Lintang Siltya Utami | Ukhro Wiyah
Karma (IMDb)
Ukhro Wiyah

Karma berbeda dari drama thriller yang biasa saya tonton selama ini. Untuk memahami alurnya, saya bahkan perlu menonton beberapa kali sambil membaca artikel-artikel terkait drama Korea ini. Dan sepertinya, bukan saya saja yang merasakan kebingungan tersebut, karena cukup banyak penonton lain yang mengaku mengalami hal serupa di media sosial.

Sinopsis Drama Karma

Secara garis besar, drama ini bercerita tentang beberapa orang yang hidupnya terhubung dengan seorang dokter bernama Lee Ju-yeon (Shin Min-ah). Saat masih duduk di bangku SMA, Ju-yeon pernah mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh beberapa siswa lelaki di sekolahnya. Peristiwa tersebut meninggalkan trauma mendalam yang terus menghantuinya hingga dewasa.

Kemudian, ada Park Jae-yeong (Lee Hee-joon), seorang buruh pabrik yang terlilit hutang akibat investasi yang gagal. Dalam kondisi terdesak karena dikejar rentenir, Jae-yeong menemukan polis asuransi jiwa milik ayahnya. Dari sanalah muncul keputusan berbahaya yang mengubah segalanya: ia menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa sang ayah.

Namun, situasi justru semakin kacau ketika jasad ayah Jae-yeong ditemukan dalam kondisi yang jauh berbeda dari rencana yang telah ia susun. Hal itu tanpa sadar membuatnya terlibat dengan orang-orang lain yang juga menyimpan rahasia masing-masing.

Semua tokoh dalam drama ini pada awalnya terlihat seperti berdiri di jalur cerita yang berbeda. Namun perlahan, satu per satu benang merah mulai terlihat dan menghubungkan mereka dalam lingkaran takdir yang rumit.

Ulasan Drama Karma

Pertama kali menonton drama ini, sejujurnya saya bahkan tidak berhasil menyelesaikannya sampai episode terakhir. Bagian awal yang terasa cukup lambat sempat mengundang kantuk hingga saya tertidur. Namun karena masih penasaran dengan keseluruhan ceritanya, saya akhirnya mengulang menonton beberapa kali demi memahami detail alur dan hubungan antarkarakternya.

Premis drama ini memang menyebutkan bahwa kisahnya berfokus pada Ju-yeon. Tetapi hingga episode pertama berakhir, saya belum juga melihat Shin Min-ah muncul. Awalnya hal ini terasa cukup membingungkan. Ditambah lagi, Karma menggunakan alur maju-mundur, sehingga penonton dituntut untuk benar-benar fokus sejak awal.

Di dua episode pertama, saya merasa drama ini hanya menampilkan potongan-potongan kisah dari beberapa orang yang tidak saling berkaitan. Namun semakin jauh menonton, potongan-potongan tersebut justru terasa seperti puzzle yang perlahan membentuk satu benang merah besar.

Karma bukan tipe drama thriller yang hanya mengandalkan adegan kekerasan. Drama ini juga memainkan ketegangan psikologis yang cukup intens. Sejak episode pertama, saya dibuat terus bertanya-tanya mengenai hubungan setiap karakter dan rahasia apa lagi yang belum diungkap. Atmosfer cerita yang suram dengan dominasi visual gelap semakin menambah kesan ngeri sekaligus menghidupkan ketegangan.

Sementara dari sisi karakter, tokoh-tokoh dalam drama ini tidak ada yang benar-benar “bersih”. Mereka memiliki sisi egois, ketakutan, serta keputusan-keputusan yang merugikan orang lain. Karena itu, sebagai penonton saya tidak benar-benar bisa memihak siapa pun. Tidak ada karakter yang sepenuhnya layak dibela, tetapi juga tidak ada yang bisa langsung dibenci tanpa memahami luka mereka.

Akting para pemain tak perlu diragukan lagi. Drama ini berhasil menggaet aktor dan aktris terkenal, mulai dari Park Hae-soo, Lee Hee-joon, Lee Kwang-soo, Kim Sung-kyun, Shin Min-ah, Gong Seung-yeon, hingga Kim Nam-gil. Ekspresi mereka yang menggambarkan penekanan emosi yang ditahan membuat rasa takut, panik, dan putus asa terasa lebih nyata. 

Secara keseluruhan, para pemeran utama dalam drama ini akhirnya memang saling berkaitan. Setiap adegan yang mereka lakukan pun memiliki benang merah yang bahkan mungkin tidak pernah kita duga sebelumnya. Bahkan Kim Nam-gil yang merupakan pemeran pendukung ternyata juga memiliki peran penting yang cukup mengejutkan. Hanya saja, setelah menonton sampai akhir, saya merasa peran polisi di sini hanya sebagai pelengkap dan kurang memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan alur cerita.

Meski demikian, saya melihat kekurangan tersebut justru menguatkan pesan utama yang disampaikan dalam drama. Yaitu bahwa tidak semua hukuman datang dalam bentuk penjara atau vonis resmi. Ada kalanya hukuman itu hadir sebagai ketakutan yang terus mengikuti, kecemasan yang tidak selesai, dan hidup yang perlahan runtuh karena rahasia yang dipendam terlalu lama.

Drama ini seperti mengingatkan bahwa satu keputusan buruk mungkin memang terlihat kecil saat dilakukan, tetapi kita tidak pernah tahu seberapa panjang bayangannya di masa depan. Karma juga menunjukkan bahwa manusia bisa saja lari dari tempat kejadian, lari dari orang-orang yang mengetahui kebenaran, bahkan lari dari hukum. Tetapi tidak ada orang yang mampu lari dari dirinya sendiri.

Jika Sobat Yoursay menyukai drama crime-thriller dengan alur penuh teka-teki, karakter abu-abu, dan nuansa gelap yang membuat pikiran ikut bekerja, menurut saya wajib banget nonton Karma. Namun, saya perlu mengingatkan bahwa adegan kekerasan dalam drama ini digambarkan dengan cukup intens dan eksplisit, sehingga beberapa orang mungkin akan merasa kurang nyaman saat menontonnya.