Di lorong-lorong kampus atau di barisan meja kafe yang buka 24 jam, ada sebuah tren pamer yang sangat ganjil. Alih-alih pamer pencapaian, banyak mahasiswa justru bangga memamerkan penderitaan fisik. "Gila, gue baru tidur dua jam demi kelarin revisi bab tiga," atau "Gue belum tidur sama sekali nih dari kemarin, cuma modal kopi hitam." Kalimat-kalimat itu diucapkan dengan nada bangga, seolah-olah mata panda dan tubuh yang ringkih adalah lencana kehormatan bagi seorang pejuang akademis.
Selamat datang di sekte toxic productivity lingkungan kampus, di mana istirahat dianggap sebagai dosa dan begadang adalah syarat mutlak untuk disebut produktif. Kita sedang hidup di tengah romantisasi academic burnout, sebuah kondisi di mana kelelahan mental yang akut malah dianggap sebagai simbol dedikasi. Padahal, mari kita bicara jujur, sering kali begadang itu bukan karena tugasnya yang setinggi gunung, melainkan karena kita yang hobi menunda pekerjaan sampai detik-detik terakhir, lalu menyalahkan keadaan saat harus terjaga sampai subu.
Romantisasi Lelah yang Salah Kaprah
Fenomena sosial ini adalah dampak dari hustle culture yang merambah dunia pendidikan. Mahasiswa merasa bahwa jika mereka tidak terlihat "sibuk sampai mau mati", artinya mereka tidak cukup keras berjuang. Dilansir dari survei yang dilakukan oleh American College Health Association, lebih dari 60 persen mahasiswa merasa sangat lelah secara fisik dan mental akibat beban akademik yang berlebihan. Namun, yang jadi masalah adalah ketika kelelahan ini malah dijadikan standar kesuksesan, bukan sebuah alarm untuk segera beristirahat.
Mari kita lihat datanya agar tidak dikira sekadar ceramah kesehatan. Dikutip dari penelitian dalam jurnal Nature and Science of Sleep, kurang tidur secara kronis pada mahasiswa berkorelasi langsung dengan penurunan fungsi kognitif, daya ingat yang melemah, dan peningkatan risiko gangguan kecemasan. Secara teknis, otak yang dipaksa bekerja setelah terjaga lebih dari 18 jam memiliki performa yang sama buruknya dengan otak orang yang sedang mabuk. Jadi, revisi yang kamu kerjakan jam tiga subuh itu kemungkinan besar isinya berantakan karena otakmu sudah tidak sanggup lagi berpikir logis.
Kesehatan Bukan Harga yang Pantas untuk Nilai
Menurut saya, memaksakan diri untuk terus produktif saat tubuh sudah mengirim sinyal "merah" bukanlah sebuah prestasi, melainkan bentuk kezaliman terhadap diri sendiri. Kita sering kali lebih takut ketinggalan satu halaman tugas daripada kehilangan kesehatan jangka panjang. Di dunia kerja nanti, kebiasaan begadang tanpa manajemen waktu yang baik ini akan menjadi bumerang. Atasan tidak butuh orang yang terlihat sibuk sampai pagi; mereka butuh orang yang bisa menyelesaikan tugas secara efektif di jam kerja yang normal.
Dampaknya bagi budaya "pamer begadang" ini juga menciptakan tekanan sosial bagi mahasiswa lain. Mereka yang sebenarnya bisa mengatur waktu dengan baik dan tidur cukup malah merasa insecure atau merasa "kurang ambis" karena melihat teman-temannya yang lain terlihat sangat tersiksa. Ini adalah standar ganda yang sangat beracun. Kita seharusnya memuji mereka yang bisa menyelesaikan tugas tanpa harus merusak siklus sirkadian tubuhnya, bukan malah mendewakan mereka yang bangga jadi "zombie" kampus.
Penutup: Renovasi Pola Pikir
Pendidikan kita seharusnya mengajarkan cara berpikir, bukan cara menyiksa diri. Jika sistem akademik memang menuntut mahasiswa untuk terjaga 24 jam demi nilai, maka sistem itulah yang gagal. Namun, jika itu adalah pilihan pribadi demi sebuah validasi sosial, maka pola pikir kitalah yang harus segera direnovasi. Menghargai waktu tidur adalah bentuk penghargaan tertinggi terhadap otak yang setiap hari kita pakai untuk menelan teori-teori berat.
Berhenti merasa bersalah saat kamu memutuskan untuk menutup laptop di jam sepuluh malam. Dunia tidak akan runtuh hanya karena kamu memilih untuk sehat. IPK tinggi bisa kamu kejar, tapi kesehatan yang sudah rusak tidak bisa kamu beli lagi dengan uang hasil kerjamu nanti. Mari berhenti memuja lelah, karena tubuhmu punya hak untuk beristirahat tanpa perlu merasa berdosa.
Baca Juga
-
Internet Sudah Jadi Kebutuhan Pokok, Kenapa Tata Kelolanya Masih Merugikan Konsumen?
-
BBM Non Subsidi September 2026 Naik: Beban Global atau Momentum Evaluasi?
-
XL Buktikan Diri Jadi Jaringan Terbaik 2026, Saatnya Kamu Coba Sendiri!
-
Gaji Naik Secepat Siput, Harga Rumah Melesat bak Roket Luar Angkasa
-
Iqro', Lagu yang Bikin Saya Mikir Ulang soal Kesombongan Sendiri
Artikel Terkait
-
LPSK Siap Lindungi 20 Korban Pelecehan FH UI dari Potensi Intimidasi hingga Pelaporan Balik
-
Guru Besar Diduga Minta Foto Bikini Mahasiswi, Rektor Unpad Buka Suara
-
Kampus Darurat Kekerasan Seksual: Menggugat Budaya Diam di Lingkungan Akademik
-
Tidak Ada Kampus yang Sempurna! Membaca Catatan Hati Seorang Mahasiswa
-
Bukti Awal Sudah di Kantong! Polda Metro Jaya Siap Usut Skandal Pelecehan Seksual Mahasiswa FH UI
Kolom
-
Kontroversi Uan Juicy Luicy: Mengapa Humor Misoginis Tak Boleh Dimaklumi
-
Memahami Privilege Blindness di Tengah Krisis dan Berita Buruk
-
Paranoia Kolonial di Tanah Suci: Membedah Politik Haji Pada Masa Penjajahan
-
Jalan Teknokratis Suahasil Nazara Menuju Kursi Menteri Keuangan
-
Karhutla Jadi Sorotan Dunia, Mengapa Respons Pemerintah Masih Santai?
Terkini
-
5 Sunscreen Korea untuk Kulit Sensitif: Aman, Tanpa Alkohol dan Parfum
-
Humor Jurnalistik: Belajar Menulis Tajam Tanpa Harus Mengernyitkan Dahi
-
Membedah Teka-teki dan Teror Psikologis dalam Film The Whisper Man
-
Live-Action Look Back Sukses Bawa Pulang UNIMED Award dalam Gelaran Venice
-
Jadwal MotoGP Austria 2026: 3 Pembalap Ini Bersiap Menyelamatkan Diri!