Ada sebuah fenomena ganjil yang belakangan ini lazim terjadi di layar ponsel kita: hilangnya rasa sungkan. Di dunia yang serba digital ini, banyak orang seolah kehilangan kemampuan untuk melihat jam sebelum menekan tombol kirim. Kirim pesan jam sebelas malam? Gas. Hari Minggu saat orang sedang asyik menyuapi anak? Hantam. Selama pesannya bertajuk "urusan akademik" atau "revisi mendesak", seolah-olah semua etika komunikasi boleh ditabrak begitu saja demi kepentingan pribadi yang dianggap darurat.
Keresahan ini bukan cuma soal teknis berkirim pesan, melainkan soal bagaimana kita memperlakukan waktu orang lain. Banyak yang menganggap bahwa karena kita hidup di era internet, maka "hadir secara digital" berarti "siap melayani secara total". Padahal, seorang dosen atau atasan bukanlah operator layanan pelanggan yang digaji untuk siaga 24 jam. Mereka punya kehidupan di luar kampus atau kantor yang tidak melulu berisi urusan silabus, metodologi penelitian, atau tumpukan berkas yang belum tuntas.
Krisis Etika di Ruang Privat
Fenomena ini adalah cerminan dari krisis etika ruang privat kita. Kita sering gagal membedakan mana ruang profesional dan mana ruang pribadi. Dikutip dari panduan etika komunikasi akademik secara universal, waktu ideal untuk menghubungi pihak profesional adalah pada hari dan jam kerja, biasanya antara pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Mengirim pesan di luar jam tersebut, apalagi di hari libur, sebenarnya adalah bentuk agresi halus terhadap hak istirahat seseorang.
Data dari sebuah survei yang dirilis oleh Civility Index menunjukkan bahwa tingkat kesopanan digital masyarakat kita sering kali merosot karena hilangnya empati saat berkomunikasi lewat layar. Kita tidak melihat wajah lawan bicara yang sedang lelah, kita hanya melihat kolom chat yang harus segera diisi agar beban pikiran kita pindah ke pundak orang lain.
Dilansir dari penelitian dalam jurnal Psychology of Popular Media, budaya "ketersediaan konstan" atau constant availability ini justru menurunkan kualitas respons karena penerima pesan merasa terinvasi privasinya, yang sering kali berujung pada jawaban yang singkat atau bahkan pengabaian secara sengaja.
Paradoks Kesopanan: Maaf Tapi Tetap Kirim
Argumen yang sering muncul sebagai pembelaan biasanya adalah kata-kata manis seperti, "Mohon maaf mengganggu waktunya, Bapak/Ibu." Namun, mari kita jujur: mengawali pesan dengan permintaan maaf tetapi tetap mengirimkannya pada hari Minggu sore adalah sebuah paradoks kesopanan. Itu rasanya seperti bertamu ke rumah orang jam satu pagi, menggedor pintunya kuat-kuat, lalu bilang "permisi" saat orangnya bangun dengan muka kuyu. Itu bukan sopan, itu hanya formalitas untuk menutupi keegoisan.
Dalam konteks sosial yang lebih luas, ini berkaitan dengan hustle culture yang salah kaprah. Ada ketakutan kolektif bahwa jika kita tidak bergerak cepat—termasuk menghubungi dosen di luar jam kerja—urusan kita akan terbengkalai. Padahal, dunia tidak akan berhenti berputar hanya karena pesan itu baru dikirim Senin pagi. Menghargai waktu istirahat orang lain sebenarnya adalah bentuk investasi profesionalisme. Orang yang merasa privasinya dihargai biasanya akan memberikan respons yang jauh lebih berkualitas dan suportif daripada mereka yang merasa "diteror" oleh notifikasi tak kenal waktu.
Taruhan Citra Diri
Dampaknya bagi siapa pun yang hobi mengirim pesan tanpa melihat jam ini sebenarnya cukup fatal. Tanpa disadari, citra diri sedang dipertaruhkan. Bukannya urusan cepat selesai, yang ada lawan bicara malah kehilangan respek. Di lingkungan akademis maupun profesional, kemampuan membaca situasi dan menghargai batasan adalah indikator kedewasaan seseorang. Sangat disayangkan jika kecerdasan intelektual seseorang harus ternoda hanya karena ia tidak punya kecerdasan emosional dalam menggunakan aplikasi pesan singkat.
