Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Kita Adalah Siapa yang Kita Temui (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Kalau ada yang bilang kita harus berteman dengan siapa saja, justru di buku ini bilang sebaliknya. Teman harus dipilih dengan bijak. Nah, di sinilah letak perbedaan teman dan kenalan. Kalau kamu suka buku yang blak-blakan, buku ini bakal cocok buat kamu yang suka ditampar oleh kenyataan. 

Buku Kita Adalah Siapa yang Kita Temui karya You Yeongmahn menawarkan satu gagasan tajam. Kualitas hidup kita sangat dipengaruhi oleh orang-orang yang kita temui. Dan lebih dalam lagi, oleh cara kita memahami mereka.

Membaca buku ini seperti membuka lapisan-lapisan karakter yang selama ini mungkin kita abaikan. Lewat pendekatan berbasis contoh kasus, penulis mengajak pembaca untuk mengamati perilaku manusia secara konkret. Tidak terlalu teoritis, tetapi langsung menyentuh situasi sehari-hari.

Isi Buku

Bagian awal buku ini menjadi kekuatan utamanya. Penulis berhasil mengurai berbagai tipe karakter manusia dengan cara yang tajam dan cukup “menampar”. Ada sepuluh tipe yang dibahas, mulai dari “yang telinganya tersumbat” hingga “yang tidak tahu balas budi”. Tipe-tipe ini bukan sekadar label, melainkan refleksi dari perilaku yang sering kita temui atau bahkan kita miliki sendiri.

Di sinilah buku ini menjadi relevan. Ia tidak hanya membantu kita mengenali orang lain, tetapi juga memaksa kita untuk jujur pada diri sendiri. Apakah kita termasuk orang yang hanya datang saat butuh? Apakah kita cenderung ingin menang sendiri?

Atau justru sering menilai orang lain tanpa melihat kekurangan diri?

Pendekatan ini membuat buku terasa personal. Pembaca tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga objek yang diamati.

Salah satu poin penting yang diangkat adalah hubungan antara ketidaktahuan diri dan masalah mental, seperti stres atau depresi. Banyak konflik dalam hubungan antarmanusia sebenarnya berakar dari ketidakmampuan memahami diri sendiri dan orang lain. Ketika ekspektasi tidak bertemu dengan realitas, yang muncul adalah kekecewaan.

Buku ini mencoba menjembatani itu dengan meningkatkan kecerdasan interpersonal. Namun menariknya, kecerdasan ini tidak diartikan sebagai kemampuan menyenangkan orang lain. Justru sebaliknya, pembaca diajak untuk tetap menghargai diri sendiri sambil memahami orang lain. Ada keseimbangan antara empati dan batas diri.

Konsep bahwa hubungan manusia bersifat timbal balik juga menjadi benang merah yang kuat. Kita bukan hanya dipengaruhi oleh orang lain, tetapi juga memengaruhi mereka. Artinya, kualitas hubungan tidak hanya ditentukan oleh siapa yang kita temui, tetapi juga oleh siapa kita dalam hubungan itu.

Namun, buku ini tidak sepenuhnya tanpa catatan.

Memasuki bagian kedua, energi yang sebelumnya terasa kuat mulai menurun. Pembahasan tentang menjadi “orang yang berbeda” cenderung berulang dan kurang padat. Ide-ide yang sebenarnya bisa disampaikan secara ringkas justru diperpanjang, sehingga ritme membaca menjadi lebih lambat. Ini bisa terasa membosankan dan mengurangi dampak keseluruhan buku.

Padahal, jika bagian ini diringkas, buku ini berpotensi menjadi karya pengembangan diri yang jauh lebih solid.

Meski demikian, pesan yang ingin disampaikan tetap jelas: perubahan diri adalah proses yang harus disadari. Menjadi “berbeda” bukan berarti menjadi orang lain, tetapi menjadi versi yang lebih baik dari diri sendiri. Tidak menyia-nyiakan waktu untuk memperburuk diri, melainkan terus memperbaiki kualitas pribadi.

Kelebihan dan Kekurangan

Yang menarik, buku ini juga mengajak pembaca untuk lebih selektif dalam membangun relasi. Tidak semua orang harus diberi ruang yang sama dalam hidup kita. Ada orang yang sekadar lewat, ada yang menetap, dan ada yang memberi dampak besar. Memahami peran masing-masing menjadi kunci untuk menjaga kesehatan hubungan.

Kita Adalah Siapa yang Kita Temui bukan hanya tentang membaca karakter orang lain. Ia adalah tentang kesadaran bahwa setiap interaksi membentuk kita, dan setiap pilihan relasi membawa konsekuensi.

Buku ini mungkin tidak sempurna secara struktur, tetapi cukup kuat sebagai alat refleksi. Ia mengingatkan bahwa sebelum menuntut orang lain berubah, kita perlu lebih dulu memahami diri sendiri.

Karena bisa jadi, masalah dalam hubungan bukan selalu tentang siapa yang kita temui. Melainkan tentang siapa diri kita ketika bertemu mereka.

Identitas Buku

  • Judul: Kita Adalah Siapa yang Kita Temui 
  • Penulis: You Yeongmahn
  • Penerbit: TransMedia Pustaka 
  • Tahun Terbit: 2021
  • ISBN: 978-623-7100-57-7
  • Tebal:  272 halaman
  • Genre: Pengembangan Diri