“Pakeeet!!!”
Bagi Gen Z, teriakan semacam itu dari depan rumah sudah bukan hal baru lagi. Hampir setiap hari kurir datang mengantarkan pesanan—kadang orang yang sama dan kadang berbeda. Bahkan tak jarang, ada dua hingga tiga kurir berbeda yang meneriakkan kalimat serupa di depan rumah kami. Paket yang datang pun bermacam-macam. Mulai dari frozen food, kebutuhan sehari-hari, pakaian, skincare, hingga barang-barang yang awalnya hanya dibeli karena sedang diskon.
Kardus bekas perlahan menumpuk di sudut kamar. Awalnya satu, dua, tiga, dan lama-kelamaan jumlahnya terus bertambah hingga memenuhi pojok ruangan. Sekilas, tumpukan itu hanya serupa limbah dari belanja online yang dibiarkan selama beberapa waktu sebelum akhirnya dibuang. Namun, kalau kita pikirkan lebih jauh, semua itu sebenarnya menyimpan cerita tentang perubahan cara kita berbelanja di era digital.
Dulu sebelum kenal yang namanya e-commerce, jarang ada kardus bekas yang menumpuk di rumah. Orang-orang banyak membeli barang dari pasar tradisional atau toko-toko terdekat yang hanya menggunakan bungkus plastik seadanya. Belanja pun umumnya dilakukan ketika memang ada kebutuhan tertentu. Frekuensinya tidak sesering sekarang karena akses untuk membeli barang juga tidak semudah saat ini.
Kini, cara kita berbelanja jauh lebih beragam. Selain datang langsung ke toko, banyak orang memilih menggunakan e-commerce karena lebih praktis. Cukup membuka aplikasi, memilih barang, lalu menekan tombol checkout. Dalam beberapa hari, pesanan sudah tiba di depan rumah.
Kebiasaan belanja ini kemudian didukung juga dengan fitur e-commerce yang menyediakan flash sale, live shopping, gratis ongkir, hingga diskon besar-besaran di beberapa waktu tertentu. Pemandangan kurir membawa tumpukan paket di jalanan sudah tak asing lagi. Di beberapa rumah yang sama, mereka datang nyaris tiap hari. Kardus paket pun akhirnya seolah jadi bagian dari keseharian.
Namun, jika dicermati lebih jauh, tumpukan kardus tersebut tidak hanya menunjukkan seberapa sering kita berbelanja. Di baliknya, ada perubahan yang jauh lebih besar, yaitu cara kita memandang aktivitas belanja itu sendiri. Jika dulu belanja identik dengan memenuhi kebutuhan, kini aktivitas tersebut juga bisa menjadi hiburan, bentuk self-reward, mengikuti tren, atau sekadar memanfaatkan promo yang rasanya terlalu sayang untuk dilewatkan.
Tak berhenti di sana. Perubahan itu juga terlihat dari cara kita berbelanja. Jika sebelumnya, orang biasanya membuat daftar barang yang memang perlu dibeli sebelum pergi ke pasar atau toko. Kini prosesnya sering kali justru terbalik. Kita membuka aplikasi e-commerce tanpa tujuan tertentu, lalu algoritma, promo, atau live shopping memperkenalkan berbagai produk yang sebelumnya bahkan tidak terpikirkan untuk dibeli. Akhirnya, keputusan membeli bukan selalu lahir dari kebutuhan, melainkan karena adanya dorongan sesaat.
Bentuk dorongannya pun bermacam-macam. Bisa jadi karena sekadar takut ketinggalan tren, memanfaatkan flash sale, pengaruh review influencer, gratis ongkir, hingga demi memperoleh produk untuk dipromosikan sebagai affiliator. Tak jarang, belanja impulsif bisa pula berawal dari keisengan melihat live shopping untuk mengisi waktu luang.
Kardus bekas paket yang menumpuk di rumah kita akhirnya menjadi semacam jejak yang menyimpan cerita kebiasaan konsumsi. Bahkan terkadang yang ditumpuk itu bukan hanya kardus bekasnya, tetapi juga barang-barang yang dibeli. Barang yang dibeli bukan karena kebutuhan pun akhirnya hanya menumpuk di lemari tanpa banyak digunakan.
Meskipun demikian, tidak ada yang salah dengan kita menggunakan e-commerce untuk berbelanja. Keberadaan teknologi tersebut memang bertujuan untuk memberikan kemudahan. Di sisi lain, adanya promo diskon maupun gratis ongkir juga turut membantu banyak orang memenuhi kebutuhannya di tengah kondisi ekonomi yang semakin tidak pasti.
Namun, pada saat yang sama, kita pun perlu menyadari setiap pembelian yang kita lakukan benar-benar didorong oleh kebutuhan atau sekadar godaan emosi sesaat saja. Yang perlu kita perhatikan di sini bukan sekadar jumlah kardus bekas yang menumpuk di sudut ruangan, melainkan kebiasaan yang kita lakukan hingga meninggalkan jejak tersebut. Karena di balik setiap kardus yang masih tersimpan itu, ada keputusan kecil yang membentuk cara kita berbelanja. Dan semakin sering keputusan itu diambil tanpa dipikirkan, semakin mudah pula kebiasaan konsumtif tumbuh menjadi bagian dari keseharian.
Baca Juga
-
Drama A Bona Fide Killer: Pembunuh Legendaris yang Hidup Normal sebagai Ibu
-
Pepatah Lama Kini Dibantah Gen Z, Benarkah Nasihatnya Tak Lagi Relevan?
-
Lagu Mungkin di Depan Buram dan Harapan di Tengah Ketidakpastian Masa Depan
-
Begadang demi Pekerjaan: Benarkah Bekerja di Malam Hari Lebih Efektif?
-
Realita Perpisahan dalam Lagu Rutinitas yang Nggak Cuma Bikin Patah Hati
Artikel Terkait
Kolom
-
Konten Mindfulness Maudy Ayunda Dikritik Tone Deaf, di Mana Letak Masalahnya?
-
Kalau Namanya Makan Bergizi Gratis, Mana Jaminan Gizinya?
-
Saat Program Andalan Memakan Korban, Bukankah Presiden Seharusnya Geram?
-
Menkeu Boleh Berganti, Beban Anggaran MBG Tetap Menghantui
-
Kontroversi Uan Juicy Luicy: Mengapa Humor Misoginis Tak Boleh Dimaklumi
Terkini
-
Bukan Kisah Menyeramkan, Ini Keunikan Persahabatan di Buku The Skeleton and the Cat
-
Auto Glowing! 5 Rekomendasi Brightening Ampoule Pembasmi Noda Jerawat
-
Catat Tanggalnya! NCT Wish Siap Merilis Album Terbaru 'I SPY' Oktober Depan
-
Kisah Juni Bangun Fun English for Ladies, Bukti Nyata Semangat Women Support Women
-
Ulasan Novel Dompet Ayah, Sepatu Ibu: Catatan Perjuangan Karya J.S. Khairen