Pernahkah kalian sedang fokus bekerja, belajar, atau mungkin sekadar bernapas dengan tenang, lalu tiba-tiba ponsel bergetar? Dengan rasa ingin tahu yang tinggi, kalian membuka kunci layar, mengharap ada pesan penting atau minimal kabar dari gebetan. Namun, yang muncul di bilah notifikasi hanyalah sebuah huruf tunggal yang berdiri dengan angkuh tanpa konteks: "P".
Detik itu juga, rasanya ada sesuatu yang mendidih di dalam kepala saya. "P" ini apa? Apakah ini kode rahasia agen intelijen? Apakah ini singkatan dari "panggilan sayang"? Ataukah pengirimnya sedang mengalami kelumpuhan jari sehingga tidak sanggup mengetik satu kata utuh seperti "Halo" atau "Permisi"?
Fenomena "P" atau "Ping!" yang diwariskan dari zaman purbakala BlackBerry Messenger ini ternyata masih subur di tengah generasi yang katanya melek digital, padahal secara etika, ini adalah kemunduran yang nyata.
Masalah utama dari pengirim "P" adalah mereka merasa bahwa waktu mereka jauh lebih berharga daripada waktu penerima pesan. Dengan mengirim "P", mereka memaksa kita untuk membalas, "Iya, ada apa?" atau sekadar memberikan tanda tanya, barulah mereka menyampaikan maksud intinya. Ini adalah bentuk birokrasi komunikasi yang tidak perlu dan sangat menyita waktu. Kenapa tidak langsung saja tulis, "P, mau tanya soal tugas bahasa semalam"? Kan jauh lebih efisien.
Hal ini jelas menunjukkan penurunan etika komunikasi mendasar di tengah masyarakat yang serba instan. Dilansir dari survei etika digital oleh Microsoft, netizen Indonesia sering kali menempati urutan bawah dalam hal kesopanan digital di Asia Tenggara. Salah satu faktornya adalah kurangnya literasi dalam berkomunikasi secara asinkron (komunikasi yang tidak terjadi secara real-time). Banyak yang tidak paham bahwa dalam komunikasi lewat pesan singkat, kejelasan di awal adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap waktu orang lain.
Bicara soal data teknis, dikutip dari buku Digital Etiquette karya Victoria Turk, etika berkirim pesan yang benar adalah memberikan konteks yang lengkap dalam satu kali kirim agar penerima bisa menentukan prioritas balasan. Mengirim pesan menggantung seperti "P" atau "Halo, boleh tanya?" tanpa langsung menyebutkan apa pertanyaannya, secara psikologis dapat menimbulkan anxiety atau kecemasan kecil bagi penerimanya. Kita dipaksa untuk berspekulasi: ini kabar duka, tagihan utang, atau cuma basa-basi tak berguna?
Menurut saya, huruf "P" itu egois. Ia egois karena menuntut perhatian penuh tanpa mau memberikan informasi apa pun sebagai imbalannya. Di dunia profesional, atau bahkan dalam lingkup pertemanan yang sehat, mengirim pesan tanpa konteks adalah cara tercepat untuk membuat orang lain malas membalas. Bayangkan jika seorang mahasiswa mengirim "P" kepada dosennya. Itu bukan lagi urusan santai atau tidak santai, itu urusan degradasi sopan santun.
Dampaknya bagi kita yang sering menerima teror "P" ini adalah rasa lelah mental yang menumpuk. Kita jadi merasa "ditodong" untuk selalu siap sedia merespons sesuatu yang belum jelas urgensinya. Padahal, komunikasi digital seharusnya memudahkan hidup, bukan malah menambah beban pikiran dengan kuis tebak-tebakan huruf tunggal.
Mari kita analisis bersama bahwa kebiasaan ini berakar dari kemalasan dalam menyusun kalimat. Kita sudah terlalu dimanjakan dengan fitur-fitur instan sehingga menyusun satu kalimat pembuka yang sopan dan jelas rasanya seperti menulis skripsi bab empat: berat dan melelahkan. Padahal, tata bahasa yang baik dan benar sesuai EYD V tidak menuntut kita untuk menjadi kaku, hanya menuntut kita untuk menjadi manusia yang punya tata krama.
Saya punya usul sederhana. Mari kita sepakati bahwa huruf "P" di WhatsApp itu hanya boleh digunakan kalau kalian sedang tes sinyal di tengah hutan, atau kalau ponsel kalian terjatuh dan tanpa sengaja terpencet oleh jempol kaki. Selain itu, tolonglah, gunakan jari-jari yang kalian miliki untuk mengetik salam dan maksud tujuan.
Apakah kalian merasa lebih keren dan efisien dengan mengirim "P"? Ataukah sebenarnya kalian hanya sedang menunjukkan kepada dunia bahwa kalian terlalu malas untuk sekadar menjadi manusia yang menghargai manusia lainnya?
Pikirkan lagi sebelum jempolmu beraksi. Karena satu hurufmu mungkin tidak berarti apa-apa bagimu, tapi bisa merusak suasana hati orang yang menerimanya seharian penuh. Mari kembali beradab, meski hanya lewat selembar layar ponsel.
Baca Juga
-
Dari Candaan Mahasiswa yang Saya Dengar ke Realita Negara yang Menyesakkan
-
Segelas Kopi Rp30 Ribu dan Ketakutan Akan Hari Esok yang Kian Mahal
-
Surat Terbuka dari Saya untuk Algoritma yang Merampas Kejujuran Penulis
-
Saya Lelah Menjadi Budak Ambisi yang Dipaksa Kaya Sebelum Kepala Tiga
-
Kurang Tidur Bukan Lencana Kehormatan, Inilah Racun Hustle Culture yang Merusak Hidup Saya
Artikel Terkait
-
4 Cara Mengembalikan Chat WA yang Terhapus, Mudah dan Pasti Berhasil!
-
4 Cara Tag Semua Orang di Grup WhatsApp untuk Kirim Pengumuman Penting
-
5 Rekomendasi Smartwatch yang Bisa WhatsApp Call, Harga Ramah di Kantong Mulai Rp100 Ribuan
-
5 Fakta Lonjakan Trafik Data Lebaran 2026 XLSMART, WhatsApp Naik 64%
-
Terpopuler: Cara Mengatasi WhatsApp Pending, Rekomendasi HP Infinix Kamera Resolusi Tinggi
Kolom
-
Gaji UMR: Cukup untuk Hidup atau Cuma Cukup Biar Nggak Mati?
-
Guru: Kompas Peradaban atau Sekadar Buruh Kurikulum?
-
AI di Balik Lampu Merah: Solusi Cerdas atau Sekadar Jargon Estetik Penambal Macet?
-
Nasib Pekerja UMR: Kerja Keras untuk Bertahan Bukan Berkembang
-
Gaji Minimum, Beban Maksimum: Krisis Mental Health Para Pekerja UMR
Terkini
-
Usai 4 Kali Juara bersama Verstappen, Gianpiero Tinggalkan Red Bull ke McLaren
-
3 Toner Berbahan Black Rice yang Bikin Kulit Plumpy dan Auto Glowing
-
Harga Beras Bikin Jantungan? Di Penggilingan Turun, Eh di Pasar Malah Melambung!
-
Perempuan Muda Bermata Kosong yang Menghilang di dalam Kabin Truk Samsuri
-
Menaklukkan Gunung Malabar: Dari Sabana Indah hingga Tanjakan Mematikan