Saya pernah berada di fase di mana hidup terasa seperti panggung tanpa jeda. Apa pun yang saya lakukan, selalu ada perasaan “harus lebih”. Harus lebih rapi, lebih pintar, lebih produktif, lebih tenang, bahkan lebih bahagia.
Yang membuat saya lelah bukan hanya tuntutan itu sendiri, tapi fakta bahwa banyak dari standar tersebut tidak pernah benar-benar diucapkan. Ia ada, tapi tidak terlihat. Dan entah sejak kapan, saya mulai mengikutinya tanpa sadar.
Standar yang Tidak Pernah Jelas, Tapi Terasa Nyata
Sebagai perempuan, saya sering merasa ada “aturan tak tertulis” yang harus dipenuhi. Tidak ada yang secara langsung mengatakan, tapi saya bisa merasakannya dan bahkan seolah memang wajib dilakukan.
Misalnya, harus terlihat baik di depan orang lain. Harus bisa mengatur emosi. Harus tetap kuat, tapi tidak boleh terlihat terlalu dominan. Semua terasa seperti ekspektasi yang diam-diam mengikat.
Dan yang paling membingungkan, standar ini tidak pernah benar-benar jelas. Tapi dampaknya nyata—membuat saya sering merasa tidak cukup, meski sudah berusaha sebaik mungkin.
Media Sosial dan Ilusi Kesempurnaan
Saya tidak bisa menyangkal kalau media sosial punya peran besar dalam membentuk standar ini. Setiap hari, saya melihat begitu banyak versi “perempuan ideal”—yang produktif, rapi, cantik, sukses, dan tetap terlihat santai.
Awalnya, saya menganggap itu sebagai inspirasi. Tapi lama-lama, tanpa sadar saya mulai membandingkan diri. Kenapa hidup saya tidak serapi itu? Kenapa saya masih sering merasa lelah? Kenapa saya belum sampai di titik itu?
Padahal, yang saya lihat hanyalah potongan kecil dari kehidupan orang lain. mereka hanya menunjukkan apa yang memang ingin diperlihatkan pada dunia. Tapi tetap saja, rasanya seperti sebuah tolok ukur.
Tekanan untuk Menjadi “Segalanya”
Yang paling melelahkan adalah ketika saya merasa harus menjadi banyak hal sekaligus. Harus mandiri, tapi tetap hangat. Harus ambisius, tapi tidak boleh terlalu menonjol. Harus kuat, tapi tetap “terlihat feminin”.
Seolah-olah, menjadi satu versi diri saja tidak cukup. Saya pernah mencoba untuk memenuhi semua itu. Hasilnya? Bukan kepuasan, tapi kelelahan. Saya merasa kehilangan arah karena terlalu sibuk memenuhi ekspektasi yang bahkan bukan milik saya sendiri.
Bertanya Ulang: Untuk Siapa Semua Ini?
Di satu titik, saya mulai berhenti sejenak dan bertanya: “Sebenarnya, saya melakukan semua ini untuk siapa?”. Apakah benar untuk diri saya sendiri? Atau untuk terlihat “cukup” di mata orang lain?
Pertanyaan ini cukup untuk membuat saya berpikir ulang. Saya mulai menyadari banyak hal yang saya kejar bukan karena saya benar-benar menginginkannya, tapi karena saya merasa “seharusnya begitu”. Dan itu dua hal yang berbeda.
Belajar Melepaskan Standar yang Tidak Perlu
Pada akhirnya saya merasa harus mulai melepaskan standar yang tidak perlu. Proses ini memang tidak mudah. Bahkan saya masih sering merasa bersalah ketika tidak produktif. Masih membandingkan diri dan merasa tertinggal dari orang lain.
Tapi perlahan, saya belajar untuk lebih jujur pada diri sendiri. Tidak semua standar harus saya ikuti. Tidak semua ekspektasi harus saya penuhi. Dan saya mulai memilih apa yang benar-benar penting, yang membuat saya berkembang, bukan sekadar terlihat baik.
Menerima: Tidak Harus Sempurna
Salah satu hal yang paling sulit adalah menerima bahwa saya tidak harus sempurna. Selama ini, kata “cukup” terasa seperti sesuatu yang kurang. Padahal, mungkin justru di situlah letak keseimbangan.
Saya mulai melihat kalau menjadi manusia berarti punya batas. Punya hari baik dan hari buruk. Punya momen kuat dan momen rapuh. Dan itu membuat saya nyata, tidak membuat saya kurang sebagai perempuan.
Saya Masih Berproses
Hari ini, saya masih dalam proses. Masih belajar memahami diri sendiri. Masih mencoba melepaskan standar yang tidak perlu. Tapi satu hal yang mulai saya pahami: kesempurnaan itu relatif. Dan jika harus terus mengejarnya tanpa tahu untuk siapa, saya hanya akan terus merasa kurang.
Jadi, jika saya harus sempurna, saya ingin itu untuk diri saya sendiri—bukan untuk memenuhi ekspektasi dan validasi sosial. Karena pada akhirnya, menjadi perempuan bukan tentang memenuhi semua standar, tapi berani menentukan standar kita sendiri.
Baca Juga
-
Soft Life In This Economy: Bisakah Tenang di Tengah Biaya Hidup Meningkat?
-
Gen Z dan Fenomena Dating Fatigue: Saat Mencari Cinta Justru Bikin Lelah
-
Realita Sepi yang Disimpan Diam-diam: Beratnya Hidup Minim Support System
-
Rumah untuk Pulang: Seberapa Penting Punya Tempat Kembali yang Seutuhnya?
-
5 Tanda Hubungan Masuk Safe Place Phase, Benarkah Tak Semua Pasangan Kuat?
Artikel Terkait
-
Belajar dari Kartini: Perempuan Tidak Harus Sempurna untuk Berharga
-
Hidup Bukan Template: 7 Keputusan Ini Sah Banget Dilakukan Tanpa Butuh Validasi Netizen
-
Gen Z Tidak Kurang Dukungan Hanya Kecanduan Pengakuan, Benarkah?
-
Bukan Pengikutmu yang Sempurna: Saat Iman Menabrak Tembok Logika
-
Cara Cepat Berhenti Capek Mental: Setop Beri Ekspektasi Tinggi ke Orang Lain
Kolom
-
Gambut Terbakar, Narasi Bermunculan: Di Mana Mitigasi Karhutla?
-
Program Tak Goyah Dihantam Kritik: Benarkah Suara Publik Tak Mengusik MBG?
-
Soft Life In This Economy: Bisakah Tenang di Tengah Biaya Hidup Meningkat?
-
Bersih-Bersih Sungai Tak Cukup Jika Keran Plastik Terus Mengalir
-
Modal Photocard Idol, Penjualan Melejit! Kok Bisa Strategi Marketing Ini Laku Keras di Indonesia?
Terkini
-
Mulai Rp21 Jutaan, iPhone 18 Pro dan Pro Max Resmi Meluncur dengan Kapasitas Tembus 2TB!
-
Review Autopsy: Dead Body Can Talk, Saat yang Mati Jadi Saksi Paling Jujur
-
Ulasan Super Psychic Policeman Chojo Vol 1-3, Duo Polisi Ajaib yang Absurd!
-
Penuh Sensasi! Minho SHINee Unjuk Daya Tarik Kuat Lewat Lagu Make It Hot
-
Twibbon Maba Pakai Video Lucu: Anak Muda Sekarang Tak Mau Terlalu Serius