Rendy Adrikni Sadikin | Fathorrozi 🖊️
Owner Hanania Travel, Ahmad Syah Farhan Rachman dan istri, Nisa Bahri.(Instagram/hananiagroup.id)
Fathorrozi 🖊️

Kasus dugaan penipuan dan penggelapan dana umrah oleh Hanania Group menjadi salah satu peristiwa yang menyentak nurani publik. Bukan hanya karena nilai kerugiannya yang fantastis, tetapi juga karena uang yang lenyap berasal dari tabungan ibadah calon pengguna jasa yang dikumpulkan dengan penuh kesabaran, pengorbanan, dan harapan untuk beribadah di Tanah Suci.

Seperti dilansir dari laman Suara.comRabu (3/6/2026), berdasarkan hasil penyidikan yang disampaikan Polda Metro Jaya, Direktur Utama PT Khazanah Tamma Internasional atau Hanania Group, Ahmad Syah Farhan, telah ditetapkan sebagai tersangka.

Polisi menyebut total kerugian yang dilaporkan mencapai sekitar Rp12,145 miliar dengan sedikitnya 128 calon jemaah menjadi korban. Lebih mengejutkan lagi, sebagian dana yang seharusnya digunakan untuk memberangkatkan jemaah diduga dialihkan untuk kepentingan lain, termasuk membayar influencer demi kebutuhan pemasaran dan promosi.

Fakta ini menghadirkan ironi yang sangat menyakitkan. Di satu sisi, para calon jemaah menabung selama bertahun-tahun. Ada yang menyisihkan gaji bulanan, hasil panen, keuntungan usaha kecil, bahkan uang pensiun demi mewujudkan impian beribadah ke Makkah dan Madinah. Namun di sisi lain, dana tersebut justru diduga digunakan untuk membangun citra dan popularitas sebuah perusahaan travel.

Kronologi kasus ini memperlihatkan bagaimana para korban telah melunasi biaya perjalanan dengan berbagai pilihan paket. Berdasarkan informasi yang terungkap dalam penyidikan, terdapat paket umrah dengan harga mulai sekitar Rp29 juta hingga Rp46 juta.

Para jemaah dijanjikan berangkat pada rentang Maret hingga Juli 2026. Namun ketika jadwal keberangkatan tiba, banyak jemaah tidak kunjung diberangkatkan dan pihak manajemen tidak mampu memberikan penjelasan memadai terkait penggunaan dana yang telah diterima.

Di tengah penyelidikan, muncul fakta baru yang semakin memperdalam luka para korban. Polisi mengungkap adanya dugaan penggunaan dana jemaah untuk membayar influencer sebagai bagian dari strategi marketing. Nama-nama yang disebut akan dimintai keterangan antara lain Keanu Agl, Awkarin, Dara Arafah, Sarah Gibson, serta sejumlah figur publik lain yang pernah terlibat dalam promosi Hanania Travel, seperti dikutip dari Suara.com, Selasa (2/6/2026).

Namun penting untuk ditegaskan bahwa hingga saat ini para influencer tersebut diperiksa atau berpotensi dimintai keterangan sebagai saksi untuk membantu proses penyelidikan. Tidak otomatis berarti mereka mengetahui adanya dugaan penyalahgunaan dana yang terjadi di internal perusahaan.

Meski demikian, kasus ini membuka diskusi penting mengenai batas tanggung jawab selebgram dan influencer dalam mempromosikan suatu produk atau jasa.

Menurut saya, seorang influencer tidak cukup hanya berperan sebagai "papan iklan berjalan" yang menerima bayaran lalu mengunggah promosi. Ketika yang dipromosikan adalah jasa yang menyangkut dana masyarakat dalam jumlah besar, terlebih lagi perjalanan ibadah, maka semestinya ada tanggung jawab moral untuk melakukan pemeriksaan dasar terhadap kredibilitas perusahaan yang dipromosikan.

Memang tidak adil jika seluruh kesalahan dibebankan kepada influencer. Tanggung jawab hukum utama tetap berada pada pihak yang mengelola dan menggunakan dana tersebut. Namun seorang figur publik yang memiliki jutaan pengikut juga tidak bisa sepenuhnya lepas tangan, karena pengaruh mereka sangat besar dalam membentuk kepercayaan masyarakat. Ketika seorang selebritas mempromosikan sebuah travel umrah, banyak orang merasa lebih yakin karena menganggap figur tersebut telah melakukan penilaian terlebih dahulu.

Karena itu, ke depan perlu ada standar etika yang lebih kuat. Influencer seharusnya lebih dulu mencari tahu, menyelidiki, lalu memastikan legalitas usaha, rekam jejak perusahaan, transparansi layanan, serta reputasi bisnis sebelum menerima kerja sama promosi.

Di sisi lain, saya juga memiliki pandangan bahwa bisnis travel yang benar-benar berkualitas sebenarnya tidak perlu menghabiskan banyak dana untuk menyewa selebgram atau artis ternama. Kepercayaan adalah modal utama dalam bisnis perjalanan ibadah. Pelayanan yang baik, keberangkatan yang tepat waktu, fasilitas yang sesuai janji, serta sikap amanah terhadap jemaah akan menjadi promosi paling efektif.

Pelanggan yang puas akan bercerita kepada keluarga, tetangga, sahabat, rekan kerja, dan komunitasnya. Promosi dari mulut ke mulut memiliki kekuatan yang jauh lebih autentik dibandingkan iklan mahal di media sosial. Reputasi yang dibangun melalui kepuasan pelanggan akan bertahan lebih lama daripada popularitas yang dibeli melalui endorsement.

Kasus Hanania Travel juga menjadi pengingat bahwa ibadah tidak boleh diperlakukan semata-mata sebagai komoditas bisnis. Di balik setiap setoran uang umrah terdapat doa, harapan, dan kerinduan seseorang kepada Tanah Suci. Ketika amanah itu disalahgunakan, yang rusak bukan hanya kondisi keuangan korban, melainkan juga kepercayaan dan ketenangan batin mereka.

Tragedi ini harusnya menjadi pelajaran bagi semua pihak, bahwa pemerintah perlu memperketat pengawasan, masyarakat harus lebih kritis sebelum memilih travel, influencer perlu lebih berhati-hati dalam menerima kerja sama promosi, dan pelaku usaha wajib menjunjung tinggi amanah.

Sebab uang yang raib mungkin masih bisa dicari kembali, tetapi kepercayaan yang hancur sering membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk dipulihkan. Juga tidak ada promosi semewah apa pun yang mampu menggantikan air mata para calon jemaah yang gagal memenuhi panggilan suci yang telah mereka nantikan selama bertahun-tahun.