Tindak kejahatan akhir-akhir ini begitu banyak terjadi. Bahkan kejahatan tersebut tidak hanya terjadi di satu wilayah saja tetapi mencakup negara-negara di dunia. Fakta terungkap Perserikatan Bangsa-bangsa menyatakan, estimasi kerugian akibat penipuan daring di Asia Pasifik bisa mencapai 114,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.041 triliun pada 2025. Perkiraan kerugian ini naik setidaknya tiga kali lipat daripada tahun 2023.
Bukan hanya itu, seiring transformasi kejahatan transnasional proses perekrutan sindikat penipuan di Asia Tenggara terus berlangsung. Di Indonesia, dua warga negara diduga kembali menjadi TPPO untuk dipekerjakan di Myanmar. Ada juga penyanderaan di Myanmar dengan tuntutan uang tebusan sebesar Rp200 juta.
Tidak Tergiur oleh Janji-Janji Manis
Kejahatan transnasional terjadi akibat banyaknya masyarakat yang tergiur oleh janji-janji manis dari oknum pelaku kejahatan. Dalam konteks ini, kita harus mewaspadai setiap ajakan maupun janji yang sering datang melalui media sosial maupun media-media lainnya tanpa kejelasan. Setiap orang harus mengutamakan mencari sebuah kebenaran maupun kejelasan terhadap setiap informasi yang ada.
Kejahatan transnasional seperti perdagangan orang terjadi karena ada kesempatan dan peluang yang diberikan. Banyak sekali para pencari kerja tergiur dengan ajakan bekerja sama dalam sebuah pekerjaan. Tidak mau untuk memilah dan memilih terlebih dahulu sebelum menerima pekerjaan tersebut.
Apa yang diarahkan langsung saja dituruti akhirnya terjerembab dalam sebuah kejahatan seperti penipuan yang merugikan puluhan, ratusan bahkan miliaran rupiah. Bukan itu saja, dijanjikan sebuah pekerjaan tetapi malah dijual ke oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Dijanjikan sebuah pekerjaan tetapi hanya dijadikan "sapi perah" oleh oknum yang tidak bertanggungjawab tersebut. Bahkan ada yang sampai dijual ke pria "hidung belang" atau ke dalam sarang prostitusi internasional.
Akhirnya, kita menjadi korban kejahatan oleh oknum tertentu dan merugikan diri sendiri akibat kurangnya mencari informasi secara valid dan karena kebutuhan hidup yang mendesak dan mahal.
Memilih Jalur Legal untuk Bekerja di Luar Negeri
Patut kita akui bersama bahwa banyak pencari kerja terjebak dalam penipuan online, penipuan kerja. Banyak sekali beredar korporasi yang ilegal dan menawarkan lowongan pekerjaan padahal itu fiktif. Kondisi inilah yang sangat membahayakan. Coba kita bayangkan bagaimana banyak perempuan yang dijual ke luar negeri karena ditawari pekerjaan.
Dari kondisi tersebut, menjadi perhatian serius semua orang agar mampu untuk mencegah dan menyosialisasikan lowongan pekerjaan yang valid dan terpercaya bagi pencari kerja. Kita harus dapat mencegah tenaga kerja Indonesia masuk jalur-jalur ilegal karena hal tersebut akan merugikan dan memberi dampak negatif dan merusak citra diri.
Sudah saatnya, lowongan pekerjaan itu dicari menggunakan situs-situs terpercaya baik dari pemerintah maupun swasta yang telah terverifikasi maupun teridentifikasi kebenarannya. Jangan sampai karena banyaknya pengangguran dan sulitnya mencari kerja membuat kita gampang untuk tertipu. Alangkah baiknya, akal pikiran dan sosialisasi terus digerakkan demi memberikan sebuah kepastian kerja yang baik.
Negara pun harus mampu menyediakan dan memberikan ruang-ruang kepada masyarakat untuk bekerja dan berpenghasilan. Kita juga harus bijak mengidentifikasi pemanfaatan artificial intelligence (AI) yang sering mengelabuhi kita. Setiap perdagangan ilegal harus segera distop dengan berbagai aksi penindakan demi menciptakan ruang aman dan nyaman bagi pencari kerja.
Selain itu, alangkah baiknya diberikan sebuah pelatihan bagi pekerja sebelum dikirim ke luar negeri agar setelah terjun ke dalam mampu beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan sistem kerja. Selain itu, mampu memberikan dampak positif dan keuntungan bagi perusahaan pemberi kerja. Kita harus terus berupaya agar kejahatan transnasional dapat diminimalisir dan dicegah merusak diri dan merugikan masyarakat itu sendiri.
Baca Juga
-
Udaranya Sudah di Tingkat Berbahaya, Korban ISPA di Kalimantan Tembus Ratusan Ribu Jiwa
-
Bencana dari Hal Sepele: Bahaya Buang Puntung Rokok Sembarangan di Musim Kemarau
-
Bukan Sekadar Menunggu: Pentingnya Doa dan Usaha Nyata dalam Menjemput Jodoh
-
Arogansi Pengendara dan Hilangnya Budaya Sabar: Saat Hak Pejalan Kaki di Jalan Raya Terabaikan
-
Spanyol Dominan, Portugal Mengandalkan Ronaldo: Siapa yang Bakal Menang?
Artikel Terkait
-
659.419 Rekening Terkait Penipuan Diblokir, Dana Korban Rp771,2 Miliar Diamankan
-
Modus TPPO Makin Canggih, Pemerintah Dorong Deteksi Korban Sejak Perekrutan
-
Bukan Cuma Hoaks, 7.908 Loker Luar Negeri Fiktif Jadi Ancaman di Ruang Digital
-
IASC Blokir Dana Terkait Scam Online Capai Rp724,1 Miliar
-
Satgas PASTI Ungkap 5 Modus Penipuan Online yang Paling Sering Merugikan Masyarakat
Kolom
-
Pajak SPP-TDLN Berlaku: Jangan Buat Konsumen Jadi Kambing Hitam
-
Menjadi Dewasa Tidak Sesederhana Itu: Realita Adulting Gen Z di Era Mahal
-
Nilai PISA Rendah, Mengapa Kita Masih Sibuk Mengganti Kurikulum?
-
Menjinakkan Akal Sehat: Mengapa Rocky Gerung Lembek di Era Prabowo?
-
Pendidikan Indonesia: Terlalu Banyak Program, Terlalu Sedikit Kemajuan
Terkini
-
4 Cleanser Vegan Andalan untuk Kulit Sensitif Tanpa Ketarik dan Iritasi
-
Loris Capirossi Dinobatkan jadi Legenda MotoGP di Misano, Apa Prestasinya?
-
Ulasan Kkondae Intern: Melihat Sisi Lain Budaya Senioritas di Dunia Kerja
-
Suanggi: Ilmu Kutukan, Suguhkan Perpaduan Drama Keluarga dan Mitos Mistik!
-
Bikin Bangga, 4 Film Indonesia Ini Masuk Lineup BIFF 2026, Ada Favoritmu?