Setelah momen libur panjang seperti Lebaran, banyak dari kita, terutama Gen Z, mengalami satu fase yang cukup relatable: post-holiday blues. Perasaan ini muncul ketika masa santai berakhir dan kita harus kembali ke rutinitas kerja atau sekolah.
Rasanya? Campur aduk antara malas, kehilangan semangat, hingga sulit fokus. Fenomena ini bukan sekadar alasan untuk bermalas-malasan. Ada penjelasan psikologis yang cukup masuk akal mengapa balik kerja setelah liburan terasa berat.
Apa Itu Post-Holiday Blues?
Post-holiday blues adalah kondisi emosional di mana seseorang merasa lesu, kurang motivasi, atau bahkan sedikit cemas setelah liburan berakhir. Selama liburan, terlebih pasca Lebaran, tubuh dan pikiran kita terbiasa dengan ritme yang lebih santai.
Tidak ada tekanan deadline, tidak ada tuntutan produktivitas tinggi, dan waktu terasa lebih fleksibel. Namun, ketika liburan usai, kita dipaksa kembali ke ritme lama yang lebih cepat dan penuh tanggung jawab. Perubahan drastis inilah yang membuat tubuh dan pikiran “kaget”.
Kenapa Gen Z Lebih Rentan?
Sebagai generasi yang tumbuh di era digital dan fleksibilitas, Gen Z cenderung memiliki cara pandang berbeda terhadap pekerjaan dan kehidupan. Tidak hanya mengejar produktivitas, tapi juga keseimbangan hidup (work-life balance).
Masalahnya, dunia kerja sering kali belum sepenuhnya sejalan dengan nilai tersebut. Setelah menikmati liburan yang santai dan penuh kebebasan, kembali ke sistem kerja yang kaku bisa terasa seperti “turun level”.
Selain itu, Gen Z juga sangat akrab dengan media sosial. Setelah liburan, timeline biasanya masih dipenuhi konten santai, momen kebersamaan, dan highlight kebahagiaan orang lain. Kondisi ini tanpa sadar membuat kita semakin sulit move on dari suasana liburan.
Perubahan Ritme yang Terlalu Cepat
Salah satu alasan terbesar yang saya rasakan adalah perubahan ritme hidup yang terlalu mendadak. Saat liburan, saya terbiasa bangun lebih siang, menjalani hari tanpa jadwal ketat, dan melakukan hal-hal yang saya sukai.
Begitu liburan selesai, semua itu berubah drastis. Alarm pagi berbunyi lagi, deadline mulai menumpuk, dan waktu terasa kembali sempit. Perubahan yang terlalu cepat ini membuat tubuh dan pikiran seperti “kaget” hingga akhirnya muncul rasa tidak siap.
Antara Realita dan Ekspektasi
Ada juga konflik kecil yang saya rasakan, antara realita dan ekspektasi. Selama liburan, saya sering merasa hidup terasa lebih ringan. Saya jadi berpikir, “Kenapa tidak bisa seperti ini terus?”
Tapi tentu saja, realitanya tidak sesederhana itu. Tanggung jawab tetap ada, pekerjaan tetap harus dijalani. Di sinilah muncul rasa berat karena ada perbedaan antara kehidupan yang kita inginkan dan kehidupan yang harus kita jalani.
Cara Mengatasi Post-Holiday Blues
Dari pengalaman saya, mengatasi post-holiday blues bukan tentang memaksa diri untuk langsung produktif, tapi tentang beradaptasi secara perlahan. Biasanya, saya mulai dengan menurunkan ekspektasi.
Tidak apa-apa jika di hari pertama kerja saya belum maksimal, yang penting adalah mulai kembali ke ritme. Saya kemudian membuat daftar tugas yang realistis. Alih-alih langsung mengerjakan hal besar, saya mulai dari tugas kecil untuk membangun momentum.
Setelahnya, saya mencoba menjaga sedikit “energi liburan” dalam rutinitas. Misalnya, tetap meluangkan waktu untuk hal yang saya nikmati, seperti mendengarkan musik atau ngobrol santai dengan teman.
Bahkan saya juga mengatur ulang pola tidur. Ini mungkin terdengar sepele, tapi sangat berpengaruh. Dengan tidur yang cukup, tubuh lebih siap menghadapi aktivitas dan rutinitas padat ke “setelan pabrik” pasca liburan.
Refleksi: Liburan Bukan untuk Lari dari Realita
Pada akhirnya, post-holiday blues mengajarkan saya satu hal penting kalau kita butuh keseimbangan. Liburan memang menyenangkan, tapi bukan berarti rutinitas harus selalu terasa menyiksa.
Bagi kita, terutama Gen Z, hal ini bisa menjadi momen refleksi untuk menata ulang cara menjalani hidup. Mungkin bukan pekerjaannya yang salah, tapi cara kita mengatur ritme dan ekspektasi. Balik kerja memang terasa berat, tapi bukan berarti tidak bisa dijalani.
Dengan pendekatan yang lebih sadar dan realistis, kita bisa melewati fase ini tanpa harus kehilangan semangat sepenuhnya. Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang menikmati liburan, tapi juga tentang bagaimana kita menjalani hari-hari biasa dengan lebih bermakna.
Baca Juga
-
Membeli karena Butuh atau FOMO? Refleksi Gaya Hidup Gen Z di Era Konsumtif
-
Perempuan dan Inner Critic: Saat Suara dalam Diri Malah Jadi Musuh Terbesar
-
Self-Love vs People Pleasing: Dilema Perempuan di Persimpangan Jati Diri
-
Perempuan dan Gerakan Zero Waste: dari Dapur Rumah ke Perubahan Lingkungan
-
Eco-Friendly Mahal: Tantangan Anak Muda yang Ingin Peduli Lingkungan
Artikel Terkait
Kolom
-
Penolakan LCC Ulang oleh SMAN 1 Pontianak dan Versi Lite Pemberontakan Kaum Pintar
-
Retorika Pidato Presiden di Nganjuk, Menenangkan atau Menidurkan Logika?
-
Mental Inlander dan Luka Panjang Kolonialisme dalam Buku Max Havelaar
-
Tentang Dolar dan Orang Desa: Meluruskan Logika Pidato Presiden di Nganjuk
-
Masih Nongkrong di Kafe Saat Rupiah Anjlok? Pikirkan Lagi, Ini Risikonya buat Anak Kos
Terkini
-
Namkoong Min Comeback Lewat Drama Thriller 'The Husband', Tayang Juli 2026
-
Dibalik Pesona F4: Mengapa Kita Harus Berhenti Mengagungkan Hubungan Gu Jun Pyo dan Geum Jan Di?
-
Menyusuri Jambi Kota Seberang: Saat Rumah Kayu "Mengapung" di Atas Sungai
-
Rahasia Kulit Glow Up: 5 Step Body Care Agar Lembap dan Cerah
-
Membaca Kelakar Madura Buat Gus Dur: Sebuah Buku Tentang Indonesia yang Menggelitik