Jujur saja, kadang aku rindu zaman ketika tugas penulis cuma satu: menulis. Titik. Selesai mengetik, kirim naskah, lalu tinggal menunggu kabar dari editor sambil menyeruput kopi santai. Namun sekarang? Duh, jangan harap bisa santai setelah kata "Tamat" diketik.
Sekarang, kita dipaksa menjadi "superhuman". Baru saja mau bernapas setelah riset plot, eh, sudah harus pusing memikirkan hook untuk video TikTok. Belum lagi urusan memilih backsound yang sedang viral supaya algoritma tidak pelit memberikan view. Kadang aku berpikir, ini aku sedang menjadi penulis atau sedang magang menjadi admin media sosial, sih?
Masalahnya, pasar sekarang tidak cuma butuh cerita bagus. Mereka butuh "wajah" di balik cerita itu. Kalau kita tidak mau tampil, tidak mau "jualan" melalui konten visual, ya siap-siap saja tulisan kita cuma jadi pajangan di sudut platform yang sepi penghuni. Menyesakkan, kan? Namun ya, itulah realitas pahit penulis zaman sekarang.
Dulu, bayangan menjadi seorang penulis itu tampak begitu tenang. Duduk di depan laptop, ditemani secangkir kopi, lalu membiarkan imajinasi tumpah ke dalam kata-kata. Setelah naskah selesai, kirim ke penerbit, lalu biarkan editor dan tim pemasaran yang bekerja "menghidupkan" buku tersebut di rak-rak toko.
Namun, kalau kita bicara soal penulis di era sekarang, bayangan romantis itu rasanya perlu segera direvisi. Menulis saja? Oh, itu cuma sepuluh persen dari total pekerjaan yang sesungguhnya.
Pergeseran Peran: Dari Pujangga ke "Multitalenta"
Ada pergeseran peran yang cukup ekstrem bagi kita yang memilih jalur literasi hari ini. Penulis sekarang tidak lagi sekadar perangkai kalimat, tetapi sudah menjelma menjadi manajer riset, ahli strategi pemasaran, hingga editor video dadakan.
Kenapa bisa begitu? Jawabannya sederhana: persaingan. Saat ini, pintu untuk menjadi penulis terbuka sangat lebar, baik melalui penerbit mayor, self-publishing, hingga platform kepenulisan daring (online) yang menjamur. Semakin banyak orang yang menulis, semakin riuh pula pasar literasi. Di tengah kebisingan itu, suara seorang penulis tidak akan terdengar kalau ia hanya diam dan menunggu ditemukan.
Menulis Itu Wajib, Membuat Konten Itu Perlu
Pernahkah kamu merasa sudah menulis cerita dengan diksi yang indah dan plot yang rapi, tetapi pembacanya hanya hitungan jari? Sementara di sisi lain, ada cerita yang kualitasnya biasa saja tetapi viral luar biasa karena penulisnya rajin membuat konten di TikTok atau Instagram Reels?
Inilah dilema terbesarnya. Penulis zaman sekarang dituntut untuk aktif menjadi konten kreator. Kita harus paham tren musik yang sedang hits, belajar cara transisi video yang estetik, hingga memikirkan caption yang memancing interaksi. Seolah-olah, tulisan kita hanyalah produk sekunder, sementara "wajah" kita di media sosial adalah produk utamanya. Kita dipaksa melakukan personal branding habis-habisan agar tulisan kita sekadar dilirik oleh calon pembaca.
Ketika Algoritma Tak Selalu Memihak Kualitas
Satu hal yang sering membuat sesak dada adalah kenyataan bahwa algoritma platform daring sering kali punya selera sendiri. Algoritma tidak membaca kualitas diksimu atau kedalaman risetmu. Algoritma sering kali lebih berpihak pada viralitas, tren yang sedang naik daun, atau minat pasar yang bersifat instan.
Kita berada di era ketika "tema yang laku" sering kali mengalahkan "tema yang berkualitas". Penulis pun terjebak dalam dilema: tetap idealis pada gaya tulisan yang berat namun sepi peminat, atau mengikuti arus pasar demi angka view dan keuntungan?
Akhirnya, penulis masa kini harus melakukan riset pasar yang mendalam. Kita harus tahu apa yang sedang disukai kaum milenial dan Gen Z, apa isu yang sedang hangat, dan bagaimana cara mengemasnya agar sesuai dengan algoritma. Melelahkan? Tentu saja.
Jadi Penulis yang Serba Bisa atau Tertinggal?
Lantas, apakah ini berarti menjadi penulis sekarang itu menyedihkan? Tidak juga. Ini hanya berarti tantangannya sudah berganti level. Menjadi penulis zaman sekarang memang menuntut kita untuk menjadi "manusia serba bisa". Kita harus mau belajar banyak hal baru di luar teknik menulis itu sendiri.
Kita belajar tentang desain grafis untuk membuat cover atau promosi, belajar analisis data untuk melihat minat pembaca, dan belajar komunikasi untuk membangun komunitas. Memang susah payah, tetapi barangkali inilah cara semesta menyaring siapa yang benar-benar punya daya tahan di industri ini.
Pada akhirnya, tulisan yang bagus memang butuh "kendaraan" yang kuat agar sampai ke tangan pembaca yang tepat. Dan di era ini, kendaraan itu bernama kreativitas tanpa batas. Jadi, buat teman-teman penulis, sudahkah kamu menyiapkan konten untuk promosi karyamu hari ini? Semangat, ya! Karena menulis adalah jalan ninja yang penuh warna.
Baca Juga
-
Stop Jadi Polisi Bacaan: Buku Fiksi dan Non-Fiksi Sama-Sama Bikin Kamu Lebih Manusia
-
Di Balik War Takjil: Ada Mesin Ekonomi Rakyat yang Bergerak Tanpa Henti
-
Perang Gender di TikTok: Saat Algoritma Memperuncing Polarisasi Relasi Laki-laki dan Perempuan
-
Antara Ibu dan Istri: Mengurai Rivalitas Perempuan yang Tak Pernah Diakui
-
Bedah Lirik Kuharap Duka Ini Selamanya dari Raisa: Kadang Kita Tidak Perlu 'Sembuh' dari Duka
Artikel Terkait
Kolom
-
BPJS Dipimpin Jenderal: Bakal Makin 'Gercep' atau Malah Kaku?
-
Emas Lagi Gila, Dunia Lagi Takut: Safe Haven atau FOMO Massal?
-
Bukan Dalang, tapi Jadi Tumbal? Drama Jeratan Hukum untuk ABK Fandi Ramadhan
-
Scroll, Klik, Ngiler! Cara Menyiksa Diri di Aplikasi Makanan saat Ramadan
-
Saat Curhat ke AI Jadi Kebiasaan Baru: Apakah Ini Wujud Kesepian di Era Digital?
Terkini
-
Kusunoki's Garden of Gods Ungkap Lagu Opening Jelang Penayangan April 2026
-
John Herdman dan Timnas Indonesia yang Terancam Minim Kreasi di Guliran FIFA Series 2026
-
Sujud Terakhir Ibu di Ujung Ramadan
-
5 Tips Berbuka Puasa agar Tidak Begah, Perut Nyaman Tarawih Aman
-
5 Rekomendasi HP dengan Chipset Snapdragon 2026, Performa Kencang Harga Mulai Rp2 Jutaan