Buka bersama dalam reuni sekolah kerap dibayangkan sebagai momen nostalgia. Kenangan masa putih abu-abu atau biru-putih dihidupkan kembali, cerita guru galak dan kisah cinta remaja ditertawakan bersama. Dalam suasana Ramadhan yang hangat, reuni semestinya menjadi ruang merajut kembali persahabatan yang lama terpisah waktu.
Namun realitas sosial sering menghadirkan lapisan makna yang lebih kompleks. Tidak sedikit orang merasakan bahwa bukber reuni berubah menjadi ajang pembuktian diri. Seragam kerja masih dikenakan sepulang kantor, lengkap dengan lanyard yang menggantung jelas. Percakapan pun bergeser dari kenangan masa sekolah menjadi daftar pencapaian profesional, proyek besar, promosi jabatan, atau bisnis yang sedang berkembang.
Fenomena ini tidak selalu disadari. Ia berjalan halus dalam dinamika relasi sosial. Pertanyaannya, mengapa momen yang seharusnya intim dan santai justru sering terasa seperti panggung kompetisi simbolik?
Identitas dan Simbol Status
Sejak lulus sekolah, setiap orang menempuh jalur hidup berbeda. Ada yang bekerja di korporasi besar, menjadi aparatur sipil, wirausaha, akademisi, atau memilih jalur domestik. Ketika reuni terjadi, semua jalur itu bertemu dalam satu ruang. Di sanalah identitas dewasa dipertaruhkan.
Dalam masyarakat yang masih kuat mengukur keberhasilan lewat pekerjaan dan pendapatan, profesi menjadi simbol status utama. Seragam kantor dan lanyard bukan sekadar atribut, tetapi penanda institusi tempat seseorang bernaung. Tanpa perlu banyak kata, simbol itu berbicara tentang posisi dan jejaring.
Tak jarang, percakapan dibuka dengan pertanyaan klasik, “Sekarang kerja di mana?” atau “Sudah jadi apa?” Pertanyaan tersebut tampak sederhana, tetapi menyimpan dimensi evaluatif. Jawaban yang dianggap prestisius akan memantik kekaguman, sementara jawaban lain mungkin hanya direspons singkat.
Di titik ini, reuni bertransformasi menjadi arena presentasi diri. Orang memilih narasi yang ingin ditampilkan. Ada yang menekankan jabatan, ada yang menyebut proyek bernilai besar, ada pula yang menyelipkan keluhan tentang beban kerja sebagai penanda bahwa dirinya sangat dibutuhkan. Keluhan tentang lembur dan rapat tanpa henti sering kali bukan sekadar curhat, melainkan cara halus menunjukkan betapa sibuk dan pentingnya peran yang dijalani.
Curhat, Kompetisi, dan Bayang Bayang Narsisme
Curhat dalam reuni pada dasarnya wajar. Setiap orang ingin didengar dan diakui. Namun ketika curhat selalu dibingkai dengan penegasan pencapaian, relasi menjadi tidak seimbang. Seseorang mungkin berkata, “Capek banget, proyek miliaran ini bikin kurang tidur.” Di balik nada lelah, terselip kebanggaan.
Psikologi sosial mengenal kecenderungan manusia untuk mencari validasi. Reuni menghadirkan audiens yang pernah menjadi saksi masa lalu kita. Ada dorongan untuk menunjukkan bahwa kita telah berkembang, bahkan melampaui ekspektasi semasa sekolah. Jika dulu nilai biasa saja, kini ingin terlihat luar biasa.
Dalam beberapa kasus, pola ini dapat mengarah pada kecenderungan narsistik. Istilah NPD atau Narcissistic Personality Disorder memang merupakan diagnosis klinis yang kompleks dan tidak bisa disematkan sembarangan. Namun secara populer, istilah itu sering dipakai untuk menggambarkan perilaku yang sangat berpusat pada diri sendiri, haus pujian, dan minim empati terhadap cerita orang lain.
Dalam suasana reuni, perilaku semacam ini terlihat ketika seseorang mendominasi percakapan, memotong cerita teman untuk kembali pada dirinya, atau meremehkan pencapaian orang lain secara halus. Bukber yang seharusnya menjadi ruang setara berubah menjadi monolog panjang tentang kesuksesan pribadi.
Ironisnya, semakin keras seseorang memamerkan pencapaian, semakin terasa adanya kebutuhan pengakuan yang belum tuntas. Kompetisi yang terjadi bukan hanya antarindividu, melainkan juga dalam diri masing masing, antara rasa cukup dan rasa kurang.
Mengembalikan Reuni pada Maknanya
Mengapa fenomena ini begitu mudah terjadi? Salah satunya karena reuni mempertemukan memori masa lalu dengan realitas masa kini. Kita kembali pada ruang di mana identitas masih cair, lalu membawanya ke dalam struktur sosial yang kini lebih hierarkis. Ada dorongan untuk membuktikan bahwa perjalanan hidup tidak sia sia.
Media sosial turut memperkuat logika ini. Kita terbiasa menampilkan versi terbaik diri di ruang digital. Ketika bertemu langsung, pola presentasi itu terbawa. Reuni pun menjadi perpanjangan panggung personal branding.
Padahal, esensi reuni terletak pada penerimaan. Ia adalah ruang untuk menyadari bahwa setiap orang bertumbuh dengan caranya sendiri. Tidak semua keberhasilan dapat diukur dengan jabatan atau nominal gaji. Ada yang berhasil membangun keluarga harmonis, ada yang konsisten mengabdi di komunitas, ada pula yang bertahan melalui masa sulit.
Buka bersama dalam reuni sekolah idealnya menjadi momen refleksi kolektif. Ramadhan mengajarkan kerendahan hati dan empati. Jika nilai ini dibawa ke dalam reuni, percakapan akan lebih banyak diisi tanya kabar tulus daripada kompetisi terselubung.
Mungkin yang perlu diubah bukan format acaranya, melainkan kesadaran setiap individu. Hadir bukan untuk mengesankan, tetapi untuk merayakan perjalanan bersama. Tidak perlu seragam kerja atau lanyard sebagai penegas identitas. Cukup menjadi diri yang utuh, dengan segala proses dan ketidaksempurnaan.
Pada akhirnya, reuni adalah tentang kembali, bukan meninggi. Ia mengingatkan bahwa sebelum gelar dan jabatan, kita pernah duduk di bangku yang sama, dengan mimpi yang belum berbentuk. Jika bukber reuni mampu menghidupkan kembali kesederhanaan itu, maka ia tidak lagi menjadi panggung kompetisi, melainkan ruang persahabatan yang autentik.
Baca Juga
Artikel Terkait
Kolom
Terkini
-
Selain Air Putih, 5 Minuman yang Bikin Sahur Lebih Segar
-
5 Rekomendasi Moisturizer untuk Atasi Bruntusan, Ringan dan Cepat Meresap!
-
Ilustrator Cuti Hamil, Jadwal Terbit Manga The 100 Girlfriends Diperlambat
-
6 Ide Lomba Online Tema Ramadan yang Kreatif, Seru dan Penuh Makna!
-
Ramadan ala Nusantara di The Alana Yogyakarta, Sajikan Iftar Buffet Khas Indonesia