Hai, aku Rahel, anak yang lahir dan besar di Batam. Dulu kehidupan kami sangat sulit. Kami tinggal di sebuah ruli (rumah liar) yang berdiri di atas lahan tanpa izin resmi, karena sebagian besar tanah di Batam dikelola oleh BP Batam.
Saat itu kondisi ekonomi kami masih rendah. Mama menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja di sebuah PT dengan gaji sekitar lima juta rupiah per bulan. Syukurnya, Mama juga mendapat tambahan penghasilan karena diizinkan berjualan makanan untuk menggantikan kantin yang belum tersedia di tempat kerjanya.
Sedangkan Bapak masih belum punya pekerjaan tetap saat itu. Jadi kedua orang tuaku bertukar peran. Mama bekerja, sedangkan Bapak menjadi bapak rumah tangga. Tentu, kalau di zaman sekarang pasti bakal dihujat netizen kali ya, karena dianggap suami tidak bertanggung jawab. Namun, sekarang aku menyadari bahwa kenyataannya tidak seburuk itu.
Mama sudah mendapatkan pekerjaan ini sejak dia masih gadis, jadi orang tuaku sepakat agar bapak yang menjaga aku dan abangku, sementara bapak mencari pendapatan tambahan lewat ngojek di malam hari. Setiap pukul empat pagi, Bapak dan Mama sudah bangun untuk memasak gorengan dan jajanan lain yang akan dibawa ke PT.
Semua itu tidak mudah dijalani. Kelelahan sering membuat mama mengeluh sepulang kerja dan orang tuaku kerap bertengkar. Namun, Bapak selalu sabar dan selalu menerima saat dimarahi oleh mamaku.
Di rumah, Bapak juga tidak hanya diam. Selain menjaga aku dan abangku yang masih kecil, beliau mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, dan bersih-bersih. Ia selalu siap mengantar kami ke mana pun diperlukan.
Bapak juga memperbaiki rumah dan membangun beberapa ruli lain yang syukurnya bisa kami jual di kemudian hari. Sampai akhirnya, hari penggusuran pun tiba. Namun, sebelum itu terjadi, Bapak sudah membeli sebuah rumah kecil di perumahan dari uang pensiun Mama. Saat penggusuran benar-benar berlangsung, kami sudah tinggal di rumah baru tersebut.
Sejak saat itu, Bapak mulai membangun usaha sendiri dengan membuka warung sembako. Perlahan, usahanya semakin berkembang hingga akhirnya Bapak bisa membangun kos-kosan. Kini kami memiliki tiga rumah beserta beberapa pintu kos, semua berkat kerja keras orang tuaku.
Setelah dewasa, akhirnya aku mengerti segala sesuatu bisa dijalankan oleh sepasang suami istri asal dikomunikasikan dengan baik.
Aku pernah bertanya kepada Bapak, "Pak, apa tidak ada yang ngomongin dari belakang saat tahu Mama yang bekerja?".
Bapak hanya menjawab, "Yang ngomongin dari belakang sih banyak, semua tetangga pada ngomongin, tapi mau gimana lagi, ekonomi kita belum bagus saat itu, harus realistis. Ya cuek ajalah".
Pada akhirnya, orang tuaku bisa melewati semuanya karena meski bertukar peran, mereka tetap saling menguatkan dan berpikir realistis. Andai dulu Bapak memaksa Mama berhenti bekerja hanya karena gengsi, aku tidak tahu apakah hidup kami hari ini akan sebaik sekarang.
Baca Juga
-
Mengapa Pikiran Memengaruhi Keadaan Kita? Review Buku The Law of Attraction
-
Trauma Nyata Perempuan Korban Perang Dunia I dalam Buku Testament of Youth
-
Review Buku Chernobyl: Saat Politik Mengalahkan Kebenaran
-
Campur Bahasa Gen Z: Bukti Kecerdasan Otak atau Kemunduran Linguistik?
-
Gaji Boleh Imut, tapi Gaya Harus Berkelas: Review Buku Secrets of Six-Figure Women
Artikel Terkait
Kolom
-
Parah Jadi Para, Gaji Jadi Gajih: Ketika Satu Huruf Mengubah Makna Bahasa
-
Nasib Bahasa Indonesia di Akar Rumput: Bersandar Enam Jam Sepekan, Tergerus Masifnya Konten Tayangan
-
Terorisme Lingkungan: Menuju Generasi Emas atau Generasi Cemas?
-
Perundungan Linguistik: Apa Kita Masih Punya Ruang untuk Belajar Berbahasa?
-
Kemampuan Multibahasa GenZ: Gaul & Fasih Bahasa Asing Tanpa Lupa Bahasa Ibu
Terkini
-
Dari Aspal Kampung Ke Panggung Asia: 3 Bintang Muda Futsal AXIS 2026
-
Siap Uji Nyali? Ini 6 Film Horor Terbaik 2026 Buat Temani Malam Halloween
-
The Vanishing Beauty: Kisah Kebangkitan Wanita dari Badai Pengkhianatan
-
Buku 32 Tahun Menjarah Alam: Membongkar Sejarah Hancurnya Bumi Nusantara
-
Sinopsis '4 Out: Mo Ichido, Play Ball', Film Jepang Dibintangi Aiba Masaki