengah kebisingan digital, ia mengundang kita untuk berhenti sejenak, mengurangi distraksi, dan menyusun ulang prioritas. Jika momentum ini dimanfaatkan dengan sungguh sungguh, puasa dapat menjadi terapi sunyi yang menyembuhkan burnout digital.

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS