M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
ilustrasi Post-Lebaran Syndrome (Pexels/Thirdman)
e. kusuma .n

Senin perdana pasca-libur Lebaran usai seolah menjadi momentum comeback pada realitas. Namun, setiap kali Lebaran selesai, saya selalu menghadapi fase yang sama di mana rasa malas yang datang tiba-tiba, mood yang sulit dikumpulkan, dan keinginan kuat untuk terus rebahan.

Awalnya saya pikir ini cuma soal “mager biasa”. Tetapi semakin sering saya mengalaminya, saya mulai bertanya: apakah ini benar-benar malas atau sebenarnya saya sedang kelelahan secara mental?

Terkadang saya merasa fase setelah Lebaran itu bukan sekadar transisi biasa. Ada semacam “jatuh” dari suasana hangat, santai, dan penuh kebersamaan untuk kembali ke rutinitas yang cepat dan penuh tuntutan. Dan jujur saja, itu tidak mudah.

Selama libur Lebaran, ritme hidup saya berubah total. Bangun tanpa alarm, makan tanpa terburu-buru, menghabiskan waktu dengan keluarga, dan menjalani hari tanpa tekanan produktivitas. Rasanya seperti hidup kembali “normal”, atau mungkin lebih tepatnya lebih manusiawi.

Begitu liburan selesai, semua berubah drastis. Alarm pagi kembali berbunyi, notifikasi pekerjaan mulai berdatangan, dan ekspektasi untuk langsung produktif muncul begitu saja. Di titik ini, rasa malas mulai muncul. Tetapi semakin saya pikirkan, rasa itu bukan sekadar malas.

Post-Lebaran Syndrome: Rasa Lelah yang Tidak Terlihat

Saya mulai menyadari bahwa selama Lebaran, meski terlihat santai, energi saya juga terkuras. Silaturahmi dari satu tempat ke tempat lain, bertemu banyak orang, menjawab pertanyaan yang itu-itu saja, hingga menjaga “mood sosial” di depan keluarga besar, ternyata menguras energi mental.

Apalagi di era kesadaran kesehatan mental yang semakin tinggi, saya jadi lebih peka terhadap hal-hal seperti ini. Saya tidak hanya lelah secara fisik, tetapi juga secara emosional. Jadi saat liburan selesai, tubuh yang sudah kembali ke rutinitas belum sejalan dengan pemulihan mental.

Di sinilah saya mulai melihat fenomena ini sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar mager. Ini semacam post-Lebaran syndrome, fase di mana tubuh dan pikiran belum siap kembali ke ritme kerja setelah mengalami perubahan yang cukup intens.

Yang membuatnya semakin berat adalah tekanan untuk langsung “normal”. Lingkungan kerja tidak selalu memberi ruang untuk adaptasi. Hari pertama masuk, tugas sudah menumpuk. Deadline sudah menunggu. Tidak ada tombol pause.

Tuntutan Segera “In”

Kadang saya merasa seperti dituntut untuk segera “in” dan bisa langsung kembali ke versi terbaik saya. Padahal saya sendiri masih berusaha mengumpulkan energi dan memulihkan mental.

Di sisi lain, media sosial juga tidak membantu. Banyak orang terlihat langsung produktif setelah liburan membuat saya jadi membandingkan diri. Kenapa saya masih merasa berat, sementara orang lain terlihat baik-baik saja, ya?

Padahal mungkin, mereka juga merasakan hal yang sama, hanya saja tidak ditampilkan. Dari situ saya belajar satu hal penting bahwa tidak semua yang terlihat produktif itu benar-benar baik-baik saja.

Memberi Diri Waktu untuk Adaptasi

Saya mulai mencoba lebih jujur pada diri sendiri. Alih-alih memaksa diri untuk langsung “on fire”, saya memberi waktu untuk adaptasi. Saya mulai dari hal-hal kecil, seperti menyelesaikan tugas ringan, mengatur ulang jadwal, dan mencoba kembali ke rutinitas secara perlahan.

Saya juga mencoba memahami bahwa rasa lelah ini valid dan tidak apa-apa jika saya belum sepenuhnya siap. Bagi saya, ini bukan tentang membenarkan kemalasan, tetapi tentang mengenali batas diri. Karena kalau dipaksakan terus-menerus, yang ada justru burnout.

Kita memang hidup di dunia yang menuntut produktivitas tinggi, tetapi di saat yang sama, kita juga harus lebih sadar akan pentingnya kesehatan mental. Sayangnya, menyeimbangkan keduanya bukan hal yang mudah.

Post-Lebaran syndrome ini mungkin akan terus terjadi setiap tahun. Tetapi mungkin, yang bisa saya ubah adalah cara saya meresponsnya. Saya tidak harus langsung sempurna dan langsung produktif maksimal. Yang penting, saya tetap bergerak meski pelan.

Karena pada akhirnya, mungkin ini bukan soal mager atau tidak. Ini soal bagaimana saya memahami diri sendiri di tengah perubahan ritme yang cukup drastis. Sebab, di balik rasa malas yang sering saya salahkan, ada tubuh dan pikiran yang sebenarnya hanya butuh waktu untuk pulih.