Adakah Sobat Yoursay di sini yang hobinya me time dan suka pergi ke mana-mana sendirian?
Kalau saya sih, beberapa kali pernah melakukannya. Meski mungkin belum bisa dibilang hobi, tetapi memang lebih menikmati momen saat sendiri daripada bersama orang lain. Karena jujur, kalau sendirian itu rasanya saya bisa lebih bebas mau melakukan apa aja di tempat itu. Mau jalan ke mana pun nggak perlu ada adegan saling tunggu, mau jajan apa pun juga bebas, nggak perlu ngerasa nggak enak.
Namun, sejujurnya, saat lagi di taman atau masjid sendirian, saya sering merasa canggung. Untuk mengatasi kecanggungan itu akhirnya saya malah jadi orang yang kelihatan sok sibuk. Baca-baca buku, buka HP padahal tidak ada yang ingin dilihat, refresh media sosial berulang kali, atau tetap membuka laptop meski pekerjaan sebenarnya sudah selesai.
Hal serupa ternyata bukan hanya saya yang melakukannya. Terkadang saat berada di tempat umum, seperti kafe, stasiun, ruang tunggu, kampus, taman, atau tempat makan, semua orang tampak sibuk dengan HP, laptop, atau earphone masing-masing. Yeah, meskipun nggak kita nggak pernah tahu mereka benar-benar sibuk atau hanya sekadar menyibukkan diri saja.
Pertanyaannya: kenapa saat ada di tempat umum kita seolah takut terlihat seperti orang kesepian?
Menurut saya, ketakutan seperti ini cukup manusiawi. Apalagi jika selama ini kita hidup dengan menghadapi berbagai penilaian dari orang di sekitar. Akhirnya pada saat sendiri pun kita masih sering mengkhawatirkan penilaian orang lain. Entah itu khawatir dinilai tidak punya teman, canggung menjadi pusat perhatian, hingga takut dianggap “nganggur” atau tidak produktif. Sehingga banyak orang yang merasa selalu harus terlihat sedang melakukan sesuatu, terutama saat berada di ruang publik. Semua itu dilakukan demi membangun “citra produktif” di hadapan orang lain.
Padahal jika kita menengok sebentar ke suasana sekitar, semua orang sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Tidak seorang pun yang memperhatikan atau bahkan sempat menilai kita yang bukan siapa-siapa. Mungkin inilah yang perlu kita sadari ke depannya. Bahwa sebenarnya perhatian orang lain terhadap kita nggak sebesar yang kita bayangkan. Bisa jadi mereka melihat kita sekilas, tapi setelah itu sudah melupakannya. Bukankah kita sendiri juga sering seperti itu? Memperhatikan sesuatu sambil lalu dan dengan mudah melupakan hal itu.
Kembali lagi ke pembahasan awal. Me time atau menikmati waktu sendirian bukan berarti kesepian. Kita bisa melakukan apa pun yang kita inginkan tanpa merasa harus terlihat sibuk. Di waktu seperti ini justru kita bisa merenung dan merefleksikan hidup yang kita jalani selama ini.
Meskipun memahami semua itu, saya sendiri belum sepenuhnya bisa melakukannya. Hingga sekarang, ketika sendirian di tempat ramai, tangan saya masih sering refleks membuka HP seolah sedang membalas pesan seseorang. Kebiasaan itu muncul begitu saja, padahal sebenarnya nggak ada hal penting yang perlu saya lakukan.
Jika berada di tempat yang nggak begitu ramai, kadang saya bisa merenung dengan tenang. Tapi kalau di tempat yang cukup ramai, saya seolah terbawa arus kesibukan orang lain dan turut merasa harus melakukan sesuatu. Satu hal yang baru saya sadari akhir-akhir ini, ternyata menyibukkan diri demi menghindari kecanggungan seperti itu malah membuat saya kehilangan kesempatan untuk menikmati jeda dengan tenang.
Kalau kita pikirkan lagi, sebenarnya memang nggak ada yang salah dengan duduk diam sendirian. Nggak ada yang mengharuskan kita untuk selalu tampak sibuk agar terlihat “normal”. Sebab yang lebih kita butuhkan saat me time adalah memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk benar-benar beristirahat. Dan mungkin, salah satu bentuk kedewasaan adalah ketika kita bisa menikmati waktu sendirian tanpa merasa harus terlihat sibuk di hadapan siapa pun.
Baca Juga
-
Room No. 7: Saat Persoalan Finansial Mengikis Moral dan Empati Seseorang
-
Bikin Senyum-Senyum Sendiri tapi Berujung Luka, Ini 5 Drakor Romantis yang Susah Banget Dilupain!
-
Review The Childe: Film Aksi Menegangkan dengan Akhir yang Tak Terduga
-
Ulasan Film Hear Me: Our Summer: Saat Cinta dan Ketulusan Tak Hanya Butuh Suara
-
Foto Baru, Pakaian Baru: Haruskah Kita Selalu Tampil dengan Outfit Berbeda di Setiap Unggahan?
Artikel Terkait
-
Fear of Falling Behind dan Gen Z: Semua Orang Terlihat Sukses, Aku Kapan?
-
Ingin Hidup Lebih Tenang? Mulailah Menerapkan 'Micro Joy' Mulai Detik Ini
-
Benarkah Gen Z Memang Generasi yang Gampang Bosan?
-
Tren Finansial Gen Z: Cash Stuffing vs Dompet Digital, Pilih yang Mana?
-
Satu Pekerjaan Tak Lagi Cukup? Fenomena Hustle Culture di Kalangan Gen Z
Kolom
-
Ancaman Krisis Pangan 2027, tapi MBG Berisiko Membuang Jutaan Ton Makanan?
-
Sisi Gelap Host Live Streaming: Dapat Cuan Gede tapi Dieksploitasi?
-
PPN Pembalut Bukan Aturan Baru, Lantas Mengapa Baru Ramai Dipersoalkan?
-
Tanpa Upah, Haruskah Kita Biarkan Relawan Berjuang dengan Uang Sendiri?
-
Tren Bahasa Gado-Gado ala Gen Z: Akankah Bahasa Indonesia Terasing di Negeri Sendiri?
Terkini
-
Novel Uang Gawat Darurat: Ketika Niat Menabung Diserbu Kebutuhan Mendadak
-
Tembus Grand Final, 5 Tim Futsal Putri Maju ke Puncak AXIS Nation Cup 2026
-
Huawei FreeClip 2 Dual Color Rilis: TWS Unik dengan Desain Jepit Telinga dan Baterai Awet
-
Ulasan Designated Survivor 60 Days: Sanggupkah Orang Jujur Lawan Oligarki?
-
Perluas Cerita, The Remarried Empress Rilis Side Story dan Kisah Alternatif