Ada sebuah momen yang selalu berulang setiap kali bulan Ramadan tiba, sebuah transformasi yang barangkali luput dari perhatian kita karena saking terbiasanya. Coba perhatikan meja makan di rumah Sobat Yoursay saat ini. Jika di bulan-bulan biasa meja tersebut seringkali tampak sepi, hanya dihiasi tudung saji yang menutup sisa sarapan yang dingin, atau barangkali hanya menjadi tempat singgah sementara bagi kunci motor dan tumpukan surat tagihan, kini suasananya berubah total.
Meja makan mendadak menjadi pusat semesta kecil di dalam rumah. Ia bersolek dengan aneka piring, mangkuk kecil berisi kurma, hingga termos air hangat yang uapnya mengepul tipis. Ramadan memang punya cara unik untuk memanggil kembali penghuni rumah yang biasanya sibuk dengan dunianya sendiri untuk duduk melingkar dalam satu frekuensi yang sama.
Sobat Yoursay, setuju tidak kalau momen menjelang berbuka adalah waktu di mana "keajaiban" komunikasi terjadi? Di hari-hari biasa, mungkin kita lebih sering makan sambil menatap layar ponsel, membalas surel pekerjaan, atau sekadar melakukan scrolling tanpa henti di media sosial. Namun, di depan meja makan yang ramai saat Ramadan, ada semacam kesepakatan tak tertulis untuk meletakkan sejenak semua distraksi digital tersebut.
Aroma kolak pisang yang manis atau gurihnya bakwan goreng yang baru diangkat dari wajan seolah menjadi magnet yang lebih kuat daripada algoritma aplikasi manapun. Di sinilah, di sela-sela menunggu azan Magrib, obrolan-obrolan ringan yang selama ini tertunda kembali mengalir. Kita kembali mendengar cerita adik tentang sekolahnya, keluhan ayah tentang kemacetan, atau sekadar candaan ibu tentang betapa mahalnya harga cabai di pasar pagi tadi.
Namun, ramainya meja makan ini juga membawa sebuah pesan informatif yang perlu kita renungkan bersama, Sobat Yoursay. Seringkali, saking semangatnya meramaikan meja makan, kita terjebak dalam perilaku konsumtif yang berlebihan.
Pernahkah Sobat Yoursay merasa lapar mata saat berburu takjil di sore hari? Rasanya semua pedagang di pinggir jalan ingin kita borong dagangannya. Es buah, gorengan, lontong, hingga martabak telur seolah berteriak minta dibeli. Akibatnya, meja makan tidak hanya ramai oleh orang, tetapi juga ramai oleh tumpukan makanan yang pada akhirnya tidak sanggup kita habiskan.
Kita perlu belajar untuk menata kembali keramaian di atas meja tersebut. Ramai bukan berarti harus berlebihan. Sebenarnya, sepiring kurma dan segelas air putih sudah cukup untuk membatalkan puasa secara syari, namun tradisi kita memang senang memeriahkannya dengan aneka hidangan. Tidak ada yang salah dengan itu, asalkan kita tetap sadar akan porsi dan kebutuhan tubuh. Ingat, Sobat Yoursay, tujuan utama kita berpuasa adalah untuk meraih ketakwaan, bukan sekadar memindahkan jam makan siang ke waktu malam dengan porsi yang berlipat ganda.
Bagi mereka yang tahun ini harus merantau atau bekerja jauh dari keluarga, meja makan yang ramai mungkin hanya hadir dalam ingatan atau harapan.
Sobat Yoursay yang sedang berada di tanah rantau, barangkali meja makan kalian saat ini hanya berisi satu piring nasi bungkus dan ponsel yang menyala menampilkan wajah orang tua di kampung halaman. Namun, ketahuilah bahwa doa-doa yang dipanjatkan dari meja makan yang ramai di rumah tetap akan sampai kepada kalian.
Menutup obrolan kita kali ini, mari kita jadikan meja makan sebagai titik awal untuk memperbaiki banyak hal dalam hidup kita. Jadikan ia tempat untuk kembali saling mengenal, tempat untuk melatih kejujuran, dan tempat untuk mensyukuri sekecil apa pun rezeki yang tersaji.
Ramadan memang hanya berlangsung selama satu bulan, namun semoga kebiasaan untuk berkumpul dan berkomunikasi di meja makan ini tidak ikut pergi bersama berakhirnya bulan suci nanti. Jangan sampai meja tersebut kembali menjadi benda mati yang hanya berfungsi sebagai pajangan rumah ketika Idulfitri usai.
Sobat Yoursay, apa menu favorit yang paling sering membuat meja makan di rumahmu terasa ramai dan diperebutkan oleh seluruh anggota keluarga? Apakah itu rendang buatan Ibu, atau mungkin sekadar sambal terasi yang aromanya membangkitkan selera? Apa pun menunya, mari kita jaga kehangatan itu. Semoga meja makan kita tidak hanya ramai oleh hidangan yang lezat, tetapi juga ramai oleh keberkahan, tawa, dan rasa sayang yang tulus.
Baca Juga
-
Heboh Sensus Ekonomi 2026: Ditanya soal Gaji, Warga Parno Naik Pajak?
-
Dari Pahlawan Teknologi Jadi Terdakwa: Akhir Getir Perjalanan Nadiem
-
Disindir 'Takut Ya?', Hakim Kasus Nadiem Ngibrit Usai Ketuk Vonis 10 Tahun
-
Giliran Beli Rumah Disebut MBR, Giliran Bayar Pajak Dianggap Kaya Raya
-
Token Telat Diputus, tapi Listrik Mati Sesuka Hati Tanpa Pengumuman
Artikel Terkait
Kolom
-
Syarat Maksimal, Gaji Minimal: Standar Tak Masuk Akal dalam Lowongan Kerja
-
Piala Dunia 2026 Hampir Berakhir, Saatnya Cari Hiburan Lain?
-
Kartelisasi Politik dan Urgensi Gerakan Massa Melawan Dominasi Kekuasaan
-
Negara Mau Pajak Kreator, Tapi Birokrasinya Masih 'Gagap' Digital?
-
AI Mengubah Cara Kerja Generasi Muda: Peluang atau Malah Ancaman?
Terkini
-
Mencinta Hingga Terluka: Mengelola Luka, Membebaskan Diri
-
Amerika Serikat Gugur, Christian Pulisic Soroti Klinisnya Lini Depan Belgia
-
Statistik Laga Prancis vs Maroko: Mbappe CS Harus Waspada Demi Semifinal
-
Doctor on the Edge: Sajikan Sisi Humanis Dunia Medis yang Penuh dengan Tawa
-
Daftar Top Skor Piala Dunia 2026: Siapa yang Pantas Dapat Sepatu Emas?