Hayuning Ratri Hapsari | Dini Sukmaningtyas
Fenomena overeducation lulusan S1 (magnific)
Dini Sukmaningtyas

Gelar sarjana masih sering dianggap sebagai tiket menuju pekerjaan yang lebih baik. Setelah menghabiskan bertahun-tahun di bangku kuliah, seseorang tentu berharap bisa mendapatkan pekerjaan yang sepadan dengan pendidikan dan kompetensi yang dimilikinya.

Namun, harapan tersebut ternyata tidak selalu berjalan sesuai kenyataan. Laporan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) justru menunjukkan adanya fenomena overeducation yang cukup besar di Indonesia.

Fenomena overeducation merujuk pada kondisi ketika seseorang bekerja pada pekerjaan yang sebenarnya tidak membutuhkan tingkat pendidikan setinggi yang dimilikinya.

Berdasarkan laporan LPEM FEB UI dalam Labor Market Brief Volume 7 Nomor 7, terdapat sekitar 8,01 juta lulusan minimal S1 yang bekerja pada kelompok pekerjaan yang secara klasifikasi tidak membutuhkan pendidikan tinggi.

Angka ini tentu tidak bisa dianggap sekadar statistik. Di baliknya ada jutaan orang yang telah menempuh pendidikan tinggi, tetapi belum tentu mendapatkan ruang kerja yang sesuai dengan kompetensinya.

Sarjana Memang Bekerja, tetapi Kompetensinya Tak Terpakai

Menurut saya, masalah ini tidak bisa direduksi dengan anggapan bahwa lulusan S1 terlalu pilih-pilih pekerjaan. Sebaliknya, banyak sarjana bersedia masuk ke berbagai jenis pekerjaan karena kesempatan kerja yang sesuai dengan pendidikan mereka memang terbatas.

Seseorang mungkin punya kemampuan analisis, riset, mengolah data, atau keterampilan teknis dari bangku kuliah, tetapi pekerjaan yang dijalani hanya menggunakan sebagian kecil dari kemampuan tersebut. Jika terus berlangsung, pendidikan yang sudah ditempuh pun menjadi kurang dimanfaatkan.

Tidak semua lulusan S1 harus berakhir di pekerjaan yang sesuai dengan jurusannya. Namun, situasinya menjadi berbeda jika pekerjaan yang tersedia justru hanya membutuhkan sebagian kecil dari pengetahuan dan keterampilan yang telah mereka bangun selama kuliah.

Ketika Gelar Menjadi Syarat, Bukan Kebutuhan

Ada hal lain yang menurut saya tidak kalah penting, yaitu semakin banyaknya pekerjaan yang menjadikan gelar S1 sebagai syarat masuk. Padahal, tidak semua posisi membutuhkan pendidikan sarjana. Beberapa pekerjaan justru lebih banyak mengandalkan keterampilan praktis yang bisa diperoleh melalui pendidikan vokasi atau pelatihan.

Kondisi ini bisa membuat gelar semakin sering digunakan sebagai alat untuk menyaring pelamar, bukan karena pekerjaan tersebut benar-benar membutuhkan lulusan S1. Akibatnya, gelar yang seharusnya menunjukkan tingkat pendidikan tertentu perlahan berubah menjadi semacam tiket untuk mengikuti proses rekrutmen.

Dampaknya terasa di berbagai jenjang pendidikan. Lulusan SMK dan diploma harus bersaing dengan sarjana untuk pekerjaan yang sebenarnya tidak membutuhkan gelar S1. Sementara itu, para sarjana juga semakin banyak bersaing untuk mendapatkan pekerjaan yang benar-benar membutuhkan kemampuan mereka.

Oleh karena itu, menurut saya, masalah overeducation tidak cukup dijawab dengan meminta lulusan menambah keterampilan. Perusahaan juga perlu melihat kembali apakah gelar S1 memang dibutuhkan untuk suatu posisi atau hanya dijadikan syarat administratif.

Jangan Hanya Menambah Sarjana, Ciptakan Pekerjaannya

Fenomena overeducation juga menunjukkan bahwa tantangan pendidikan tinggi tidak berhenti di kampus. Memperluas akses kuliah memang penting, tetapi menambah jumlah mahasiswa dan lulusan seharusnya bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.

Jika jumlah sarjana tumbuh jauh lebih cepat daripada pekerjaan yang membutuhkan tenaga berpendidikan tinggi, persaingan akan semakin berat.

Lulusan yang tidak mendapatkan posisi sesuai kompetensinya akhirnya bisa mengambil pekerjaan dengan tuntutan pendidikan yang lebih rendah. Mereka memang tetap masuk ke dunia kerja, tetapi pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama bertahun-tahun belum tentu benar-benar digunakan.

Lagi pula, jumlah sarjana saja tidak cukup untuk menciptakan lebih banyak pekerjaan profesional. Harus ada pertumbuhan di sektor industri, jasa, investasi, teknologi, dan bidang ekonomi lainnya agar lulusan perguruan tinggi memiliki lebih banyak pilihan pekerjaan yang sesuai.

Sarjana tidak bisa terus diminta meningkatkan pendidikan, keterampilan, dan kompetensi jika pasar kerjanya tidak ikut berkembang. Percuma mencetak lebih banyak tenaga terdidik jika ekonomi hanya menyediakan lebih banyak kursi untuk pekerjaan yang tidak membutuhkan mereka.