Kalau kita mundur sebentar ke sekitar tahun 1970-an sampai 1990-an, kehidupan rasanya berjalan dengan tempo yang jauh lebih santai. Bukan berarti hidup orang-orang waktu itu selalu mudah. Tetap ada masalah, tetap ada kesulitan. Tetapi satu hal yang berbeda: informasi tidak datang bertubi-tubi seperti sekarang.
Berita tidak mengalir setiap detik. Tidak ada notifikasi yang tiba-tiba muncul di layar ponsel. Tidak ada linimasa yang terus memuntahkan kabar dari seluruh dunia. Kalau ada masalah di tingkat negara—entah soal ekonomi, politik, atau konflik di tempat jauh—tidak semuanya langsung menjadi bahan obrolan warga di warung kopi. Hidup terasa lebih fokus pada hal-hal yang benar-benar ada di depan mata.
Petani bangun pagi, berangkat ke sawah, pulang sore. Nelayan melaut mengikuti arah angin dan arus. Pedagang membuka lapak di pasar sejak subuh. Para orang tua bekerja keras supaya dapur tetap mengepul. Kehidupan sehari-hari berputar di sekitar kerja, keluarga, ibadah, dan hubungan sosial dengan tetangga.
Orang tidak memulai pagi dengan memeriksa harga emas dunia. Tidak ada yang sibuk memantau indeks saham luar negeri sebelum sarapan. Apalagi memikirkan konflik geopolitik di belahan bumi yang bahkan peta lokasinya pun belum tentu mereka hafal.
Kalau ada gejolak ekonomi global? Ya, mungkin ada yang terdengar sekilas di radio atau koran. Tetapi hal itu tidak otomatis membuat orang kampung tiba-tiba cemas semalaman. Ada semacam keyakinan sederhana bahwa urusan besar seperti itu memang wilayah negara dan pemerintah untuk memikirkannya.
Masyarakat tetap peduli pada negara, tentu saja. Tetapi mereka juga tahu batas. Ada hal-hal yang memang bukan bagian dari beban pikiran sehari-hari. Sekarang situasinya hampir terbalik.
Kita hidup di zaman ketika informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan kita untuk mencernanya. Dalam hitungan detik, kabar dari berbagai penjuru dunia bisa langsung muncul di layar ponsel.
Harga minyak naik sedikit di pasar global? Langsung jadi berita. Pasar saham di negara besar goyah? Linimasa langsung ramai. Ada konflik di Timur Tengah? Video, analisis, opini, dan perdebatan datang bertubi-tubi tanpa jeda.
Masalahnya bukan cuma soal informasi, melainkan jumlahnya yang tidak ada habisnya.
Satu berita belum selesai dipahami, sudah datang lima berita baru. Satu analisis belum selesai dibaca, sudah muncul sepuluh komentar yang saling bertentangan. Akhirnya, bukannya semakin paham, kepala kita justru semakin penuh.
Yang lebih lucu—dan kadang menyedihkan—adalah banyak dari hal itu sebenarnya berada jauh di luar kendali kita.
Kita tidak bisa mengatur harga minyak dunia. Kita tidak punya pengaruh terhadap kebijakan bank sentral negara lain. Kita juga tidak bisa menghentikan konflik internasional hanya dengan menuliskan komentar panjang di media sosial. Tetapi entah kenapa, semua itu sering ikut memenuhi ruang di kepala kita.
Di titik inilah zaman modern memberi ujian yang agak unik: kita tahu terlalu banyak hal. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, generasi sebelum kita hidup cukup baik tanpa harus mengetahui semuanya. Mereka tetap bekerja, tetap membangun keluarga, tetap menolong tetangga, dan tetap menatap masa depan dengan optimisme yang sederhana.
Mungkin bukan karena dunia dulu lebih baik, melainkan karena kepala mereka tidak dipenuhi terlalu banyak hal yang sebenarnya tidak perlu mereka pikirkan setiap hari.
Itulah sebabnya, di tengah derasnya arus informasi sekarang, kemampuan paling penting mungkin bukan lagi sekadar “mengetahui banyak hal”, melainkan kemampuan untuk memilih: mana yang perlu dipikirkan dan mana yang sebaiknya cukup lewat saja.
Tidak semua berita harus membuat kita panik. Tidak semua kabar harus membuat kita merasa dunia sedang runtuh. Ada persoalan besar yang memang menjadi tugas pemerintah, ekonom, atau para pengambil kebijakan. Sementara kita? Kita tetap punya tugas sendiri.
Bekerja dengan baik. Menjaga keluarga. Berusaha hidup jujur. Membantu orang di sekitar kalau bisa. Hal-hal sederhana yang justru sering terlupakan ketika kita terlalu sibuk mengikuti drama dunia.
Informasi boleh datang silih berganti. Linimasa boleh terus ramai. Berita boleh berubah setiap jam. Tetapi ketenangan hidup tetap sesuatu yang harus dijaga.
Karena pada akhirnya, hidup yang baik bukanlah hidup yang setiap hari dipenuhi kecemasan tentang semua yang terjadi di dunia. Hidup yang baik adalah hidup yang dijalani dengan sadar, dengan tenang, dan dengan keyakinan bahwa tidak semua hal harus kita pikul sekaligus.
Kadang, untuk tetap waras di zaman yang terlalu ramai, kita hanya perlu melakukan satu hal sederhana: tidak membiarkan semua suara dunia masuk ke dalam kepala kita.
Baca Juga
-
Medsos dan Seni Menjadi Domba di Tengah Perang Algoritma
-
Mengembalikan Akal Sehat di Meja Keputusan Pelayanan Publik
-
Politisi Baperan: Dikit-dikit Somasi, Lama-lama Lupa Cara Diskusi
-
Mengapa Kampus Lebih Sibuk Kejar Akreditasi daripada Jaga Nyawa Mahasiswa?
-
Gen Z, Kopi, dan Mundurnya Alkohol dari Panggung Pergaulan
Artikel Terkait
-
Amalan dan Doa agar Terhindar dari Fitnah Dajal di Akhir Zaman Sesuai Ajaran Rasulullah
-
Titip Pesan ke Ahok Lewat Veronica Tan, Pramono Anung: Urusan Sumber Waras Sudah Beres
-
Ramadan dan Generasi Scroll: Mencari Hening di Tengah Notifikasi
-
Dilema Penulis Zaman Now: Menulis Buku atau Menjadi Konten Kreator?
-
Self-Love Bukan Egois tapi Cara Bertahan Waras di Tengah Tuntutan Hidup
Kolom
-
WFH demi Hemat BBM: Solusi Visioner atau Sekadar Geser Beban ke Rakyat?
-
Dear Pemudik, Jika Lelah Jangan Paksakan Diri Berkendara
-
Keadilan yang Harus Dipaksa: Catatan di Balik Gugatan UU Pensiun 1980
-
Ketika Maaf Hanya Sejauh Broadcast WhatsApp, Ada yang Salah?
-
Overthinking Masalah Keuangan: Wajar atau Berlebihan?
Terkini
-
Bau Badan Wassalam! 5 Siasat Wangi Paripurna Meski Panas-panasan di Jalan
-
Apresiasi The King's Warden: Film Sejarah Korea yang Sukses Memukau di Box Office
-
Social Battery Habis Lebaran? Ini Trik 'Kabur' Elegan Tanpa Dicap Sombong
-
Gentayangan karya Intan Paramaditha: Menjadi "Cewek Bandel" di Balik Pilihan Sulit
-
Duel Karbo Lebaran: Ketupat vs Nasi, Siapa yang Paling Bikin Gula Darah Meroket?