M. Reza Sulaiman | Rizky Pratama Riyanto
Kasus Penghinaan Guru di SMA Negeri 1 Purwakarta (Suara.com/Sumarni)
Rizky Pratama Riyanto

Kasus penghinaan guru menyeret siswa di SMA Negeri 1 Purwakarta yang justru tidak terlibat sebagai pelaku. Sebagian warganet mendiskreditkan bahwa pendidik di sekolah favorit ini tidak mengajarkan adab sehingga siswa tidak dibekali budi pekerti luhur. Padahal, setiap guru tentu mengajarkan adab dan etika dalam pembelajaran karena sekolah menjadi sarana pembentukan karakter.

Aksi penghinaan terlihat dalam video rekaman berdurasi 30 detik yang menjadi sorotan warganet di media sosial. Bahkan, kalimat "adab di atas ilmu" viral tersebar di berbagai cerita dan postingan Instagram.

Dalam video tersebut siswa mengacungkan jari tengah kepada guru pengampu mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan bernama Atun Syamsiah setelah kegiatan belajar mengajar.

Sebanyak sembilan siswa terlibat dalam aksi tak terpuji membuat warganet seketika ikut bereaksi memenuhi kolom komentar untuk menghujat.

Ada yang menyalahkan perilaku siswa, meminta untuk segera diberi hukuman setimpal, dan mengharapkan para pelaku langsung di drop out oleh pihak sekolah. Hal ini cukup wajar ditanggapi karena muncul dari rasa kesal warganet.

Namun, sebagian warganet juga berkomentar dengan tidak hanya melibatkan siswa yang bersalah, mereka menggeneralisasi bahwa seluruh siswa juga memiliki perilaku negatif yang serupa.

Terlebih lagi, pendidik turut dikomentari karena minim memberi pengajaran adab hingga didapati komentar untuk mengajak siswa lain agar tidak melanjutkan pendidikan di sekolah tersebut.

Ironisnya, penilaian itu kerap datang dari mereka yang tidak pernah benar-benar mengenal lingkungan sekolah lebih dalam. Bahkan, beberapa siswa di luar sekolah terciduk berkomentar akibat kekecewaan pribadi karena tidak menjadi bagian dari sekolah itu sebelumnya. 

Mereka secara tidak langsung menjadikan kasus ini sebagai sebuah kesempatan untuk mengacaukan harkat dan martabat sekolah. Beberapa media abal-abal juga tak sedikit memperbesar isu dengan narasi yang berlebihan dan memicu opini publik makin panas. 

Hal tersebut terjadi karena media maupun warganet menarik kesimpulan secara terburu-buru sehingga menimbulkan logika yang keliru dan tidak dapat dibenarkan. Asumsi yang besar tanpa adanya data dan fakta yang akurat akan berakhir pada ketidakadilan.

Kesalahan dalam berlogika juga mengakibatkan pemahaman yang cacat. Oleh karenanya, diperlukan sikap kritis dan bijak dalam menyikapi setiap informasi yang beredar agar tidak terjebak dalam kesimpulan yang keliru dan merugikan banyak pihak. 

Sementara itu, guru bersangkutan dengan hati yang tulus memaafkan para pelaku dan mendoakannya agar selamat dunia akhirat. Ia tidak ingin mereka dibawa ke pihak berwajib untuk mendapatkan hukuman yang setimpal. Selain itu, para pelaku sudah meminta maaf atas perbuatannya.

Melalui kasus ini, mari kita berpikir terbuka bahwa seorang guru saja memilih untuk memaafkan, maka tidak ada alasan bagi warganet untuk menghakimi dengan cara menggeneralisasi. Bijak dalam berkomentar bukan hanya soal kebebasan berpendapat, melainkan tentang tanggung jawab menjaga kebenaran dan keadilan.  

Harapannya, para pelaku dapat menjalankan pembinaan sosial dengan baik dan menjadikan kasus ini sebagai pembelajaran bahwa seorang guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Guru adalah orang tua kedua, tanpa adanya mereka kita tidak akan bisa melangkah hingga sejauh ini. 

Lebih dari itu, kasus tersebut seharusnya menjadi cermin bagi kita semua dalam bersikap di ruang digital. Setiap komentar yang ditulis memiliki dampak, setiap penilaian yang dilontarkan membawa konsekuensi.

Sebelum ikut bersuara, sudah semestinya kita memastikan bahwa pesan yang disampaikan tidak hanya benar, tetapi juga akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Pada akhirnya, menjaga lisan–termasuk dalam bentuk tulisan–merupakan bagian dari adab itu sendiri.