Sekar Anindyah Lamase | e. kusuma .n
Ilustrasi anak di daycare (Pexels/Pavel Danilyuk)
e. kusuma .n

Menjadi ibu bekerja di zaman sekarang rasanya seperti berjalan di atas tali—harus seimbang, hati-hati, dan tidak boleh lengah. Banyak wanita karier yang sudah menjadi ibu merasakan hal itu setiap hari.  

Namun belakangan, keseimbangan itu terasa semakin rapuh sejak maraknya berita tentang daycare yang bermasalah. Tempat yang seharusnya menjadi ruang aman bagi anak justru menjadi sumber kekhawatiran baru bagi banyak ibu yang terpaksa menitipkan anak selama bekerja.

Di tengah situasi ini, dilema yang dirasakan bukan lagi sekadar soal membagi waktu antara rumah dan pekerjaan. Ini tentang rasa percaya, rasa bersalah, dan ketakutan yang datang bersamaan.

Antara Kebutuhan dan Pilihan yang Terbatas

Tidak semua ibu bekerja karena “ingin”, sebagian memilih bekerja karena harus. Kebutuhan hidup yang terus meningkat membuat dua sumber penghasilan menjadi hal yang realistis, bahkan penting. 

Keputusan untuk tetap bekerja bukan sesuatu yang diambil dengan ringan. Namun ketika pilihan untuk bekerja bertemu dengan keterbatasan dalam pengasuhan anak, daycare menjadi solusi yang paling masuk akal. 

Sayangnya, di tengah banyaknya berita negatif, pilihan itu terasa seperti "perjudian" emosional. Para ibu ini tahu mereka butuh bekerja, tapi juga tidak ingin mengambil risiko terhadap keamanan anak.

Rasa Bersalah yang Datang Diam-diam

Ada satu hal yang sering tidak dibicarakan secara jujur, yakni rasa bersalah. Setiap kali melihat anak harus berpisah di pagi hari, ada perasaan yang sulit dijelaskan oleh ibu pekerja. Terlebih ketika berita tentang daycare “nakal” terus bermunculan, rasa bersalah itu pasti semakin besar.

Mungkin para ibu ini mulai mempertanyakan diri sendiri. Apakah keputusan memilih daycare ini terlalu memaksakan keadaan? Apakah akan mengorbankan kenyamanan anak demi ambisi pribadi? 

Padahal, bekerja juga bagian dari upaya memberikan kehidupan yang lebih baik untuk keluarga. Tapi tetap saja, rasa bersalah itu tidak mudah hilang.

Kepercayaan yang Mulai Rapuh

Salah satu hal terpenting dalam menitipkan anak adalah kepercayaan. Dulu, orang tua mungkin bisa lebih tenang setelah memilih daycare yang menurut mereka sudah cukup baik. Tapi sekarang, kepercayaan itu tidak lagi utuh.

Berita-berita yang beredar membuat ibu yang bekerja menjadi lebih waspada, bahkan cenderung curiga. Mereka bahkan mungkin mulai lebih sering mengecek, bertanya, dan memastikan. Bukan overprotektif, tapi karena rasa aman itu tidak lagi datang dengan mudah.

Kepercayaan yang rapuh ini membuat segalanya terasa lebih melelahkan—secara mental dan emosional. Ada rasa bersalah pada anak yang juga ikut menekan mental seorang ibu. 

Overthinking yang Tidak Pernah Usai

Sebagai ibu, pikiran perempuan sering kali sulit berhenti. Di kantor, saat sedang bekerja, tiba-tiba muncul bayangan: apakah anak saya sedang menangis? Apakah ia diperlakukan dengan baik? Apakah ia merasa sendirian?

Overthinking ini datang tanpa izin. Bahkan ketika tidak ada tanda-tanda masalah, pikiran seolah tetap mencari celah untuk merasa khawatir. Ini bukan hanya tentang berita yang berseliweran, tapi tentang ketakutan yang tumbuh dari rasa sayang. Dan pastinya kondisi ini sangat menguras energi.

Bertahan atau Mengalah?

Di titik tertentu, perempuan kembali dihadapkan pada dilema dan mulai mempertimbangkan ulang semuanya. Haruskah saya berhenti bekerja? Haruskah saya mencari alternatif lain, meski belum tentu lebih baik? Atau saya tetap bertahan sambil terus meningkatkan kewaspadaan?

Tidak ada jawaban yang benar-benar pasti. Setiap pilihan memiliki konsekuensinya sendiri. Mereka sadar berhenti bekerja bukan solusi instan, sama seperti bertahan juga bukan tanpa risiko.

Akhirnya, tumbuh satu kesadaran: mungkin ini bukan tentang memilih jalan yang paling benar, tapi memilih jalan yang paling bisa dipertanggungjawabkan—sebagai ibu dan sebagai individu.

Belajar Menyikapi dengan Lebih Sadar

Di tengah semua dilema ini, kita belajar untuk tidak hanya bereaksi, tapi juga bersikap lebih sadar. Banyak yang mulai lebih selektif dalam memilih daycare, lebih aktif berkomunikasi dengan pengasuh, dan lebih peka terhadap perubahan kecil pada anak.

Ada juga yang belajar untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri. Tidak semua hal bisa dikontrol, dan tidak semua keputusan akan terasa sempurna. Tapi selama seorang ibu terus berusaha memberikan yang terbaik, itu sudah cukup berarti. 

Menjadi ibu bekerja di tengah isu daycare “nakal” memang penuh tantangan. Tapi di balik itu, ada proses belajar yang tidak sederhana—tentang kepercayaan, tentang keberanian mengambil keputusan, dan tentang mencintai tanpa henti, bahkan di tengah rasa takut.

Mungkin dilema ini tidak akan pernah benar-benar hilang. Tapi setiap hari, perempuan "bergelar" ibu akan belajar untuk tetap melangkah, dengan hati yang lebih kuat dan kesadaran yang lebih dalam.