Buku Waras di Zaman Edan karya Prie GS memang bukan buku baru, namun masih relevan di era ini. Di saat banyak orang sibuk, terjebak rutinitas, atau bahkan larut dalam absurditas sosial, buku ini justru mengajak kita berhenti sejenak untuk kembali waras.
Dengan ketebalan sekitar 236 halaman, buku ini dibagi ke dalam sepuluh tahap kewarasan. Mulai dari “belum waras” hingga akhirnya mencapai “waras”. Pembagian ini bukan sekadar struktur, melainkan perjalanan batin. Seolah-olah pembaca diajak menelusuri tangga refleksi diri, dari kesadaran paling dasar hingga titik di mana seseorang mampu melihat hidup dengan jernih.
Isi Buku
Bagian pembuka buku ini sudah cukup menampar. Dalam pengantar bertajuk karena saya seorang penulis, Prie GS menunjukkan kedalaman refleksinya sekaligus gaya khasnya: santai, jujur, tetapi mengena. Dari sini, pembaca langsung bisa merasakan bahwa buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan potret cara berpikir seorang penutur yang terbiasa mengolah peristiwa menjadi makna.
Memasuki bagian “belum waras”, pembaca disuguhi berbagai tulisan pendek dengan tema yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Judul-judul seperti virus biasa, undangan iba, hingga tiga masa berebut kepala terasa sederhana, tetapi menyimpan kritik sosial yang tajam.
Salah satu gagasan menarik muncul dari konsep “virus biasa”. Bagaimana rutinitas dalam keluarga, jika dibiarkan tanpa kesadaran, bisa perlahan merusak nilai-nilai yang seharusnya dijaga.
Di sinilah kekuatan buku ini terasa. Prie GS tidak berbicara tentang hal-hal besar dengan bahasa rumit. Ia justru mengangkat hal-hal kecil seperti tanaman yang perlu disiram, kebiasaan sehari-hari, bahkan kerupuk. Lalu penulis manganalogikannya menjadi refleksi yang dalam.
Dalam tulisan tentang kerupuk, misalnya, ia menggambarkan bagaimana sesuatu yang “ramai di mulut” belum tentu bernilai gizi. Sebuah metafora sederhana, tetapi relevan untuk banyak aspek kehidupan: sensasi sering kali menipu, sementara substansi justru diabaikan.
Kelebihan dan Kekurangan
Gaya penulisan Prie GS menjadi daya tarik utama. Sebagai seorang kartunis dan penutur radio, ia memiliki kepekaan dalam merangkai kata yang ringan namun tajam. Humornya tidak dibuat-buat. Tidak ada “haha” atau “hehe” dalam teks, tetapi pembaca bisa tersenyum. Kadang karena merasa terhibur, kadang karena merasa tersindir.
Buku ini juga terasa seperti percakapan. Membacanya seperti mendengar seseorang bercerita di radio. Mengalir, akrab, dan penuh jeda reflektif. Tidak heran jika banyak pembaca yang merasa pengalaman membaca buku ini serupa dengan mendengarkan siaran reflektifnya di radio.
Namun, struktur buku yang berupa kumpulan artikel pendek juga menjadi tantangan tersendiri. Tema yang berpindah-pindah bisa terasa “melompat” bagi sebagian pembaca. Meski ada benang merah tentang kewarasan, transisi antar tulisan tidak selalu terasa mulus.
Selain itu, bagi pembaca yang lebih menyukai narasi panjang seperti novel, buku ini mungkin terasa kurang “mengikat”.
Kekurangan lain yang cukup terasa adalah absennya ilustrasi, padahal latar belakang penulis sebagai kartunis membuka peluang besar untuk memperkaya visual buku ini. Kehadiran ilustrasi mungkin bisa membuat pengalaman membaca menjadi lebih hidup.
Pesan Moral
Meski begitu, nilai utama buku ini tetap kuat: mengajak pembaca untuk tetap waras di tengah “zaman edan”. Dalam realitas sosial yang penuh kontradiksi. Korupsi, krisis moral, hingga absurditas perilaku manusia. Prie GS tidak mengajak kita ikut larut dalam kegilaan. Ia justru menawarkan alternatif: tetap sadar, tetap reflektif, dan sesekali menertawakan diri sendiri.
Waras di Zaman Edan mengajak pembaca untuk lebih peka terhadap hal-hal kecil, lebih jujur pada diri sendiri, dan lebih bijak dalam menyikapi hidup.
Karena mungkin, di zaman yang terasa semakin “edan”, kemampuan untuk tetap waras dan tertawa adalah bentuk kecerdasan yang paling sederhana, sekaligus paling sulit dimiliki.
Identitas Buku
- Judul: Waras di Zaman Edan
- Penulis: Prie GS
- Penerbit: Bentang Pustaka
- Tahun Terbit: 2013
- ISBN: 978-602-7888-10-4
- Tebal: xiii + 236 halaman
- Genre: Non-fiksi, Self-improvement
Baca Juga
-
Sekolah Mahal vs Sekolah Biasa: Kita Sebenarnya Tahu Bedanya
-
Menapak Jejak Islam di Eropa: Membaca Ulang 99 Cahaya di Langit Eropa
-
Setiap Proses Harus Kita Nikmati: Membaca Remember Me & I Will Remember You
-
Kitab Firasat: Warisan Intelektual 1150 M dan Rasionalitas Modern Hari Ini
-
Dipaksa Cukup untuk Segala Hal, Ironi Pendidikan Masyarakat Menengah
Artikel Terkait
Ulasan
-
Kupeluk Kamu Selamanya: Sebuah Refleksi Kasih Tanpa Batas, Ruang, dan Waktu
-
Menapak Jejak Islam di Eropa: Membaca Ulang 99 Cahaya di Langit Eropa
-
Mengulik Amanat dalam Novel Bukan Semillah: Jejak Hidayah di Meja Judi
-
Pertikaian dan Konflik Kian Menyaru dalam Anime Diabolik Lovers: More Blood
-
Setiap Proses Harus Kita Nikmati: Membaca Remember Me & I Will Remember You
Terkini
-
Seunghoon CIX Umumkan Pensiun dari Dunia Musik, Tutup Perjalanan 7 Tahun
-
Mnet Luncurkan Girls Planet 2 pada 2027, Siap Cetak Girl Group Global Baru
-
Manga Blue Box Tembus 10 Juta Kopi, Season 2 Anime Siap Tayang Oktober
-
4 Serum Retinol dan Hyaluronic Acid untuk Lawan Penuaan tanpa Kulit Iritasi
-
Sekolah Mahal vs Sekolah Biasa: Kita Sebenarnya Tahu Bedanya