Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Ilustrasi Hukum dan Keadilan (Unsplash/Tingey Injury Law Firm)
Oktavia Ningrum

Kasus yang menimpa Feni Ere (28) menyisakan duka sekaligus pertanyaan besar tentang bagaimana sebuah laporan orang hilang semestinya ditangani. Tengkorak yang ditemukan di Palopo dipastikan merupakan jasad Feni, yang sebelumnya telah dilaporkan hilang oleh keluarganya.

Yang membuat publik semakin terpukul bukan hanya akhir tragis tersebut, tetapi juga pengakuan keluarga bahwa laporan kehilangan sejak 18 Januari tidak mendapat penanganan serius dan baru kembali menjadi perhatian setelah penemuan tengkorak itu viral.

Tentu, seluruh proses dan dugaan terkait penanganan kasus ini perlu menunggu hasil penyelidikan dan penjelasan resmi dari aparat. Namun, terlepas dari bagaimana fakta akhirnya terungkap, ada satu pelajaran penting yang layak menjadi bahan renungan: setiap laporan dugaan tindak kejahatan seharusnya diperlakukan sebagai sesuatu yang mendesak.

Dalam setiap kasus kejahatan, ada tingkatan penderitaan yang berbeda. Pelaku penculikan telah merampas rasa aman seseorang. Pelaku pembunuhan telah merampas hak paling mendasar, yaitu kehidupan. Namun ada satu hal lain yang tak kalah berbahaya, yakni ketika sinyal bahaya tidak segera ditanggapi. Keterlambatan merespons laporan dapat mempersempit peluang penyelamatan korban, menghilangkan jejak penting, bahkan mempersulit proses pengungkapan perkara.

Karena itu, penanganan laporan masyarakat bukan sekadar urusan administratif. Ia adalah bagian dari sistem perlindungan warga negara.

Dalam ilmu kriminalitas dikenal istilah golden hours, yaitu periode awal yang sangat menentukan keberhasilan pencarian korban maupun pengumpulan barang bukti. Semakin cepat aparat bergerak, semakin besar kemungkinan menemukan petunjuk, saksi, rekaman kamera pengawas, hingga jejak digital yang masih utuh. Sebaliknya, semakin lama waktu berlalu, semakin banyak bukti yang hilang dan semakin sulit perkara diungkap.

Itulah sebabnya laporan orang hilang tidak seharusnya dipandang sebagai persoalan sepele atau sekadar kemungkinan seseorang pergi tanpa kabar. Memang benar, tidak semua laporan orang hilang berujung pada tindak pidana. Ada yang pergi atas kemauan sendiri, ada pula yang akhirnya kembali dengan selamat. Namun justru karena kita tidak mengetahui penyebabnya sejak awal, setiap laporan layak memperoleh perhatian dan penilaian risiko secara profesional.

Kasus-kasus seperti ini juga mengingatkan bahwa kepercayaan publik terhadap penegak hukum dibangun melalui respons yang cepat, empati kepada keluarga korban, dan kesungguhan dalam menangani setiap aduan. Masyarakat tidak berharap semua kasus dapat diselesaikan dalam waktu singkat, tetapi mereka berhak berharap bahwa setiap laporan ditindaklanjuti dengan serius, bukan menunggu sampai menjadi sorotan publik.

Di sisi lain, tragedi ini juga menjadi pengingat tentang sisi gelap kemanusiaan. Ada orang yang memilih mencelakai sesamanya demi kepentingan atau dorongan tertentu. Kejahatan selalu meninggalkan luka yang panjang, bukan hanya bagi korban, tetapi juga keluarga yang harus hidup dalam ketidakpastian, harapan, dan akhirnya kenyataan yang menyakitkan.

Setiap orang memiliki tanggung jawab moral untuk tidak menjadi bagian dari mata rantai kejahatan. Jangan menjadi pelaku yang merampas kehidupan orang lain. Jangan menjadi orang yang menutupi atau membantu kejahatan. Dan bagi siapa pun yang memegang amanah melindungi masyarakat, jangan pernah menganggap remeh laporan yang datang dari warga.

Sebab di balik satu laporan kehilangan, ada keluarga yang sedang cemas. Di balik satu panggilan bantuan, ada kemungkinan nyawa yang masih bisa diselamatkan. Respons yang cepat mungkin tidak selalu mengubah akhir sebuah peristiwa, tetapi kelambanan dapat menghilangkan kesempatan yang tidak akan pernah datang dua kali.

Kejahatan memang bermula dari pilihan pelaku. Namun masyarakat yang aman hanya dapat terwujud ketika setiap orang memilih untuk berpihak pada kemanusiaan. Tidak menyakiti, tidak membiarkan, dan tidak mengabaikan jeritan minta tolong yang datang tepat di depan mata.