Lintang Siltya Utami | Fathorrozi ๐Ÿ–Š๏ธ
Ilustrasi lelah karena kerja sendirian (Pexels/Cottonbro Studio)
Fathorrozi ๐Ÿ–Š๏ธ

Jujur, saya mulai melihat ada yang keliru, bukan pada orang-orangnya, tetapi pada cara kita memaknai kepedulian itu sendiri. Saya mengalaminya secara langsung. Niat awal saya sangat sederhana, melihat sebuah organisasi yang berjalan seadanya, ada banyak hal yang tercecer, lalu muncul dorongan untuk membantu. Tidak ada ambisi jabatan, tidak ada agenda tersembunyi. Hanya keinginan agar sesuatu yang berpotensi itu tidak dibiarkan stagnan.

Saya mulai dari hal kecil. Saya ikut berdiskusi, memberi saran, membantu merapikan hal-hal yang tampak sepele namun krusial. Dari sana, keterlibatan saya perlahan melebar. Saya diminta masuk lebih dalam, diberi ruang untuk berperan, bahkan pada akhirnya dipercaya memegang kebijakan. Saya jalani dengan penuh tanggung jawab. Dan memang, perubahan itu terlihat, yang semula semrawut menjadi lebih tertata, yang sebelumnya berjalan tanpa arah mulai menemukan tujuan.

Namun di situlah ironi itu bermula. Alih-alih beban berkurang karena sistem mulai rapi, justru amanah baru terus berdatangan tanpa jeda. Seolah-olah, kemampuan adalah sinyal untuk menambah tugas. Seolah-olah, kepedulian adalah bukti bahwa seseorang selalu siap dipanggil kapan saja.

Tanpa disadari, saya ditempatkan dalam posisi yang tidak lagi proporsional, bukan karena saya meminta, tetapi karena sistem yang diam-diam menganggap itu wajar.

Di titik tertentu, saya mulai bertanya, apakah setiap bentuk kepedulian memang harus berujung pada penumpukan tanggung jawab? Apakah orang yang bergerak otomatis dianggap tidak memiliki batas waktu, tenaga, dan pikirannya?

Ini persoalan persepsi yang tampak sepele, tetapi dampaknya nyata. Ada kecenderungan dalam banyak organisasi, termasuk yang saya alami, untuk menganggap bahwa orang yang aktif adalah orang yang paling tersedia. Padahal, kenyataannya sering terbalik. Justru mereka yang aktif biasanya sedang mengatur banyak hal dalam hidupnya, tetapi tetap memilih peduli karena merasa itu penting.

Kepedulian bukanlah produk dari kelonggaran waktu. Namun, ia lahir dari kesadaran. Yang lebih menggelisahkan, saya melihat bagaimana sebuah jargon yang terdengar ideal justru menjadi jebakan. โ€œSiapa yang mengusulkan, maka dia yang bertanggung jawab.โ€ Sekilas, ini tampak seperti ajakan untuk bertanggung jawab atas ide. Tetapi dalam praktiknya, ia berubah menjadi mekanisme yang membebani secara sepihak.

Usulan yang seharusnya menjadi bahan bakar kolektif, justru berubah menjadi beban personal. Akibatnya sangat terasa dalam dinamika organisasi. Rapat-rapat yang semestinya hidup dengan pertukaran gagasan perlahan kehilangan energi. Orang-orang mulai menimbang sebelum berbicara, bukan karena gagasannya belum matang, tetapi karena takut harus menanggung semuanya sendiri.

Di sana saya melihat satu hal yang lebih berbahaya daripada ketidakteraturan, yakni matinya inisiatif. Bukan karena orang tidak mampu berpikir, melainkan karena sistem secara halus menghukum keberanian untuk bersuara. Diam menjadi pilihan rasional. Aman. Tidak berisiko. Dan ketika diam menjadi budaya, organisasi sesungguhnya sedang berjalan menuju stagnasi yang sunyi.

Saya kira, ini bukan semata soal pembagian kerja, tetapi soal keadilan dalam memaknai kontribusi. Ide adalah kontribusi intelektual. Ia tidak selalu harus diikuti dengan kewajiban operasional secara individu. Jika setiap ide langsung dikonversi menjadi tugas personal, maka yang kita bangun bukanlah budaya kolaborasi, melainkan budaya penghindaran.

Di sinilah menurut saya perlu ada keberanian untuk meluruskan.

Pertama, kita harus memisahkan secara tegas antara pengusul dan pelaksana. Sebuah ide, ketika disampaikan dalam forum bersama, sejatinya menjadi milik bersama. Ia harus dipertimbangkan secara kolektif, dijalankan dengan sistem, bukan dibebankan kepada satu orang hanya karena ia yang pertama kali mengucapkannya.

Kedua, pembagian tugas harus berpijak pada realitas. Pertimbangkan kapasitas, waktu, dan peran. Bukan sekadar siapa yang terlihat mampu. Karena kemampuan tanpa batasan hanya akan berujung pada kelelahan yang tak terlihat.

Ketiga, ruang diskusi harus dikembalikan menjadi ruang yang aman. Tempat di mana orang bisa berpikir keras, berbicara jujur, dan menyampaikan ide tanpa rasa khawatir akan dihukum dengan tambahan tanggung jawab yang tidak proporsional.

Dan yang tidak kalah penting, pimpinan harus memiliki kepekaan. Jangan sampai orang yang sudah memberi lebih justru terus diminta memberi tanpa henti, sementara yang lain berlindung dalam diam. Kepedulian itu seperti api, ia bisa menerangi, tetapi juga bisa padam jika terus-menerus dibebani tanpa batas.

Jika pola ini terus dibiarkan, konsekuensinya sederhana namun serius. Orang-orang yang benar-benar peduli akan mulai mundur, bukan karena mereka berhenti mencintai, tetapi karena mereka lelah. Mereka tidak pergi dengan suara keras, melainkan perlahan dalam diam.

Ketika itu terjadi, yang tersisa adalah mereka yang memilih aman dengan tidak berbuat apa-apa. Pada titik tersebut, kita tidak kehilangan orang, tapi kita kehilangan makna dari kepedulian itu sendiri.