Jika kita analisis bersama, ponsel seharusnya menjadi alat komunikasi, bukan borgol yang mengikat hidup orang lain selama 24 jam penuh. Kita perlu belajar menunda keinginan instan demi kenyamanan kolektif. Etika digital ini harusnya menjadi kesadaran dasar bagi siapa saja yang mengaku terpelajar. Menghargai waktu orang lain adalah cara paling sederhana untuk menghargai kemanusiaan itu sendiri.
Ayo, mari kita mulai belajar menahan jempol. Sebelum menekan tombol kirim, coba lihat jam di pojok ponselmu. Kalau sudah lewat jam kerja atau ini adalah hari libur, tarik napas dalam-dalam, simpan pesan itu di draf, dan kirimkan besok pagi di jam yang manusiawi. Target revisimu mungkin penting, tapi kesehatan mental dan waktu istirahat orang lain juga tak kalah berharga.
Apakah kita ingin dikenal sebagai pribadi yang beradab dan profesional, atau hanya diingat sebagai penjahat waktu yang hobi merusak hari tenang orang lain? Pilihan ada di jarimu. Mari mulai menjadi manusia yang lebih "melek waktu" sebelum kita sendiri yang kehilangan waktu karena terlalu sibuk mengintervensi ruang privasi orang lain.
Baca Juga
-
Buku Itu Dibaca Isinya, Bukan Cuma untuk Menghias Feed Instagram Biar Kelihatan Keren
-
Gaji UMR Kediri, Selera Senopati: Ketika Gengsi Jadi Kendaraan Menuju Kebangkrutan
-
Selamat Datang di Era Satu Pekerjaan Saja Tidak Cukup untuk Bertahan Hidup
-
Kalau Kamu Bukan HRD atau Calon Mertua, Tolong Jangan Tanya soal Gaji Saya
-
Bukan Masalah Kurang Bersyukur, Saya Kerja 3 Profesi Pun Masih Tetap Bokek
Artikel Terkait
-
Belum Kelar Skandal Mahasiswa Hukum UI, Muncul Isi Chat Mesum Diduga Guru Besar Unpad
-
Dosen Universitas Budi Luhur Inisial Y Dipolisikan, Diduga Cabuli Mahasiswi Sejak 2021
-
Tanpa Tuhan Apakah Segalanya Diizinkan? Mencari Akar Etika Lewat Filsafat
-
Boleh Dicuci seperti Reza Arap? Ini Cara Membersihkan iPhone yang Benar
-
Spek Makin Gahar Ada Lampu RGB di Belakang, Poco X8 Pro Tetap 4 Jutaan
Kolom
-
Resonansi Sunyi di Jombang: Sebuah Dialektika Tentang Hidup dan Rasa Cukup
-
Hari Pertama Haid dan Tuntutan Perempuan untuk Tetap Kuat
-
Bukan Generasi Stroberi yang Rapuh, Mungkin Kita yang Terlalu Cepat Menilai
-
Apel Batu di Ujung Tanduk: Cerita Petani di Tengah Perubahan Kota Batu
-
Bukan Sekadar April Mop, Harga Plastik Melejit hingga 50 Persen: Sanggupkah UMKM Kita Bertahan?
Terkini
-
Gaya Casual ke Formal Look, 4 Ide Outfit ala Shin Hae Sun yang Super Chic!
-
Luka yang Tidak Selesai: Membaca Trauma Han Seol-ah dalam Sirens Kiss
-
Bukan Sekadar Label, Aturan Kemenkes Ini Sentil Cara Kita Makan Sehari-hari
-
Dalang Penggedor Pintu Dapur di Malam Takbir Saat Nenek Membuat Wajik
-
Belajar Ikhlas di Taman Rusa USU: Ruang Pulang Saat Saya Berada di Titik Terendah