“Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja.”
Jujur saja, ungkapan itu berhasil membuat saya emosi saat mendengarnya. Memang, kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi sebagian orang, ucapan tersebut terasa seperti bentuk meremehkan suara anak muda yang sedang menyampaikan ketidaknyamanan mereka.
Belakangan ini, publik ramai membahas ucapan seorang MC dalam ajang perlombaan yang dinilai meremehkan peserta. Persoalannya bukan lagi sekadar tentang lomba atau keputusan juri, melainkan tentang bagaimana kritik dan perasaan seseorang bisa dipatahkan hanya dengan satu kalimat sederhana.
Dan ironisnya, hal seperti ini bukan pertama kali terjadi. Tidak sedikit anak muda yang mengalami hal serupa. Saat menyampaikan keberatan, mereka dianggap terlalu sensitif. Saat merasa tidak nyaman, malah diminta memahami keadaan. Pada akhirnya, anak muda dibuat merasa bahwa persoalannya bukan pada perlakuan yang mereka terima, melainkan pada perasaan mereka sendiri.
Meskipun negara kita tidak mengenal kasta, tetapi dalam beberapa lingkup kita masih menemukan budaya senioritas. Ini bukan hanya terjadi di lingkungan kerja, melainkan juga di lingkungan pendidikan. Orang yang berada di posisi lebih tinggi sering kali lebih mudah mengendalikan narasi. Ucapan figur yang memiliki otoritas kerap dianggap paling benar. Sementara anak muda membutuhkan perjuangan lebih keras agar suaranya bisa didengarkan.
Hierarki seperti ini nyatanya masih banyak ditemukan dalam masyarakat kita. Bahkan masih banyak orang yang mengecilkan suara anak muda karena dianggap belum banyak makan asam garam kehidupan dibandingkan generasi yang lebih tua.
Pembungkaman tidak selalu dilakukan dengan bentakan ataupun kekerasan. Terkadang, hal itu hadir lewat kalimat yang terdengar halus, seperti: “cuma perasaan saja”, “jangan terlalu sensitif”, atau “dimaklumi saja, ya.” Kalimat-kalimat tersebut memang terdengar sederhana. Tetapi ketika diucapkan dalam situasi yang kurang tepat, bisa menjadi sangat menyakitkan bagi lawan bicaranya.
Selain menyakiti, kalimat semacam itu juga berdampak besar. Orang yang sering menerima respons serupa akan menjadi sulit mengungkapkan perasaannya sendiri. Pada akhirnya, mereka lebih memilih memendam semuanya dan enggan berbicara kepada siapa pun.
Sebab kedewasaan seseorang tidak terlihat dari seberapa kuat ia mempertahankan otoritas, melainkan dari kesediaannya mendengar sudut pandang yang berbeda. Menerima kritik tidak akan membuat seseorang kehilangan wibawanya. Sikap terbuka, bersedia meminta maaf dengan tulus, lalu mengevaluasi diri justru menunjukkan kedewasaan dalam menghadapi persoalan.
Di titik ini, kita perlu mengingat kembali bahwa setiap perasaan manusia valid untuk dirasakan. Perasaan tidak nyaman terhadap sesuatu tidak selalu berarti berlebihan. Setiap orang berhak menyampaikan keberatan saat menemukan sesuatu yang dianggap kurang tepat. Kritik seharusnya dijawab dengan dialog, bukan malah dipatahkan dengan kalimat yang menyakitkan.
Anak muda mungkin memang belum memiliki banyak pengalaman dibandingkan generasi yang lebih tua. Namun, bukan berarti suara mereka pantas diremehkan begitu saja. Sebab sering kali, keberanian untuk menyampaikan rasa tidak nyaman justru lahir dari kejujuran dan kepedulian terhadap sesuatu yang dianggap kurang tepat.
Jika setiap kritik terus dibalas dengan kalimat yang meremehkan, lama-kelamaan anak muda akan terbiasa diam dan memilih memendam pendapatnya sendiri. Padahal lingkungan yang sehat seharusnya tidak membuat seseorang takut berbicara, melainkan memberi ruang untuk saling mendengarkan tanpa menjatuhkan.
Sementara itu, dalam konteks perlombaan, juri memang memiliki kendali atas keputusan akhir. Namun, ketika muncul keberatan atau kritik dari peserta maupun penonton, mendengarkan masukan dan melakukan evaluasi bukanlah sesuatu yang memalukan. Justru sikap terbuka terhadap kritik menunjukkan bahwa sebuah keputusan dibuat dengan tanggung jawab, bukan semata-mata karena otoritas.
Baca Juga
-
Paylater dan Pinjol: Ketika Kemudahan Berubah Menjadi Ketergantungan
-
99+ di Keranjang, tapi Mengapa Kita Tetap Belanja dari Kolom Pencarian?
-
Yang Tampak Murah Belum Tentu Hemat: Dilema Belanja Kelas Menengah ke Bawah
-
Aksi Kocak Sang Mantan dan Suami Sah Melawan Penjahat di Film Husbands in Action
-
Review My Royal Nemesis: Drama Romcom dengan Chemistry yang Sulit Dilupakan
Artikel Terkait
-
LCC Empat Pilar dan 'Cuma Perasaan': Saat Siswa Menjadi Korban Gaslighting
-
Peserta LCC Empat Pilar MPR RI Diduga Diintimidasi Usai Protes Penilaian Juri
-
Buntut Ucapan 'Cuma Perasaan Adik-adik Saja', MC LCC Empat Pilar Kalbar Akhirnya Minta Maaf
-
MC Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI Kalbar Minta Maaf Usai Videonya Viral
-
Ketika Inflasi Membuat Anak Muda Hari Ini Kehilangan Gairah untuk Bermimpi
Kolom
-
Viral Dulu Baru Ditolong? Negara Tak Boleh Bekerja Berdasarkan Algoritma
-
Koneksi dan Loyalitas Jadi Jalan Pintas, Apa Kabar Meritokrasi?
-
Pria Jepang Jadi 'Pahlawan' di Stadion, Tapi 'Beban' di Rumah Tangga
-
Ironi Restoran Self-Service: Mau Praktisnya, Enggan Tanggung Jawabnya
-
Paylater dan Pinjol: Ketika Kemudahan Berubah Menjadi Ketergantungan
Terkini
-
4 Padu Paddan OOTD Sleek Minimalist ala Heo Nam Joon untuk Segala Momen!
-
Perdana Tayang, House of the Dragon S3 Raih 21,5 Juta Penonton dalam 3 Hari
-
Wajah Kusam dan Bruntusan? Coba 4 Exfoliating Face Wash Murah Cuma Rp30 Ribuan!
-
Paradoks Kekerasan dan Agama dalam Film In the Hand of Dante
-
Ulasan Film Jangan Buang Ibu: Menggugat Stigma Panti Jompo dan Makna Berbakti