Lintang Siltya Utami | Ryan Farizzal
Poster film Tarung Sarung (IMDb)
Ryan Farizzal

Tarung Sarung (2020) merupakan film drama laga Indonesia yang disutradarai oleh Archie Hekagery dengan Bani Marhaen sebagai co-director. Diproduksi oleh Starvision Plus, film ini dibintangi Panji Zoni sebagai Deni Ruso, Yayan Ruhian sebagai Pak Khalid, Maizura sebagai Tenri, serta Cemal Faruk sebagai Sanrego. Berdurasi sekitar 115 menit, karya ini mengangkat tradisi bela diri khas Sulawesi Selatan, khususnya sigajang laleng lipa atau tarung sarung, yaitu pertarungan satu lawan satu di dalam satu sarung untuk mempertahankan harga diri.

Film ini awalnya dijadwalkan tayang di bioskop pada April 2020, namun tertunda akibat pandemi. Penayangan perdana kemudian dilakukan secara eksklusif di Netflix pada 31 Desember 2020. Saat ini, Tarung Sarung tersedia untuk streaming di platform Vidio sejak 8 Januari 2026. Penonton dapat menontonnya melalui layanan berlangganan Vidio.

Perjuangan Jiwa dalam Lilitan Tenun Tradisional

Salah satu adegan di film Sarung Tarung (IMDb)

Sinopsis ringkas menempatkan Deni Ruso, putra tunggal pemilik perusahaan properti besar Ruso Corp, sebagai tokoh utama. Ia digambarkan sebagai pemuda manja, arrogan, dan materialistis yang kehilangan kepercayaannya kepada Tuhan karena terbiasa menyelesaikan segala persoalan dengan uang. Ibunya mengirimnya ke Makassar untuk mengurus bisnis keluarga sekaligus memperbaiki sikapnya.

Di sana, Deni bertemu Tenri, seorang aktivis lingkungan yang menentang proyek perusahaan yang dianggap merusak pantai setempat. Deni menyembunyikan identitasnya demi mendekati Tenri. Konflik muncul ketika Sanrego, juara tarung sarung setempat yang juga mengincar Tenri, menantang Deni. Setelah mengalami kekalahan dan penghinaan, Deni belajar tarung sarung serta nilai-nilai keimanan dari Pak Khalid, seorang penjaga masjid yang ahli bela diri.

Narasi film ini kurasa sama dengan The Karate Kid karena struktur mentor-murid, pelatihan intensif, dan pertandingan puncak. Akan tetapi, Tarung Sarung menambahkan nuansa lokal yang kuat: bahasa Makassar dan Bugis, pemandangan Sulawesi Selatan yang indah, tradisi mappalette bola (gotong rumah), serta isu sosial seperti kerusakan lingkungan akibat pembangunan. Pesan moral yang menonjol meliputi pentingnya keikhlasan, tanggung jawab, penghormatan terhadap budaya, dan kembali kepada Tuhan. Adegan-adegan dialog antara Deni dan Pak Khalid menyampaikan ajaran tentang iman, shalat, dan ketergantungan manusia kepada Allah.

Ulasan Film Tarung Sarung

Salah satu adegan di film Tarung Sarung (IMDb)

Dari segi penampilan, Yayan Ruhian memberikan kontribusi paling kuat. Pengalamannya sebagai aktor laga membuat gerakan dan kehadirannya meyakinkan, bahkan dalam ruang terbatas. Panji Zoni sebagai pendatang baru cukup mampu menggambarkan transformasi Deni dari sosok manja menjadi pribadi yang lebih dewasa, meskipun beberapa pengamat menilai aktingnya masih kaku di bagian awal. Maizura tampil natural sebagai Tenri yang tegas dan berprinsip, sementara Cemal Faruk menghadirkan Sanrego sebagai antagonis yang mewakili nilai siri’ (harga diri) Bugis-Makassar. Unsur komedi hadir melalui duo Tutu dan Gogos, meski tidak selalu berhasil memikatku, sih.

Adegan paling emosional terjadi dalam rangkaian pelatihan Deni di bawah bimbingan Pak Khalid. Di situ, mentor tidak hanya mengajarkan teknik bertarung, tetapi juga mengajak Deni merenungkan makna keikhlasan dan ketergantungan kepada Tuhan. Momen ketika Deni mulai menerima bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari uang atau kekerasan semata, melainkan dari keyakinan dan ketulusan, terasa menyentuh.

Dialog-dialog singkat tentang “Tuhan tidak membutuhkan manusia, tetapi manusia yang membutuhkan-Nya” serta penekanan pada ikhlas di puncak cerita memberikan kedalaman spiritual yang jarang ditemukan dalam film laga Indonesia. Transformasi batin Deni, ditandai dengan penyesalan atas sikapnya di masa lalu dan pengakuan atas kesalahan terhadap lingkungan serta orang-orang di sekitarnya, menjadi puncak emosional yang menggerakkan.

Sementara itu, adegan aksi paling seru berlangsung pada pertandingan final turnamen tarung sarung antara Deni dan Sanrego. Kedua petarung masuk ke dalam satu sarung, ruang gerak sangat terbatas, sehingga setiap pukulan, tendangan, dan manuver memerlukan ketepatan serta pengendalian diri yang tinggi.

Koreografi yang melibatkan Yayan Ruhian di adegan-adegan sebelumnya, termasuk pertarungan di dalam angkutan umum yang sempit, juga memukau karena menampilkan teknik yang realistis dan penuh tekanan. Klimaks final tidak sekadar pertunjukan fisik; ia menjadi perayaan nilai spiritual di mana Deni mengandalkan keyakinan baru yang dipelajarinya. Ketegangan meningkat ketika Deni sempat terdesak, lalu bangkit dengan semangat yang berbeda.

Secara keseluruhan, Tarung Sarung menawarkan hiburan laga yang dipadukan dengan pengenalan budaya Sulawesi Selatan dan pesan moral yang relevan. Kekuatannya terletak pada visual lokasi yang menawan, kehadiran Yayan Ruhian, serta upaya menyampaikan nilai keimanan dan pelestarian lingkungan. Kelemahannya meliputi panjang durasi yang terasa berlarut di beberapa bagian, perkembangan karakter utama yang agak terburu-buru, serta unsur komedi yang tidak selalu pas. Meskipun demikian, film ini berhasil menjadi jembatan antara tradisi lokal dan kisah pertumbuhan pribadi yang universal.

Bagi penonton yang mencari film Indonesia dengan perpaduan aksi, budaya, dan refleksi spiritual, Tarung Sarung layak disaksikan. Ketersediaannya di Vidio sejak Januari 2026 memudahkan akses bagi masyarakat luas untuk menikmati karya yang mengangkat kearifan lokal Bugis-Makassar secara cukup autentik. Film ini mengingatkan bahwa kekuatan sejati lahir dari kejujuran kepada diri sendiri, penghormatan terhadap sesama, dan ketundukan kepada yang Maha Kuasa. Rating pribadi: 7.8/10.