Terkadang kita sering mengira bahwa dengan melakukan screenshot, kita sedang menyelamatkan sebuah momen yang mungkin akan kita buka lagi sebagai bukti sesuatu atau hal-hal yang mungkin akan bermanfaat di masa depan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, ini seperti upaya menumpuk sampah yang tidak ada manfaatnya.
Pernahkah kamu menerima notifikasi “storage full” ketika ingin mengabadikan momen tertentu? Nah, apakah salah satu penyebabnya adalah lebih dari 1.000 screenshot di ponselmu? Pasti itu sudah menumpuk selama bertahun-tahun, mulai dari resep masakan yang tidak pernah dipraktikkan, rekomendasi buku yang tidak pernah dibeli, atau bahkan bukti chat drama yang sudah tidak relevan lagi.
Fenomena ini dikenal sebagai Digital Hoarding. Secara psikologis, kita sering kali merasa sangat sulit menekan tombol hapus pada gambar-gambar yang bahkan tidak pernah kita lihat lagi.
Dalam jurnal berjudul Digital Hoarding Behaviours: Underlying Motivations and Potential Negative Consequences, dijelaskan bahwa digital hoarding adalah kebiasaan menumpuk file digital secara berlebihan, sulit menghapusnya, dan merasa cemas saat harus membuangnya.
Penelitian tentang digital hoarding memang masih terbatas. Namun, ada riset sebelumnya yang membahas kebiasaan serupa, terutama soal pengelolaan email di tempat kerja.
Dalam dunia digital, ada istilah Personal Information Management (PIM) yang dikenalkan oleh Boardman dan Sasse (2004). Istilah ini merujuk pada cara seseorang mengumpulkan, menyimpan, mengatur, dan mencari kembali file digitalnya. Masalahnya, proses ini sering terasa ribet dan melelahkan. Bahkan sejak 1988, Lansdale sudah menyebut bahwa mengelola informasi pribadi bisa terasa membebani.
Penelitian lain oleh Dabbish, Kraut, Fussell, dan Kiesler (2005) menemukan bahwa rata-rata orang menyimpan sekitar setengah email yang mereka terima, tetapi jarang benar-benar merapikan atau menghapus arsip lama.
Menurut Bergman dan Beyth-Marom (2003), banyak orang enggan menghapus file karena takut suatu saat akan membutuhkannya. Selain itu, membereskan file dianggap tidak memberi manfaat langsung, jadi sering ditunda.
Ilusi “Suatu Saat Nanti”
Penyebab utama digital hoarding adalah dari kecemasan akan kehilangan informasi. Sering kali kita merasa apa pun yang sudah kita screenshot itu memiliki informasi yang bernilai tinggi. Dari sini otak kita secara nggak langsung seakan mengatakan, “Simpan dulu, siapa tahu nanti butuh.”
Nah, masalahnya otak kita cenderung malas memproses informasi yang sudah dianggap “tersimpan”. Akibatnya, ribuan tangkapan layar yang sudah menetap di galeri tersebut terus membengkak tanpa pernah dibuka kembali.
Apa Dampaknya?
Menimbun data digital seperti foto, video, atau tangkapan layar memang tidak terlihat seberantakan rumah yang penuh barang fisik. Namun, dampaknya tetap nyata. Tumpukan file yang tidak teratur pelan-pelan menciptakan beban kognitif. Tanpa sadar, kita merasa lelah hanya karena harus mencari satu dokumen penting di antara ribuan gambar yang sebenarnya sudah tidak relevan. Galeri yang semrawut bisa membuat kita kewalahan sebelum benar-benar memulai apa yang ingin dikerjakan.
Di sisi lain, setiap screenshot yang tersimpan—terutama di cloud—membutuhkan energi listrik untuk menjaga server tetap berjalan di pusat data. Artinya, kebiasaan menimbun file digital turut menyumbang jejak karbon, meski dalam skala yang jarang kita pikirkan. Belum lagi waktu yang terbuang untuk menyortir dan membersihkan galeri yang terlanjur penuh. Waktu itu seharusnya bisa dipakai untuk hal yang lebih bermakna, alih-alih tersedot oleh sampah digital yang kita simpan sendiri.
Cara Memutus Rantai Penimbunan
Menurut Nick Neave, Associate Professor in Psychology sekaligus Director of the Hoarding Research Group di Northumbria University, dalam tulisannya di The Conversation berjudul Digital hoarders: we’ve identified four types – which are you?, banyak orang sebenarnya tidak sadar seberapa banyak file yang mereka simpan.
Ketika seseorang ditanya, “Menurutmu ada berapa file di laptop atau ponselmu?”, jawabannya sering membuat mereka kaget. Dari situ mereka baru sadar bahwa kebiasaan menyimpan file, foto, atau email sudah berlebihan.
Neave juga menjelaskan bahwa kebiasaan menimbun file digital sering berkaitan dengan rasa cemas dan tidak aman. Orang takut kalau suatu saat file itu dibutuhkan, jadi semuanya disimpan. Padahal, belum tentu akan dipakai lagi.
Karena itu, solusi tidak hanya soal rajin menghapus file, tapi juga mengatasi rasa cemas di baliknya. Di lingkungan kerja, misalnya, perusahaan bisa membantu dengan mengurangi email yang tidak penting, memberi aturan jelas tentang file apa yang perlu disimpan atau dihapus, serta memberikan pelatihan tentang pengelolaan data.
Dengan cara ini, pekerja tidak lagi merasa takut atau bersalah saat menghapus file lama. Rasa cemas berkurang, dan dorongan untuk terus menimbun data digital pun bisa ditekan.
Baca Juga
-
Ibadah Alam GKJ Baturetno ke-9: Memaknai Api, Kematian, dan Daya Hidup dari Balik Area Makam
-
Metode Baca Bareng di Taman: Cara Ibu-Ibu Jagakarsa Mengajarkan Anak Mencintai Buku Tanpa Paksaan
-
Satu Tante yang Teredukasi Bisa Berdayakan Satu Keluarga, Gimana Caranya?
-
Lari dari Adiksi Gawai dan Stres Domestik: Para Ibu di Klabu Temukan Kewarasan Lewat Literasi
-
Dear Tante: Saat Sosok "Aunty" Hadir Menjadi Support System Hangat bagi Ibu Baru
Artikel Terkait
Kolom
-
Jerat "Child Grooming" Makin Berbahaya, Orang Tua Harus Menyelamatkan Anak
-
Dilema Sandwich Generation: Ketika Memilih Diri Sendiri Terasa Sangat Egois
-
Tragedi Karhutla dan Nasib Ojol: Saat Jalanan Berubah Jadi 'Kamar Gas' Beracun
-
Kekerasan Seksual di Pesantren, Mengapa Terus Terjadi Objektifikasi
-
Dunia Boleh Terburu-buru, sedangkan Aku Hanya Ingin Membaca Pelan-Pelan
Terkini
-
Changmin TVXQ Abadikan Perjuangan Hidup Lewat Album Terbaru, All Of My Life
-
Fan Party TWICE ke-11 Dikritik Lantaran Kapasitas Terbatas dan Aturan Ketat
-
Kulit Auto Adem! 5 Calming Moisturizer Buat Redakan Kemerahan Saat Breakout
-
Kritik Tajam di Buku Kita Lebih Bodoh dari Generasi Soekarno-Hatta
-
He's Just Not That Into You: Ketika Kita Terlalu Sibuk Mencari Alasan