Saat kedua orang tua bekerja untuk mencari nafkah, umumnya anak mereka yang masih kecil dititipkan kepada pembantu atau tempat penitipan anak (daycare). Jika menitipkan anak kepada pembantu maupun tetangga di lingkungan sekitar, orang tua cenderung masih sulit percaya (trust issue). Sebaliknya, daycare memiliki program pengasuhan yang terstruktur sehingga orang tua lebih memilih menitipkan anak di sini.
Namun, daycare yang selama ini dianggap profesional dalam menjaga anak-anak justru ditemukan peristiwa yang janggal dan tidak mengenakkan. Peristiwa ini dialami oleh beberapa orang tua saat mengajak anaknya kembali mengunjungi Daycare Little Aresha di Yogyakarta.
Alih-alih bahagia akan bertemu dengan teman-temannya, mereka malah menunjukkan muka masam sambil menangis terisak-isak. Sementara itu, orang tua mungkin masih menganggap bahwa tangisan itu datang karena anak tidak ingin ditinggal pergi. Padahal, anak sedang memberi pesan tersembunyi melalui air mata mereka.
Ironisnya, anak-anak tidak bisa bicara karena diancam untuk tidak menceritakan apa pun yang terjadi. Mereka hanya bisa menangis sambil menunggu kepekaan datang dari seorang ibu dan ayah untuk mengerti apa yang telah terjadi. Meskipun begitu, sebagian orang tua juga merasa kebingungan karena selalu menemukan luka ataupun ruam di tubuh anak setelah kembali ke rumah.
Untungnya, mantan karyawan daycare telah melaporkan peristiwa tragis tersebut kepada pihak kepolisian. Walaupun sudah memakan banyak korban, setidaknya korban tidak akan bertambah lagi dan oknum akan segera diproses hukum. Bayangkan, jika daycare itu sampai saat ini masih beroperasi, entah butuh berapa banyak korban lagi yang akan mereka siksa, sungguh jahanam!
Oleh sebab itu, kasus tersebut perlu menjadi perhatian bagi orang tua yang saat ini sedang menitipkan anak ke salah satu daycare dengan melakukan pemeriksaan, dimulai dari bertanya kepada anak serta memastikan lingkungan pengasuhan transparan. Tanyakan dan pastikan bahwa anak dalam kondisi baik-baik saja dan tidak ada sesuatu yang disembunyikan.
Kemudian untuk orang tua yang akan menitipkan anak ke daycare, sangat penting untuk memperhatikan berbagai aspek, misalnya reputasi, legalitas, kebersihan, rasio pengasuh anak, kurikulum aktivitas, dan transparansi. Menitipkan anak di daycare adalah keputusan besar yang membutuhkan ketelitian tinggi. Hal ini penting mengingat keamanan dan tumbuh kembang anak harus menjadi prioritas utama.
Melalui kasus ini, kita perlu memahami bahwa setinggi apa pun pendidikan seseorang, tanpa empati dan integritas, kepercayaan yang diberikan justru bisa berubah menjadi ancaman bagi anak-anak yang seharusnya dilindungi. Mengasuh anak bukan sekadar pekerjaan yang bisa diukur dengan sertifikat atau pelatihan formal, tetapi membutuhkan kesabaran, kepekaan, dan hati nurani.
Orang tua perlu memahami setiap gerak-gerik anak. Jangan sepelekan perubahan perilaku dan reaksi tubuh mereka. Orang tua harus menjadi garda terdepan dalam perlindungan anak. Jangan tinggalkan mereka tanpa pengawasan, baik melalui CCTV (kamera pengawas) atau laporan pengasuh secara berkala.
Lebih dari itu, penting bagi orang tua untuk membangun komunikasi yang hangat dan terbuka sejak dini agar anak merasa aman untuk bercerita tanpa rasa takut. Ciptakan kebiasaan sederhana seperti menanyakan aktivitas harian dengan penuh perhatian, bukan sekadar formalitas. Di sisi lain, lembaga daycare juga harus berani membuka diri terhadap evaluasi publik dan pengawasan berkala sebagai bentuk tanggung jawab moral. Lingkungan yang aman tidak hanya dibangun dari sistem, tetapi dari komitmen semua pihak yang terlibat.
Jika kepedulian ini terus dijaga, maka daycare benar-benar bisa menjadi tempat tumbuh, bukan tempat yang meninggalkan trauma bagi anak yang tak bersalah.
Baca Juga
-
Proyek 10 Kampus URI: Solusi Cetak Birokrat atau Pemborosan Dana APBN?
-
Nyawa Dibayar Ayam Sabung: Alarm Keras untuk Penegakan Hukum dan Nurani Kita
-
Membedah Lirik "Pura-Pura Hidup Lagi" Aruma: Validasi untuk Kamu yang Sedang Lelah Berjuang
-
Prabowo Cap Wartawan Londo Ireng: Saat Kritik Dibalas Stigma, Demokrasi Dikorbankan?
-
Eksklusivitas Komunitas Lari WNA di Bali: Menggugat Kedaulatan Ruang Publik Kita
Artikel Terkait
-
UGM Tegaskan Dosen Jadi Penasihat Daycare Little Aresha Bukan Representasi Kampus
-
Titip Anak, Titip Trauma? Wajah Gelap Daycare Ilegal di Indonesia
-
Media Inggris Sorot Kekejaman Daycare Little Aresha Jogja: Sungguh Tak Termaafkan
-
Motif Ekonomi di Balik Kekerasan Daycare Little Aresha, Satu Pengasuh Tangani Delapan Anak
-
10 Tanda Anak Menjadi Korban Kekerasan Seksual, Jangan Sepelekan Perubahan Fisik dan Perilaku Ini
Kolom
-
Memori HP Penuh, Kenapa Kita Seolah Merasa Berat Menghapus File Lama?
-
Kalau Semua Orang Mau Naik Transum, Mungkin Kota Kita Tak Semacet Sekarang?
-
Masih Enggan Naik Transportasi Umum? Sudah Saatnya Mengubah Cara Pandang
-
Magang Berkepanjangan: Bekal Karier atau Bentuk Eksploitasi Anak Muda?
-
'Binatang Jalang', Noda Chairul Anwar dalam Skema Korupsi Pakan Binatang
Terkini
-
The House That Floated, Kisah Tanpa Dialog yang Membuat Pembaca Terharu
-
Surga Tersembunyi di Jalur Pantura Situbondo:Catatan Perjalanan ke Utama Raya Beach
-
Naik Transportasi Umum, Langkah Sederhana yang Bisa Bikin Kota Lebih Nyaman
-
Review How to Say You're Sorry, Buku Anak tentang Arti Permintaan Maaf
-
Ip Man: Kung Fu Legend, saat Film Bela Diri Modern Hilang Momen Ikoniknya