Sobat Yoursay, siapa di sini yang pernah menggunakan fitur paylater di marketplace?
Jujur, saya pribadi tidak pernah menggunakannya karena ada rasa takut menjadi terlalu bergantung pada kemudahan “beli dulu, bayar belakangan”. Apalagi sejak kecil, saya selalu diajarkan untuk menghindari utang. Ibu saya sering mengingatkan satu hal ini ke anak-anaknya: “Kalau punya uang beli, kalau nggak punya uang, ya, sabar dulu.”
Kalimat itu masih melekat kuat di ingatan saya sampai sekarang dan membuat saya enggan berutang. Sekalipun sering ada diskon besar untuk pengguna paylater, saya tetap memilih pembayaran tunai agar tidak merasa terbebani setelahnya. Tidak ada yang salah dari ajaran tersebut, tetapi kita perlu memahami jika setiap orang mempunyai situasi yang berbeda-beda.
Di tengah kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian hari ini, tak bisa dipungkiri bahwa paylater seolah terasa seperti penyelamat. Harga kebutuhan semakin mahal, gaji sering terasa lebih cepat habis, sementara kondisi darurat bisa datang kapan saja. Dalam situasi seperti ini, paylater hadir sebagai solusi instan bagi sebagian orang. Hanya dengan beberapa klik, seseorang bisa membeli barang atau membayar kebutuhan tanpa harus memiliki uang saat itu juga. Mungkin, di sinilah paylater mulai terasa seperti “penyelamat”.
Keberadaan paylater sebenarnya bisa sangat membantu seseorang yang benar-benar berada dalam kondisi terdesak. Sebagian orang mungkin ada yang memanfaatkan paylater sekadar untuk memenuhi standar sosial dan gaya hidup, tapi tidak semua pengguna paylater selalu konsumtif. Ada juga orang yang menggunakan paylater karena ada kebutuhan mendesak, biaya kesehatan, kebutuhan kuliah, dan berbagai kebutuhan darurat lainnya.
Banyak orang memilih paylater sebagai solusi karena kemudahan yang ditawarkan. Dengan proses pencairan dana yang praktis dan cepat, mereka jadi tidak perlu lagi meminjam ke orang lain. Kemudahan tersebut akhirnya memberi rasa aman sementara, karena saat membeli sesuatu ada perasaan “masih bisa bayar nanti”. Di titik itu, paylater sering kali bukan hanya soal transaksi, tetapi juga tentang rasa lega sesaat.
Meskipun sekilas bisa menjadi solusi yang menenangkan, kita perlu mengingat bahwa fitur ini juga memiliki sisi lain yang lebih berbahaya. Kemudahan akses dan kecepatan pencairan bisa membuat seseorang melakukan pembelian secara impulsif. Sebab ketika membeli sesuatu sudah terasa “ringan” karena tak harus langsung membayar, mereka akhirnya terjebak dalam ilusi bahwa semua terasa lebih murah dan ringan. Di saat yang sama, mereka jadi lebih susah membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Sisi bahaya paylater ini semakin terasa di era digital seperti sekarang. Banyak orang yang menganggap biasa cicilan dengan nominal kecil. Bahkan tak jarang, utang tidak lagi terasa menakutkan karena bentuknya berupa aplikasi. Dan akhirnya, semakin banyak orang berutang hanya karena FOMO dan mengikuti gaya hidup orang lain. Di sinilah, paylater yang seharusnya menjadi penyelamat dalam kondisi terdesak justru digunakan demi memenuhi gaya hidup dan standar sosial.
Keberadaan teknologi finansial memang membantu dan bisa berguna saat seseorang berada dalam keadaan darurat. Namun, yang jadi persoalan adalah bagaimana kita menggunakan teknologi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Kontrol diri menjadi sesuatu yang sangat penting saat seseorang sudah memutuskan menggunakan fitur paylater agar tidak terjebak dalam siklus berbahaya lain, seperti “gali lubang, tutup lubang”. Sebab sesuatu yang memudahkan tetap bisa menjadi masalah jika digunakan tanpa pertimbangan.
Sehingga sebelum membuat keputusan untuk menggunakan paylater, alangkah baiknya kita lebih dulu sadar bahwa paylater memang bisa membantu, tetapi jangan sampai rasa aman hari ini berubah menjadi beban di masa depan. Selain itu, kita juga perlu memiliki kesadaran tentang pentingnya membedakan kebutuhan dan keinginan. Adanya kemudahan finansial harus tetap diiringi dengan kesadaran.
Sebab kemudahan “bayar nanti” tidak lagi terasa menenangkan ketika seseorang akhirnya harus terus hidup dari satu tagihan ke tagihan berikutnya.
Baca Juga
-
Koneksi vs Kualifikasi: Apa yang Sebenarnya Menentukan Peluang Kerja?
-
Salma Rilis Lagu 'maha benar', Sindiran Keras Buat Netizen Julid dan Si Paling Paham Hidup Orang!
-
Side Hustle Kini Jadi Tren: Solusi Finansial atau Malah Bikin Kewalahan?
-
Nyore di Kyfein.id: Spot Hidden Gem yang Nyaman buat Nongkrong dan WFC
-
Belajar Berdamai dengan Kehilangan Melalui Lagu Untuk yang Bersama Nya
Artikel Terkait
Kolom
-
Mau Bagaimanapun, Mindfulness Tidak Bisa Memperbaiki Dunia yang Membuat Kita Cemas
-
Coba Tanya AI Sebelum ke Dokter: Solusi Praktis atau Bumerang Buat Keselamatan Pasien?
-
Fenomena Tiket Konser Selalu Ludes Saat Ekonomi Sulit: Hiburan atau Pelarian?
-
Kalau Tiap Tahun Harus Disuntik Anggaran, Apa yang Sebenarnya Dibangun?
-
Gaji Dipotong Pajak Terus tapi Fasilitas Publik Bapuk, Negara Ngapain Aja?
Terkini
-
Marah Itu Wajar, I Hate Everything! Mengajarkannya dengan Cara Lucu
-
Siap Tahan Napas! Film Dont Breathe 3 Resmi dalam Pengerjaan
-
Honor MagicOS 11 Meluncur: Desain Liquid Glass, AI YOYO, dan Hemat Penyimpanan hingga 60 GB
-
Absolute Value of Romance: Tentang Seorang Remaja dan Halunya yang Kejauhan
-
Tensura Season 4 Cour 3 Lanjut Juli, Spin-off Clayman's Revenge Jadi Anime