Hayuning Ratri Hapsari | Rahel Sembiring
Ilustrasi peneliti di laboratorium (Dok. Pribadi/Rahel)
Rahel Sembiring

Setiap tanggal 21 April, kita selalu diingatkan akan semangat Raden Adjeng Kartini. Kita bicara tentang emansipasi dan keberanian untuk bermimpi melampaui zaman. Namun, hari ini, mari kita bawa semangat itu keluar dari narasi klasik dan masuk ke ruang yang sering dianggap asing bagi perempuan: Laboratorium.

Menepis Mitos: Keselamatan Kerja Tidak Mengenal Gender

‎Masih ada stigma yang berakar kuat di masyarakat kita. Banyak yang berbisik dengan nada khawatir, "Jangan masuk lab, nanti mandul." Atau, "Perempuan kalau terlalu sering terpapar bahan kimia, susah punya anak." Stigma ini bukan hanya sekadar salah kaprah, tapi menjadi tembok penghalang yang sangat efektif menjauhkan perempuan dari dunia sains.

‎Mari kita bedah mitos ini secara objektif. Ketakutan bahwa bekerja di laboratorium hanya berbahaya bagi reproduksi perempuan adalah bias yang berbahaya. Faktanya, bahan kimia, radiasi, dan risiko biologis di laboratorium adalah ancaman bagi siapa pun, tanpa memandang gender.

Kesehatan reproduksi adalah isu kemanusiaan, bukan isu gender semata. Laki-laki pun bisa terpapar risiko penurunan kualitas sperma atau masalah kesehatan serius lainnya jika bekerja tanpa standar keamanan (K3) yang ketat. 

‎Bahaya di laboratorium bukanlah soal siapa yang bekerja, melainkan soal kedisiplinan dalam mengelola risiko. Jika kita terus melanggengkan mitos ini, kita justru sedang membatasi potensi perempuan untuk menjadi inovator dan pemimpin masa depan.

‎Rosalind Franklin dan Efek Matilda

‎Ketika kita bicara tentang perempuan di dunia sains, kita tidak bisa melupakan sosok yang menjadi pengingat pahit tentang ketidakadilan yaitu, Rosalind Franklin.

‎Kita semua tahu kisah penemuan struktur heliks ganda DNA. Namun, berapa banyak yang tahu bahwa tanpa foto difraksi sinar-X (Foto 51) milik Franklin, Watson dan Crick mungkin tidak akan menemukan struktur tersebut secepat itu? Franklin adalah korban dari Efek Matilda, sebuah fenomena di mana kontribusi perempuan dalam sains sering kali diabaikan, diremehkan, atau bahkan diklaim oleh rekan laki-laki mereka.

Kasus Franklin adalah bukti nyata bahwa rintangan bagi perempuan di laboratorium bukan hanya soal "mitos kesehatan," tapi juga soal pengakuan atas intelektualitas yang sering kali "dicuri" oleh bias patriarki.

‎Menulis Ulang Masa Depan Sains

Hari Kartini tahun ini adalah momentum bagi kita untuk mendobrak batasan tersebut. Dunia sains membutuhkan perspektif yang beragam. Lab membutuhkan pikiran kritis yang bebas dari stigma. Kita butuh lebih banyak ilmuwan perempuan yang tidak takut masuk ke lab karena takut "mandul," tapi justru berani karena sadar bahwa data tidak mengenal gender.

‎Sains adalah tentang kebenaran. Dan kebenaran hari ini adalah: Perempuan memiliki tempat yang setara di balik mikroskop, di depan tabung reaksi, dan di baris terdepan penemuan dunia.